PUISI Moh. Syarif Hidayat, Nurul Aéni Fitriah, dan M. Arafat G.S.A.A.J.

abad 2 720x400 1
Ilustrasi "Puisi Moh. Syarif Hidayat, Nurul Aéni Fitriah, dan M. Arafat G.S.A.A.J.". (Foto: Tempo.co)

Puisi Karya Syarif Hidayat

DOA UNTUK EMA

Ma,
Aku tahu perjuanganmu begitu meletihkan
Pengorbananmu tanpa mengharap imbalan
Dan harapanmu sebenarnya sederhana saja
Menjadikanku manusia yang tak lupa
Mengapa dilahirkan dan untuk apa dilahirkan

Ma,
Sekian tahun kita berpisah
Tapi namamu masih terjaga
Di relung hati, di setiap langkah hari
Dan aku tahu engkau begitu sedih jika aku
Lupa mengirim doa, lupa menyebut nama-nama

Untuk itu, Ma
Izinkan hari ini aku berdoa
Untuk kebahagiaanmu, untuk kelapangan jalanmu
Untuk segala kebaikan yang ada dalam dirimu
Untuk mengikis setiap debu, menyucikanmu setiap waktu

Ma,
Semoga Sang Pemberi Jalan, melapangkan jalanmu ke arah yang lurus
Semoga Sang Pemberi Tempat, menempatkanmu di tempat yang terbaik
Semoga Sang Pemberi Nikmat, memberikanmu nikmat kubur yang paling nikmat
Semoga Sang Pemberi Cahaya, menerangimu untuk sampai ke tempat yang paling dirindukan
Semoga Sang Pemberi Imbalan, memberikanmu balasan atas segala upaya
Yang telah engkau berikan saat aku masih kecil, saat kesabaran menjadi sebab
aku tumbuh dan berkembang seperti yang engkau harapkan.
Semoga Sang Pemberi Janji, menjadikan surga menjadi tempat terakhir
Persinggahanmu, rumahmu yang abadi
atas jerih payah yang kau bangun dalam kehidupanmu.

Ma,
Maafkan aku yang sesekali kadang melupakanmu
Tak setiap hari mendoakanmu, menerangi jalan kuburmu,
Lebih sibuk mengurusi dunia, lebih peduli pada yang fana
Meninggalkanmu dalam kesepian yang nyata
Membiarkanmu dalam tangis di kegelapan nyata
Tak bisa berbuat apa-apa, helaan nafasmu pun sudah tak terasa

Untuk itu, Ma
Semoga Sang Pemberi Maaf, memberikan pengampunan kepadaku
Semoga Sang Pemberi Tobat, menerima tobatku yang nasuha
Semoga Sang Pemberi Kemudahan, memberikanku arah yang lapang
Untuk tetap berada di jalan-Nya, menyusuri jejakmu di air yang tenang
Untuk tetap mengingatmu, di setiap tikungan jalan.

____________

Puisi Karya Nurul Aéni Fitriah

TULUS DAN SEWINDU

Satu dekade lalu,
sedang hangat-hangatnya sewindu.
Aku, mengubah pandangan menjadi tulus.
Mengganggapmu sebagai larapku.
Bédanya, aku tidak menunggu di depan pintu.
Aku menunggumu, di ujung jalan itu.

Tulus mencoba memberiku peringatan.
Lalu mendatangkanmu seseorang dengan harapan.
Merampas pagi, siang, dan malam.
Membuatmu lupa aku yang di ujung jalan.
Membuatku semakin sadar,
bahwa hanya aku yang kegeeran.

04 Februari 2021

____________

Puisi Karya M. Arafat G.S.A.A.J.

JEMPUTAN ABAD

Alangkah biru cakrawala
Telah berkelana sajadah
Memetik buah pahala
Meneguk lautan rahmat

Hijau bumi pun bersaksi
Langkah-langkah suci terangkan hari
Debu tiang pun bersaksi
Pada tegak agama gelap hari

Izinkanlah sekarang
Roh ini rindu kepada putih
Telapak telah letih
Data menghitam, barangkali cahaya kian membasahi
Kutunggu hembusan akhir mengucap butiran doa
Jemputlah…
Jemputlah…
Jemputlah!!!

Bandung, 8 April 2014

***

Moh. Syarif Hidayat, penyair, alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Nurul Aéni Fitriah, Guru Basa Sunda MTs Persis Katapang, Kabupaten Bandung.

M. Arafat G.S.A.A.J., lahir di Bandung, 23 Maret 1996. Ia adalah anggota komunitas sastra Jendela Seni Bandung. Puisinya dimuat di beberapa media massa di Bandung. Puisinya ada dalam Antologi Puisi Kemerdekaan-Penerbit Nuansa Jaya Bandung dan Antologi Puisi Islami. Lulus S-1 dari Prodi Satrasia FPBS UPI.