ZONALITERASI.ID – Setelah vakum selama 11 tahun, Pasar Seni ITB akan kembali digelar. Rencananya, puncak perhelatan ini akan dilangsungkan pada Minggu, 19 Oktober 2025.
Menjelang puncak pelaksanaan Pasar Seni ITB, diselenggarakan rangkaian pra-acara bertajuk “Sinestesia: Merayakan Kembali”, di Lapangan Merah, Gedung CAD, ITB Kampus Ganesha, pada Minggu, 25 Mei 2025.
Konsep “Sinestesia” dalam pra-acara ini mengacu pada cara manusia merasakan dunia melalui pengalaman multisensori, seperti mendengar warna, mencium suasana, atau melihat bunyi. Pendekatan kuratorial ini bertujuan untuk membangkitkan ingatan kolektif tentang Pasar Seni ITB.
“Pengunjung tidak hanya akan melihat, tetapi juga benar-benar merasakan denyut nadi Pasar Seni melalui pengalaman multisensori,” ujar Ketua Pelaksana Pasar Seni ITB 2025, Kayla Hafsah, dalam siaran pers, dikutip Kamis, 29 Mei 2025.
Kayla menyebutkan, sebagai pembuka rangkaian acara, pameran “Kilas Balik: Lima Dekade Pasar Seni ITB” diadakan di Galeri Soemardja, mulai 25 sampai 31 Mei 2025.
Pameran ini menampilkan arsip visual, dokumentasi, dan artefak dari tahun 1972 hingga 2014, yang merekam dinamika perjalanan Pasar Seni lintas generasi.
“Pameran ini menjadi titik awal untuk menyulam kembali memori kolektif menuju perayaan puncak Pasar Seni ITB 2025 pada 19 Oktober mendatang,” ucap Kayla.
Lanjut Kayla, pameran ini juga mengajak pengunjung untuk menelusuri bagaimana Pasar Seni telah menjadi ruang egaliter yang mempertemukan seniman dan publik, serta mencerminkan semangat zaman dari masa ke masa. Semangat Pasar Seni akan diusung melalui prinsip keberlanjutan dengan melibatkan komunitas dan mengangkat lokalitas melalui pendekatan interdisiplin.
“Beberapa program utama, seperti Pasa, Semangat Rupa, Laka Laku, Nyemal Nyemil, dan Saling Sua, dirancang untuk membentuk ekosistem kreatif yang reflektif dan partisipatif,” terang Kayla.
Ia menambahkan, rangkaian kegiatan ini juga merupakan bagian dari tema besar Pasar Seni ITB 2025, yaitu “Setakat Lekat: Laku, Temu, Laju”. Tema ini mencerminkan semangat zaman yang bergerak cepat dan saling terhubung. Sebelum hari puncak, pra-acara seperti Beranda Bersama, Sepanjang Masa, Saling Senggo, dan Tapak Meriah akan digelar untuk memperluas interaksi antara seniman, komunitas, dan masyarakat.
“Dengan pendekatan kuratorial yang mendalam dan semangat keterlibatan publik, Pasar Seni ITB 2025 diharapkan dapat menjadi ruang refleksi, pertemuan lintas disiplin, serta perayaan seni, kebersamaan, keberagaman, dan kekayaan ekspresi,” pungkas Kayla.
Plt. Dekan FSRD ITB, Nurdian Ichsan, mengatakan, kembalinya Pasar Seni bukan sekadar pengulangan, melainkan titik balik dalam perjalanan seni di kampus tersebut.
“Saya sangat percaya ini akan menjadi momentum perubahan. Pasar Seni kini bukan hanya milik FSRD, tetapi milik kita semua, termasuk mahasiswa, dosen, alumni, dan masyarakat,” katanya. (haf)***





