Rempah Tertua di Asia Tenggara Ada di Vietnam, Berusia 2.000 Tahun

alat penyiapan makanan kuno yang dilaporkan wang dan rekan rekan a d dan g adalah alas giling berkaki e dan f adalah potongann
Alat penyiapan makanan kuno yang dilaporkan Wang dan rekan-rekan. A-D dan G adalah alas giling berkaki. E dan F adalah potongannya. H, I, dan L adalah alu atau penumbuknya. J adalah mortar dan K adalah potongannya, (Foto: Wang et al).

ZONALITERASI.ID – Penggunaan rempah-rempah dalam bahan masakan (kari) telah digunakan di Asia Tenggara sejak 2.000 tahun yang lalu. Penelitian yang dilakukan Weiwei Wang dan rekan-rekan dalam jurnal Science Advances membuktikan, temuan itu merupakan rempah-rempah tertua di Asia Tenggara.

Mengutip jurnal Science Advances, Rabu, 18 Oktober 2023, para peneliti menemukan bukti rempah-rempah kuno ini dalam kompleks arkeologi Oc Eo di selatan Vietnam. Bukti kari tertua ini didapatkan dari delapan jenis rempah-rempah yang berasal dari sumber berbeda.

Studi ini merupakan studi pertama yang mengonfirmasi bahwa rempah-rempah merupakan komoditas berharga yang dipertukarkan dalam jaringan perdagangan global hampir 2.000 tahun yang lalu.

“Menariknya, ekspedisi laut mungkin digunakan untuk mendapatkan rempah-rempah ini,” sebut penelitian itu.

Ditemukan di Alat Penggiling Batu

Penelitian ini awalnya berfokus pada fungsi dari alat penggiling batu yang dikenal sebagai pesani. Alat ini kemungkinan digunakan oleh kerajaan kuno Funan untuk menggiling rempah-rempah menjadi bubuk.

Beberapa alat-alat penggilingan ini dieskavasi oleh tim peneliti mulai 2017 hingga 2019 dari situs Oc Eo.
Tim peneliti kemudian menggunakan teknik analisis butiran pati untuk menganalisis sisa-sisa mikroskopis yang ditemukan dari berbagai alat penggiling dan penumbuk kuno ini. Butiran pati adalah struktur kecil yang ditemukan dalam sel tumbuhan dan dapat bertahan cukup lama.

12 Jenis Rempah

Para peneliti kemudian menganalisis 40 alat penggiling dan penumbuk kuno yang mereka temukan. Mereka mendapatkan 12 jenis rempah-rempah yang berbeda, termasuk kunyit, jahe, kencur, temulawak, cengkeh, pala, dan kayu manis.

Itu berarti penduduk pada situs tersebut benar-benar menggunakan alat penggiling ini untuk memproses makanan, termasuk menggiling rimpang, biji, dan batang tanaman rempah-rempah sehingga memperkaya rasa.

Namun, rempah-rempah yang ditemukan dalam situs Oc Eo kemungkinan tidak semuanya tersedia secara alami di wilayah tersebut. Hal itu menyebabkan dibutuhkan ekspedisi khusus melalui Samudra Hindia dan Samudra Pasifik untuk mengumpulkan rempah-rempah ini.

“Ekspedisi untuk mengumpulkan bahan pembuat kari ini membuktikan kari memiliki sejarah panjang yang menarik di luar India. Tidak hanya itu, hal ini juga menunjukkan kari sangat diidamkan di berbagai tempat di dunia,” katanya.

Penanggalan terhadap situs dan alat memberikan peneliti 29 tanggal terpisah dari sampel arang dan kayu. Pada sampel arang yang diambil tepat di bawah batu penggiling terbesar yang berukuran 76 cm x 31 cm, tim peneliti menemukan alat ini berasal dari 207-326 M.

Tim peneliti lain, yang juga mempelajari situ Oc Eo, menggunakan teknik penanggalan termoluminesensi pada bata yang digunakan dalam arsitektur situs. Secara kolektif, hasil-hasil ini menunjukkan situs ini dihuni antara abad ke-1 hingga ke-8 M.

Resep Kari Kuno Tidak Berubah

Memasak kari membutuhkan waktu dan usaha yang cukup banyak, serta melibatkan berbagai rempah-rempah unik dan penggunaan alat penggiling. Itu menyebabkan hampir 2.000 tahun lalu, orang-orang yang tinggal di luar India memiliki keinginan kuat untuk menikmati cita rasa kari, seperti yang tampak dari persiapan mereka melalui penelitian ini.

Menariknya, resep kari yang digunakan di Vietnam saat ini tidak banyak berubah sejak periode kuno Oc Eo. Komponen-komponen kunci seperti kunyit, cengkeh, kayu manis, dan santan tetap konsisten dalam resep kari ini.

Selain menemukan rempah untuk membuat kari, tim peneliti juga mengumpulkan sejumlah besar biji yang terawat dengan baik. Mereka berharap di masa yang akan datang juga dapat menganalisis temuan ini. (haf)***

 

 

Respon (104)

  1. I’ve been exploring for a little bit for any high quality articles or blog posts on this kind of area . Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this site. Reading this information So i’m happy to convey that I have a very good uncanny feeling I discovered just what I needed. I most certainly will make sure to do not forget this site and give it a glance regularly.

  2. I am very happy to read this. This is the type of manual that needs to be given and not the random misinformation that is at the other blogs. Appreciate your sharing this best doc.

  3. Nice read, I just passed this onto a friend who was doing some research on that. And he just bought me lunch since I found it for him smile Therefore let me rephrase that: Thanks for lunch! “Remember It is 10 times harder to command the ear than to catch the eye.” by Duncan Maxwell Anderson.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *