JANTE ARKIDAM
Panon beureum siki saga
Leungeunna seukeut lalancip gobang
Niplasan badan palapah gedang
Arkidam, Janté Arkidam
Di pangaduan di kalangan ronggéng
Ngan hiji jagoan
Arkidam, Janté Arkidam
Ti peuting angkeub ku mendung
Janté raja alam peteng
Matek aji panarawangan
Manjing ka liang sasoroting sinar
Jaruji beusi pakgadé miley ku ramona
Ti peuting ngadalinding wangi
Janté raja dina tayuban
Ngagakgak seuri ngibingan ronggéng
“Mantri Pulisi ngalieuk ka dieu !
Bantingkeun kartu Bantingkeun dadu !
Wadana, ulah nundutan di dinya!
Urang ngibing jeung kula – Janté Arkidam !”
Silih teuteup
Wadana jeung Mantri pulisi:
“Janté, Janté Arkidam!
Ngabongkar pak gadé peuting tadi
Ayeuna makalangan di nu tayuban!”
“Enya, kaula Janté Arkidam
Sing saha nu wani maju rék ditigas
Leungeunna kula lalancip pedang!”
Ngahéphép sapanglalajoan
Neuteup ka Janté nu matana ngembang wéra
“Ku naon neuteup ka kula?
Teruskeun ngibing, peuting nyérélék béak”
Ramé deui kalangan, ramé deui pangaduan
Janté masih ngibing nyolémpang saléndang
Nguyup arak sloki ka salapan likur
Waktu beurang datang, Janté ngagolér
Diburu ku Mantri pulisi :
“Janté, Janté Arkidam, Nusa Kambangan!”
Ngagisik hayang sidik
Janté mencrong mantri pulisi:
“Ki Mantri, tindakan andika léléwa bikang
Ngabokong jalma keur tibra!”
Arkidam ditalikung leungeunna dua
Sorot matana ngentab seuneuan
Saméméh béak poé kahiji
Janté minggat nitih cahya
Kaluar ti panjara
Saméméh cunduk peuting kahiji
Mantri pulisi nyungseb di dasar walungan
Teu nyawaan
“Saha nu jago nungtut béla?
Datang mun kaula nyaring!”
***
TANAH SUNDA
Kemana pun berjalan, terpandang
daerah ramah di sana
Kemana pun ngembara, kujumpa
manusia hati terbuka
mesra menerima.
‘Pabila pun berseru menggetar nyanyi
suara rindu bersenandung duka
‘Pabila pun bertemu, menggetar hati
sawang lepas terhampar luas
dunia hijau muda.
Riak sungai pagi-pagi
Angin keras menyibak rambut di dahi
Dan kulihat tanah penuh darah
tubuh beku terbaring kuyu
berseru pun sia-sia.
Ah, di mana pun ‘kau bukakan rangkuman
‘ku kan menetap di sana
Kapan pun kau lambaikan tangan
‘ku kan datang
menekankan jantung ke tanah hitam.
1956
***
MIMPI KITA SIANG HARI
I
Dalam terik sinar matahari
Kulihat kau melambai:
Bayang-bayangku ataukah aku sendiri
Yang kaupeluk dan kaubelai?
II
Kebun belakang rumah, kolam ikan
Anak-anak bermain, kau menyulam
Menjalin helai-helai peruntungan kita
Dengan benang cinta.
III
Dalam cahaya rembulan
Kau perlahan bersenandung
Meski terpisah gelombang lautan
Kudengar sansai suaramu murung
IV
Jalan lengang panjang,
Wahai!
Mengarah ke batik kelam,
Aduhai!
1969
***
KUCARI MUSIK
Kucari musik
Yang brisik
Yang berontak
Memberangsang
Kucari musik
Yang sejuk
Yang mengalun
Tenteram
Kucari musik. Setiap saat kucari musik.
Musik yang menggairahkan
Mengendap dalam hati.
Musik menyelinap dalam celah-celah waktu
Merasuk dalam jiwa
Mengusap luka-luka hidup yang nyeri
Dan menidurkan tangan-tangan durhaka yang lelah
Dalam pangkuanMu.
Maka kasihMu
mengalir abadi.
1968
***
HANYA DALAM PUISI
Dalam kereta api
Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky
Namun kata-katamu kudengar
Mengatasi derak-derik deresi.
Kulempar pandang ke luar:
Sawah-sawah dan gunung-gunung
Lalu sajak-sajak tumbuh
Dari setiap bulir peluh
Para petani yang terbungkuk sejak pagi
Melalui hari-hari keras dan sunyi.
Kutahu kau pun tahu:
Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi
Adam terlempar dari surga
Lalu kian kemari mencari Hawa.
Tidakkah telah menjadi takdir penyair
Mengetuk pintu demi pintu
Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati
Yang tak mau
Menyerah pada situasi?
Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar.
Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar.
Dalam kereta api
Kubaca puisi: turihan-turihan hati
Yang dengan jari-jari besi sang Waktu
Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur
Ke ruang mimpi yang kuatur
sia-sia.
Aku tahu.
Kau pun tahu. Dalam puisi
Semuanya jelas dan pasti.
1968
***
TRETES MALAMHARI
Di Tretes malamhari
Semuanya jadi mati:
Surabaya nun jauh di bawah
Gunung Wilis terpacak sebelah kiri
(Aku teringat akan leluri
Tentang Buta Locaya dan Plecing Kuning)
Apakah Waktu di sini berhenti
Mengendap dalam cahaya lampu pelabuhan
di tepi kaki langit?
Angin naik dari lembah.
Bayang-bayang daun bergoyang
Rumput-rumput pun berdesir.
Ataukah
Hanya hatiku bergetar?
Kucari kau.
Kucari di remang hijau.
Yang mengambang di muka kolam
Wajahmu ataukah bayangan bulan?
Lalu kututupkan jendela.
Malam lengang.
Malamku yang lengang.
1968
***
Ajip Rosidi, sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage. Ajip merupakan salah satu pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah). Ajip juga aktif menulis drama, cerita rakyat, cerita wayang, bacaan anak-anak, lelucon, memoar, serta menjadi editor beberapa bunga rampai.
Ajip menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi, Majalengka (1950). Lalu, melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953) dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956).
Ajip memang tak tamat SMA, tapi berkat hasil bacaan yang sangat luas dan karya-karyanya yang berlimpah, pada tahun 1967-1970, ia dipandang pantas untuk menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung. Kemudian pada 1981, berkat peranannya dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan, Ajip diangkat sebagai guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Sejak itu, ia juga ditugasi mengajar di Tenri Daigaku (1982-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996).
Pada usia 12 tahun, saat masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat, tulisan Ajip telah dimuat dalam ruang anak-anak di harian Indonesia Raya. Ketika SMP, Ajip bahkan sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Tulisan-tulisannya berbahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa, bahkan beberapa karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bunga rampai atau terbit sebagai buku, seperti dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perancis, Kroasia, Rusia, dll.
Ajip dikenal sebagai sosok yang mengharumkan budaya Sunda di kancah internasional. Ia aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit, seperti Yayasan Kebudayaan Rancag dan Pusat Studi Sunda.
Ajip Rosidi wafat pada Rabu, 29 Juli 2020.





