Pameran Foto 70 Tahun KAA, Menangkap Kolonialisme dalam Rupa Ba­ru

1210140294
Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bandung dan komunitas Raws Syndicate menggelar "Pameran Foto 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika", pada Senin-Rabu, 28-30 April 2025. (Foto: Koran Pikiran Rakyat)

ZONALITERASI.ID – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bandung dan komunitas Raws Syndicate menggelar “Pameran Foto 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika”, pada Senin-Rabu, 28-30 April 2025.

Pameran foto menampil­kan 46 karya dari PFI, Raws Syndicate, dan sejumlah jurnalis foto media massa.

Salah satu misi dari pameran foto ini yaitu solida­ritas untuk Palestina dan Sudan.

Fo­to­-foto yang ditampilkan terdiri atas beragam momentum yang berkaitan dengan peringatan KAA pada 2005, 2015, dan aksi Solidaritas Se­ni Bandung. Bahkan, ada satu foto karya Sutanto Nur­hadi yang menunjukkan sa­lah seorang pemain Per­sib, Marc Klok sedang membawa bendera Palestina di pun­dak­nya.

Pegiat Raws Syndicate se­kaligus kurator Wahyu Dhian mengatakan, tujuh de­ka­de berlalu sejak penyelenggaraan KAA pada 1955. Du­nia telah banyak ber­ubah. Akan tetapi, ketimpangan, kolonialisme dalam rupa ba­ru, dan penindasan struktural masih terus ber­langsung. Salah satu luka dunia yang paling nyata dan mendesak adalah Palestina dan Sudan.

“Bandung Spirit tidak boleh menjadi slo­gan mati atau seremoni formal semata. Ia harus kem­bali menjadi de­nyut yang hidup. Bukan hanya di ruang diplomasi, tetapi di jalanan Asia-Arika, dan me­lalui kamera yang menang­kap suara solidaritas khas Bandung yang menolak diam,” kata Wahyu.

Ia menyebutkan, tiga pilar utama pameran ini adalah Asia-Afrika, seremoni, dan aksi solidaritas yang merupakan jejaring narasi yang saling menguat­kan. Asia-Afrika merekam akar sejarah lintas zaman. Seremoni tidak hadir sebagai ritual kosong, melainkan sebagai bentuk perlawanan simbolik dan penjaga ingat­an kolektif atas janji-janji kemerdekaan dan keadilan yang belum tuntas.

“Fotografi bukan hanya me­­dium visual. Ia adalah ca­ra untuk mencatat, meng­i­ngat, dan melawan lupa. Ia merekam sikap, emosi, dan keberpihakan. Ia adalah saksi dan sekaligus ajakan untuk terus menjaga nyala Ban­dung Spirit, bukan ha­nya dalam kata, tetapi dalam gerak,” tambah Wahyu.

Ketua PFI Bandung, Ra­i­san Al Farisi, menjelaskan, pameran ini menjadi kritik kepada pemerintah, karena tidak ada peringatan yang mumpuni pada 70 tahun KAA. ***