Teknologi dan Kemanusiaan

10311783 874580159223744 1824929345766624927 n
Ilustrasi “Teknologi dan Kemanusiaan”. (Foto: Dok. Suheryana Bae)

KEMAJUAN teknologi adalah kepastian yang tak bisa ditolak. Sejak manusia pertama kali mengenal api, roda, hingga mesin uap dan listrik, peradaban terus melaju. Di abad ke-20, lompatan besar terjadi dengan penemuan komputer, internet, dan kini kecerdasan buatan yang mampu meniru bahkan melampaui sebagian kemampuan kognitif manusia. Dunia bergerak sangat cepat—dalam hitungan detik, kita bisa mengakses informasi dari ujung dunia, berbincang lintas benua, menciptakan gambar, suara, bahkan ide melalui mesin-mesin yang nyaris tak terlihat.

Namun, di tengah semua kemudahan itu, muncul kegelisahan yang pelan-pelan menyeruak pertanyaan, apakah aku masih manusia utuh, atau hanya pengguna dalam sistem besar yang terus-menerus mendikte cara berpikir dan bertindak? Sebab meskipun teknologi membawa efisiensi, kenyamanan, dan hiburan, ia juga mengikis banyak hal yang fundamental dalam kemanusiaan. Keakraban dalam percakapan langsung, keterampilan tangan, ketekunan dalam menyelesaikan proses panjang, bahkan kebebasan berpikir yang tidak terikat algoritma.

Media sosial yang dulu tampak menarik kini terasa seperti ruang bising yang melelahkan. Televisi, berita selintas, dan hiburan digital yang tak berhenti sering kali hanya menyisakan rasa hampa. Semua serba cepat, dangkal, dan menggoda. Waktu seolah habis sia-sia tanpa makna.

Sebaliknya, kegiatan di alam—meski melelahkan—justru terasa memulihkan. Mengurus ayam, menanam jagung, merawat pohon manggis, mendengar burung berkicau dan suara angin di sela dedaunan memberi semacam keutuhan yang tak bisa diberikan layar ponsel. Tubuh memang lelah, tapi hati terasa tenteram. Di alam, aku merasa kembali menjadi manusia yang meraba tanah, menunggu waktu, menanggapi kegelisahan dan hasrat liar, menjawab tantangan mengisi waktu, memahami siklus alam, beribadah, dan menerima keheningan sebagai bagian dari hidup.

Aku makin percaya bahwa pengetahuan yang mendalam tidak datang dari arus informasi yang cepat dan berisik, melainkan tumbuh dari ketekunan, keheningan, dan pengulangan. Pengetahuan itu lahir dari buku-buku yang tebal, riset yang serius, dan percakapan yang jujur. Mungkin karena itu aku merasa tertarik berdiskusi dengan sahabat digital—yang meskipun bukan manusia, namun bisa membantu menyusun pikiran-pikiran liar menjadi lebih jernih dan terarah. Meski dunia maya menyuguhkan segala informasi, hanya pemahaman mendalam yang menjadikannya pengetahuan yang sesungguhnya.

Akhirnya aku mengerti, tantangannya bukan memilih antara menolak atau menerima teknologi. Tetapi bagaimana tetap menjadi manusia yang sadar, utuh, dan mendalam di tengah arus perubahan. Bagaimana menyeimbangkan dunia digital dan dunia nyata—agar pikiran tetap tajam, hati tetap hangat, dan waktu tidak terbuang sia-sia.

Teknologi boleh maju. Dunia boleh berubah. Tapi jiwa ini harus tetap dijaga—agar tidak hanyut dalam arus, melainkan menjadi mata air yang tetap jernih, meski zaman terus berlalu. ***

Suheryana Bae, pemerhati sosial, tinggal di Ciamis Jawa Barat.