Kisah Iskandar Nazari, Satpam Kampus yang Jadi Profesor UIN STS Jambi

iskandar nazari saat membawakan orasi ilmiah dalam acara pengukuhan guru besar uin sts jambi rabu 1452025 1747227671591
Iskandar Nazari saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara pengukuhan guru besar bidang Psikologi Pendidikan di UIN STS Jambi, Rabu 14 Mei 2025. (Foto: Dok. Youtube UIN STS Jambi)

ZONALITERASI.ID – Ada kisah menarik di balik dikukuhkannya Iskandar Nazari sebagai guru besar bidang Psikologi Pendidikan di Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi.

Seusai menyampaikan orasi ilmiah berjudul Restorasi “Ruhiologi” dalam Pendidikan Holistik Abad 21, pada Rabu, 14 Mei 2025, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN STS itu menceritakan cerita hidupnya hingga ia meraih gelar guru besar.

“Pengukuhan saya sebagai profesor melalui perjalanan panjang. Saya harus melewati jalan berliku,” kata Iskandar dengan suara bergetar, dilansir dari Youtube UIN STS Jambi, Senin, 19 Mei 2025.

Dia memaparkan, usai menuntaskan studi doktoral bidang Psikologi Pendidikan di Universiti Kebangsaan Malaysia pada akhir 2008, dosen yang lahir di Kerinci pada 1975 itu memutuskan kembali ke Jambi.

Namun, dia harus mengalami kenyataan pahit menjadi pengangguran bergelar doktor. Saat itu, belum ada satu kampus pun yang menampungnya sebagai dosen meski pada namanya tersandang gelar akademik mentereng.

“Gelar doktor sudah di tangan tapi pintu-pintu pekerjaan belum terbuka. Saya kembali ke rumah bukan sebagai dosen tapi sebagai pengangguran bergelar doktor. Itulah masa paling sunyi dalam hidup saya,” ujarnya.

Suami Denny Defrianti itu menuturkan, di tengah keputusasaan, dirinya menemukan jalur tak terduga.

Pada awal 2009, Rektor IAIN STS Jambi Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd memintanya untuk menjadi staf ahli rektor. Namun status formalnya terkendala birokrasi. Supaya honorarium untuknya bisa dibayarkan, Iskandar mau tidak mau harus menerima status sebagai tenaga honorer satpam kampus.

“Saya membantu dan mendampingi beliau (rektor), tapi karena keterbatasan birokrasi, satu-satunya SK yang bisa dikeluarkan waktu itu adalah berstatus honor sebagai satpam untuk bisa dibayar,” ujar Iskandar.

“Insentifnya dengan senang hati saya terima dengan ikhlas, saya jalani dengan penuh rasa syukur karena saya tahu ilmu bukan soal status tapi keberkahan,” sambungnya.

Iskandar menjalani status tenaga honorer satpam hampir 1 tahun. Lalu, pada akhir 2009, putra guru SD bernama Nazari Syarif itu berhasil lulus dalam tes CPNS dosen.

“Memang ini jalan yang harus saya lalui. Namun, saya yakin, di balik semuanya ada hikmah yang bisa diambil. Keyakinan bahwa Alloh SWT akan memberi jalan yang terbaik, memacu saya untuk berikhtiar dan bekerja maksimal,” pungkas Iskandar. ***