Pengalaman di Tanah Lorosae

lOROSAE1
Ilustrasi “Pengalaman di Tanah Lorosae”, (Foto: Istimewa).

Oleh Suheryana Bae

SETELAH menuntaskan pendidikan di Sekolah Tinggi Kedinasan Kementerian Sosial yang terletak di Bandung, kami, lima sarjana fresh graduate, ditugaskan untuk mengabdikan diri di wilayah yang berada di luar pulau Jawa — yaitu Timor Timur. Pada tahun 1990, daerah tersebut termasuk sebagai Provinsi ke-27 Republik Indonesia. Dengan semangat dan harapan tinggi, kami berangkat untuk meniti karier dan memasuki kehidupan dewasa di tanah yang, meskipun secara resmi menjadi bagian dari Indonesia, namun secara de jure di PBB belum diakui sebagai wilayah kedaulatan negara kita.

Bagiku, pilihan penempatan tersebut muncul dari suatu pemikiran sederhana. Ditempatkan di provinsi mana pun di luar Jawa, bagiku, semuanya adalah tempat-tempat asing yang belum aku kenali sama sekali, dan tidak ada sanak saudara yang menjadi tujuan. Dengan hati yang tawakal, aku dan teman-temanku mempercayakan diri pada Kementerian Sosial. Kami yakin bahwa penempatan kami telah dipertimbangkan dengan baik sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan kementerian.

Pada awal penugasan, kami bertugas di Kanwil Departemen Sosial yang terletak di Kota Dili. Namun, belum genap setahun, keputusan dari Kepala Kanwil menugaskan kami untuk mengemban tugas sebagai Petugas Sosial Kecamatan yang tersebar di lima kabupaten berbeda. Sebagian dari kami mendapatkan keberuntungan untuk bertugas di ibu kota kabupaten, namun ada seorang sahabat kami, yang biasa kami panggil dengan inisial A. Iskandar, ditempatkan di kecamatan Laclo, Kabupaten Manatuto. Nasib menempatkannya jauh dari keramaian ibu kota kabupaten, berbeda dengan keberuntungan yang kami miliki. Pada saat itu, belum ada angkutan umum, dan kendaraan dinas berupa sepeda motor juga belum tersedia bagi kami.

Dengan rasa kecewa dan marah, karena merasa diperlakukan tidak adil, sahabatku, A. Iskandar, nekad menyampaikan keberatannya kepada Kepala Kanwil. Aku mendampingi dan memberi dukungan, menunjukkan solidaritas sebagai rekan yang senasib sepenanggungan.

Kami beruntung diterima di samping rumah dinas oleh Kepala Kanwil, seorang tentara aktif dengan pangkat Kolonel. Meski kami berdua adalah pegawai baru yang berani memprotes keputusan beliau, dia tidak marah atau mengusir kami. Sebaliknya, dengan kesabaran dan kearifan, beliau menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut dan memberikan kami banyak nasehat. Sungguh, sikapnya mengingatkan kami pada seorang Bapak yang memahami proses adaptasi yang sedang kami jalani.

Tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Kecamatan Laclo dan tantangan perjalanannya, suatu hari aku memutuskan untuk mengunjunginya.

Dan petualangan menuju Laclo ternyata lebih mengejutkan dan menantang dari yang aku bayangkan. Memulai perjalanan dari Colmera-Dili, kami menaiki bus dengan tujuan Lospalos. Saat tiba di persimpangan yang menuju Laclo, kami berhenti dan melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki. Karena tidak ada kendaraan umum, tidak adanya inventaris dari kantor, dan tanpa kendaraan pribadi, perjalanan kaki tiga hingga empat jam menjadi satu-satunya pilihan yang ada. Sepanjang perjalanan, keringat bercucuran dan terik matahari yang menyengat. Namun, pengalaman baru ini, dengan pemandangan hutan dan pesawahan, sedikit menghibur.

Melihat cara petani setempat membajak sawah mereka sungguh berbeda dengan yang biasa aku lihat di kampungku, dan tentunya ini menarik perhatian kami. Saat membajak sawah, kerbau dibiarkan bebas, berlarian ke sana ke mari, bolak-balik dari ujung ke ujung, sehingga tanah menjadi gembur, seolah-olah baru saja dicangkul, meskipun tanpa bantuan alat apa pun. Yang mengejutkan, kerbau-kerbau tersebut bergerak hanya berdasarkan komando suara petani. Dalam keluguan, aku ikut-ikutan memberi teriakan. Namun, segera disadarkan oleh teman bahwa tindakan itu bisa mengacaukan pergerakan kerbau dan berpotensi menimbulkan bahaya.

Keunikan lain yang menandai suasana saat itu adalah kehadiran para tentara berseragam loreng yang tengah menanam padi dalam jalur yang tertata rapi. Ternyata, mereka sedang menunjukkan cara menanam padi yang benar, efisien, dan sistematis, bukan sembarang menanam. Mereka membuat tanaman padi dalam barisan rapi sehingga nantinya akan memudahkan dalam proses pemupukan dan juga ketika membersihkan rumput liar. Tentara-tentara tersebut berasal dari satuan teritorial.

Setelah perjalanan yang melelahkan, kami akhirnya tiba di rumah tempat sahabatku akan tinggal. Rumah itu berdiri sederhana di atas bukit, memerlukan tenaga tambahan untuk mencapainya. Meskipun lebih baik dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk sekitar, rumah ini tetap memiliki nuansa sederhana dengan ruang tamu, dua kamar tidur, dan dapur. Suasana di rumah tersebut mirip dengan rumah dinas yang biasanya ditempati oleh bidan desa atau penyuluh pertanian di desa-desa lainnya.

Kami bersandar lelah di ruang tamu, keringat belum kering membasahi pakaian dan setiap sendi tubuh terasa berat dan pegal. Sambil beristirahat, kami mengobrol banyak dengan rekan sekantor yang telah memiliki pengalaman bertugas lebih lama di sana. Dan saat perut kami mulai memberikan isyarat kelaparan, kami memilih untuk memasak hidangan yang sederhana namun selalu menjadi favorit, yaitu mie rebus. Siapa sangka, di tengah kepenatan, hidangan tersebut terasa begitu nikmat.

Malamnya kami tertidur lelap beralas kasur yang digelar di lantai, remang cahaya listrik, dan keheningan malam. ***

Suheryana Bae, pemerhati sosial. Pernah bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Timor Timur, Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Pangandaran. Kini menikmati masa purnabakti di Ciamis, Jawa Barat.