ZONALITERASI.ID – Banyak anak yang sebenarnya punya ide hebat, tapi takut menyampaikannya. Mereka khawatir salah, takut ditertawakan, atau merasa tidak cukup baik.
Kebiasaan ini jika dibiarkan bisa membuat mereka tumbuh menjadi pribadi pemalu, pasif, atau minder di tengah lingkungan yang menuntut keberanian.
Sebaliknya, anak yang terbiasa bicara di depan umum biasanya tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, terbuka, dan siap menghadapi tantangan sosial.
Tak perlu panggung besar untuk melatih anak bicara. Rumah adalah panggung pertamanya.
Biarkan anak sering bercerita tentang hari-harinya, membacakan buku dengan suara keras, atau menjelaskan sesuatu yang ia suka kepada anggota keluarga lain.
Ketika orang tua menyimak dengan antusias dan menghargai pendapat anak, ia belajar bahwa suaranya berarti.
Bisa juga dengan mengadakan “panggung kecil” di rumah, misalnya:
– Anak memperagakan cerita yang ia buat sendiri.
– Anak berdiri dan menyampaikan “pengumuman” keluarga.
– Anak memimpin doa sebelum makan atau tidur.
Kegiatan sederhana ini memberi pesan: berbicara itu menyenangkan, dan ia mampu melakukannya.
Walau Salah Tetap Dukung Anak
Salah satu penghambat utama anak dalam berbicara di depan umum adalah rasa takut salah. Maka tugas orang tua dan guru adalah menciptakan ruang aman untuk gagal.
Jika anak terbata-bata, jangan langsung dikoreksi atau disuruh mengulang. Beri pujian atas usahanya, bukan hanya hasilnya. Misalnya:
“Wah, Ibu senang kamu mau berdiri dan bercerita, itu keren sekali!”
Dukungan seperti ini akan menumbuhkan rasa nyaman dan keberanian dalam diri anak untuk mencoba lagi dan lagi.
Gunakan Permainan dan Aktivitas Menyenangkan
Bicara di depan umum bisa dilatih lewat aktivitas yang menyenangkan. Beberapa ide:
– Main peran (roleplay): Biarkan anak menjadi guru, dokter, penjual, atau bahkan karakter dari buku cerita.
– Debat ringan: Misalnya, mana yang lebih enak: es krim atau cokelat? Ajarkan cara menyampaikan pendapat dengan lucu dan ringan.
– Tantangan 1 menit bicara: Anak berbicara bebas selama 1 menit tentang topik favoritnya.
Dengan cara seperti ini, anak tidak merasa sedang “dilatih serius”, tapi sedang bermain sambil belajar.
Libatkan Anak dalam Kegiatan Sekolah atau Sosial
Dorong anak untuk aktif di sekolah, misalnya jadi pembaca doa, MC acara kelas, atau menceritakan pengalaman liburan. Jika ada kegiatan masyarakat seperti lomba bercerita, dongeng, atau drama, ikutkan anak dengan cara yang menyenangkan.
Namun, jangan memaksakan. Bimbing secara perlahan, bantu menyiapkan naskah, dan latih bersama. Pendampingan ini akan membuat anak merasa aman, tidak sendirian dalam prosesnya.
Jangan Bandingkan, Tapi Rayakan Kemajuan
Setiap anak punya waktu dan ritmenya sendiri. Ada yang cepat percaya diri, ada yang butuh waktu lebih lama. Yang penting bukan seberapa sering ia tampil, tapi seberapa besar keberanian yang ia kumpulkan setiap kali mencoba.
Rayakan setiap kemajuan kecilnya: berani menyapa, mengacungkan tangan di kelas, atau sekadar mau tampil di depan keluarga besar. Semua adalah proses menuju percaya diri yang kokoh.
Suara Kecil yang Berharga
Anak-anak perlu tahu bahwa suara mereka penting. Ketika kita membiasakan mereka untuk berbicara di depan umum, kita sedang menanamkan pesan bahwa ide mereka layak disuarakan, dan diri mereka layak dihargai.
Percaya diri bukan diwariskan, tapi ditumbuhkan. Dan itu bisa dimulai hari ini—dari rumah, dari senyuman orang tua, dari perhatian kecil yang memberi anak keberanian besar. ***
Sumber: Suarananggroe.com





