ZONALITERASI.ID – Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H.M. Solehuddin, M.Pd., M.A., mewisuda sebanyak 2.395 lulusan pada “Wisuda Gelombang II/2025”, di Gedung Gymnasium, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, pada Rabu-Kamis, 11-12 Juni 2025.
Rincian lulusan yang diwisuda yaitu dari program D3 sebanyak 2 orang, D4 14 orang, S1 910 orang, S2 322 orang, dan program S3 sebanyak 147 orang.
Pada wisuda kali ini, empat lulusan mendapat penghargaan prestasi akademik luar biasa, karena mencapai IPK 4,00. Mereka adalah Ahmad Fadhillah (D4 Program Studi [Prodi] Survei Pemetaan dan Informasi Geografis Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial [FPIPS]), Ega Nasrudin (S1 Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam FPIPS), Putri Anastasya (S2 Prodi Pendidikan Seni Fakultas Pendidikan Seni dan Desain [FPSD]), dan Nadya Syifa Utami (S3 Prodi Pendidikan Matematika (S3) Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA]).
UPI juga memberikan apresiasi kepada lulusan termuda dan tertua. Untuk lulusan termuda yaitu Amanda Sophia Adila (S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini UPI Kampus Cibiru). Adapun lulusan tertua yaitu Fitri Rodhiyah (S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan [FIP]).
Selain itu, UPI memberikan penghargaan kepada lulusan yang berhasil menyelesaikan studi dalam waktu tercepat, yaitu Rochma Ayustyaningtias (S2 Pendidikan Ilmu Komputer FPMIPA).
Pada wisuda kali ini, UPI juga melantik lulusan yang berasal dari luar negeri. Mereka yaitu Raisalam Delos Trico Angoy dari Filipina (S3 Prodi Pendidikan Olahraga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan [FPOK]), Jeong Ok Jeon dari Korea Selatan (S3 Prodi Pendidikan Seni FPSD, Ahmed Almukhtar Ahmed Hamid dari Libya (S2 Prodi Studi Manajemen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnia [FPEB], serta Eugenie Catillon dari Prancis (S2 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni [FPBS]).
Rektor UPI, Prof. Solehuddin, mengatakan, kehadirannya sebagai rektor pada Wisuda Gelombang II ini merupakan yang terakhir. Sebab, jabatannya sebagai Rektor UPI periode 2020-2025 akan berakhir beberapa hari lagi.
“Ini adalah wisuda terakhir saya sebagai Rektor. InshaAllah nanti pada 16 Juni akan ada pelantikan Rektor UPI yang baru,” kata Prof. Solehuddin, seusai wisuda, Rabu, 11 Juni 2025.
Selanjutnya Prof. Solehuddin mengungkapkan, lulusan UPI ditargetkan adaptif terhadap perkembangan zaman. Untuk itu, saat menjalani kuliah, lulusan UPI dibekali pendidikan yang diarahkan agar aplikatif untuk berbagai profesi.
“Saya berharap lulusan UPI qualified yang dapat beradaptasi pada tantangan perkembangan zaman yang luar biasa. Lulusan UPI bukan hanya menguasai teori, tetapi juga aplikatif terhadap berbagai profesi,” kata Prof. Solehuddin, seusai wisuda, Rabu, 11 Juni 2025.
“Khusus bagi yang membidik profesi guru, harus menjadikan profesi ini bermartabat. Sistem pendidikan juga didorong terintegrasi untuk menjadikan profesi guru sebagai unggulan,” sambungnya.
Prof. Solehuddin menambahkan, pelantikan sebanyak 2.395 wisudawan yang berasal dari berbagai fakultas dan program pendidikan, mencerminkan komitmen UPI dalam mencetak lulusan yang kompeten dan berdaya saing global.
“UPI menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh lulusan beserta keluarga atas keberhasilan yang diraih. Universitas akan terus berkomitmen dalam menjunjung tinggi keunggulan akademik, inovasi, dan nilai-nilai inklusivitas,” pungkasnya.
Sementara Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UPI, Komjen. Pol. (Purn.), Drs. Nanan Soekarna, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris MWA UPI, Prof. Dr. Riandi, M.Si., mengatakan, gelar akademik yang diperoleh di perguan tinggi termasuk dalam kekuatan Intelligence Quotient (IQ), namun belum cukup untuk memperoleh keberhasilan di dunia nyata.
“Untuk membangun kepercayaan, membina hubungan serta menjalin networking dan sinergi juga dibutuhkan EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional. Tanpa EQ, gelar bisa membuat jarak bukan jembatan,” terangnya.
Selain IQ dan EQ, lanjut Nanan, juga dibutuhkan Spiritual Quotient (SQ [kecerdasan spiritual]), sebagai bekal hidup abadi setelah dunia ini serta Fitness Quotient (FQ [kecerdasan fisik]), yaitu kemampuan menjaga fisik dan kesadaran jasmani. Karena sehat adalah modal awal untuk berkarya dan melayani.
“Yang tak kalah penting, hidup ini bukan kompetisi ego, tapi jalan pengabdian dan kebermaknaan. Jadilah insan berilmu yang guyub, peka sosial, dan hadir untuk memberi manfaat,” kata Nanan.
“Bawalah gelar kalian dengan rendah hati, dengan tekad untuk berkontribusi bukan sekedar berprestasi. Jadilah bukan hanya lulusan yang dicatat di ijazah, tapi alumni yang hidupnya dicatat dalam sejarah,” pungkasnya. (des)***





