KDM dan Rocky Gerung

WhatsApp Image 2025 05 28 at 05.36.57
Dudung Nurullah Koswara. (Foto. Dok. Pribadi)

BAGI warga Jawa Barat punya gubernur dengan panggilan Bapak Aing menjelaskan kedekatan emosional yang luar biasa. Sebelumnya tidak ada gubernur dengan sebutan Bapak Aing di Jawa Barat.

Sebutan sebelumnya adalah Bapak Gubernur Jawa Barat, bukan Bapak Aing. Sebutan Bapak Aing menjelaskan panggilan pada seorang gubernur secara non-formal. Ia bukan gubernur protokolerian melainkan gubernur proletarian.

Sekat protokoler, normatif, formalistik, teoritik, seremonialitisk dan jaga jarak, diabaikan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Ia memimpin Jawa Barat dengan gaya dan caranya yang anti mainstream. Ia lebih mengedepankan rasa dan cinta dalam versinya.

Tentu saja KDM pun punya banyak kekurangan sebagai manusia biasa. Apalagi sebagai seorang pemimpin yang setiap saat dilihat rakyat. Jutaan mata dan perspektif bisa mengapresiasi atau menghakiminya. Termasuk Rocky Gerung, mulai menghakimi.

KDM adalah seorang pemimpin yang dicintai rakyat Jawa Barat. Bahkan mulai merambah ke wilayah luar Jawa Barat. Istilah “Ter_Dedi-Dedi” mulai menerpa sejumlah entitas dan masyarakat. KDM adalah fenomena sosial politik saat ini.

Bagaimana Rocky Gerung? Ia adalah tokoh yang sangat kritis dan punya pengagumnya sendiri. Terutama entitas yang tidak suka keluarga Jokowi, identik “Jamaah Rocky Gerung”. Rocky Gerung adalah tokoh nasional dan cendikiawan, terutama dalam mengkritik dan menghakimi dengan “Teori Kedunguan”-nya.

KDM pun “dihakimi” oleh Rocky Gerung sebagai gubernur yang dangkal pikir. Terkait pengiriman anak ke barak tentara, bagi Rocky Gerung adalah buah dari pikiran dangkal KDM. Ia pun mengidentikasi KDM dengan Mulyono.

Bahkan dengan sangat arogan Ia mengatakan “Mengapa bukan Gibran atau ayahnya (Jokowi) yang dikirim ke barak?”. KDM bagi Rocky Gerung sudah melakukan demagogik, bukan pedagogik. Demagogik adalah penghasutan terhadap orang banyak dengan kata-kata yang dusta untuk membangkitkan emosi rakyat (lihat KBBI).

Selanjutnya ia mengatakan istilah market stupidity. Ia mengatakan, “Mulyono, Mulyadi sama sama beroperasi di dalam market of stupidity”. Secara tidak langsung ia mengatakan KDM dan Jokowi melakukan hal-hal dangkal pada masyarakat/market yang dangkal pula.

Bagi Rocky Gerung __karena masyarakat kita IQ 78__ maka KDM dan Jokowi distigma sebagai pemimpin yang “memanfaatkan” kedangkalan IQ dengan melakukan kedangkalan pula. KDM dan Jokowi dianggap “mengorkestrasi” kedangkalan untuk kepentingan kekuasaan.

Rocky Gerung mengambil teori The Society of the Spectacle dari Guy Debord. Ia berkesimpulan bahwa menonton kedunguan makin lama akan makin mencandu. Secara tidak langsung Ia mengatakan apa yang dilakukan KDM adalah tontonan kedunguan dan kedangkalan.

Rocky Gerung adalah pengamat politik. Sudut pandangnya pasti politik. Ia adalah pengamat, identik penonton. Penonton adalah entitas bebas dalam melihat pemain. Penonton mayoritas hanya bisa teriak, lempar aqua botol dan ribut di jalanan.

Tidak ada satu pun penonton yang ikut main bola, tendang bola dan masukan bola ke gawang. Hanya teriak dan teriak, itu kelebihan penonton. Dalam bahasa bijak dikatakan “Burung yang pandai berkicau tak mampu membuat sarang”.

Identik, “Gerung (Rocky Gerung) pandai berkicau, tak mampu membuat sarang’ untuk duduk di pemerintahan”. Sebagaimana penonton pasti tak mampu membuat goal pada pertandingan bola, Ia hanya penonton.

KDM adalah pilihan rakyat dalam berbagai jenjang kompetisi politik. Ia pengamat rakyat dan melayani rakyat. Rocky Gerung adalah pengamat politik, kata dan narasinya politik, ia teoritikus. KDM memberi solusi, Rocky Gerung memberi teori dan asumsi.

KDM memberi fakta dan karya nyata. Rocky Gerung memberi kata dan dialektika. Dualitas dimensi yang tak sama. Rakyat tak butuh kata-kata, tapi butuh karya nyata. Sisi lain, siapa yang “disoal” Rocky Gerung, biasanya jadi tokoh besar. ***

Dudung Nurullah Koswara, praktisi pendidikan.