Puisi Karya Lilis R. Hamdah
MAAF
Adakah yang lebih lenggang
dari langit sore ini.
Terseduh luka dan bisikmu,
juga harapan dari setiap
pejalan.
Adakah yang lebih luas dari
langit senja ini. Yang hanya
maaf ia dengar.
Cinta yang tercelup dalam
jingga perlahan merapat,
hangat pada setiap sudut
udara yang mengalir.
Adakah ia pekak pada
teriakan?
Atau bukan ke sana
kembalinya amarah.
Adakah yang lebih indah dari
menahan rindu?
Pada tanah yang diinjak.
Selain langit yang selalu
menyisakan sunyi.
***
PANDORA
Harus kusimpan pada kotak
pandora
Ataukah
Kulepaskan saja anak panah.
Hanya masalah waktu
Engkau tau itu
Tak usah
Berlari
Kau paksa beribu kali
bagai batu
Bergeming beku
Ada gejolak yang tak juga
Kau pahami
Tersimpan di lapisan
Yang sulit terselami.
____________________
Puisi Karya Berti Nurul Khajati
SRIKANDI, KESATRIA WANITA
Srikandi kesatria wanita, si pementhang gandewa
merentang tali busur meluncurkan anak panah
tepat menuju sasaran
Srikandi kesatria wanita, meski tak seperkasa kesatria pria
tarikan gandewanya merapal gelepar meneguhkan janji
melembutkan obsesi
Srikandi kesatria wanita, kelembutan di wajahnya
kekuatan di hatinya takkan pernah ingkar
menjaga nurani yang tergelar
Srikandi kesatria wanita, bahagia sebagai adanya
dulu, kini, dan nanti tetap abadi
ruh yang paling inti
Bekasi, 24 Maret 2017
***
TRAGEDI CINTA AMBA
Di ujung anak panah gandewa cinta, jiwa Amba tergadai sempurna
melanglangi jarum-jarum usia, menyeberangi lautan bintang
berkanvas hitam cakrawala, galaksi menyaksi sumpah suci
memaknai asuransi mimpi di tengah iklan-iklan kerinduan
Gandewa Bisma merentangkan cinta berpalang
goncangkan sumpah selibat dengan debar asmara di rongga dada
menyembur subur di kepalan jantung
menyesap riap bilik-bilik sunyi yang nyaris lesap
Lirih panggilan Amba menjelang perginya jiwa
menggodam tulang selangka menyiksa batin Bisma
mengikat belikat erat-erat
dalam keliaran asmara yang nyaris sekarat
Panggilan cinta di padang laga Kurusetra
adalah kusir takdir yang tak mungkin terulir
terukir di kitab-kitab penyair
abadi tak pernah terafkir
Bekasi, 2 April 2019
***
GEGER WIRATA
Matswapati di persimpangan, terpekur di ujung harapan
Wirata terancam kehancuran nyata, para kesatria tak berdaya
Jikalau Trigarta-Hastinspura telah bersekutu, rasa pun mati kutu
Utara, oh, Utara apa akal? Mustahil bagimu bertempur tanpa kereta
Regol keputren lebar terbuka, serentak Wrehatnala menyengklak kekang kuda
Utara, hei, jangan menjadi pengecut! Waktunya kusir dan kesatria bertukar peran
Hujan panah di langit Wirata, mengaburkan batas cakrawala
Simpuh teguh Sang Arjuna menguliti penyamarannya
Duh, kakek pepundhen hamba
:terimalah bakti cucunda
Bekasi, 4 April 2021
***
Lilis R. Hamdah, alumni Program Studi Pendidikan Khusus/Pendidikan Luar Biasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kini bekerja di Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar Kemendikdasmen.
Berti Nurul Khajati, alumni IKIP Muhammadiyah Purworejo (1998) dan kini guru di SDN Setia Asih 06 Bekasi. Menulis puisi, cerpen, cerita anak dan artikel lainnya bersama Asian Women Writers Association (AWWA), Kampung Pentigraf Indonesia (KPI), Penyair Perempuan Indonesia (PPI), Teras Puisi, Kelompok Peminat Seni Sastra (KOPISISA) Purworejo, dan komunitas literasi lainnya.





