HARAPAN adalah ruh yang mengalir dalam setiap detik kehidupan. Percikan cahaya yang menerangi kegelapan, dorongan lembut yang membisikkan alasan untuk bangun di pagi hari, dan energi tak terlihat yang mendorong seseorang untuk melangkah, bekerja, dan berkarya. Harapan bukan sekadar angan, tetapi adalah kekuatan yang menyelamatkan, yang membuat hati tetap berdetak meski badai menerpa. Tanpa harapan, hidup kehilangan maknanya, seperti tubuh yang bergerak tanpa jiwa—kosong dan hampa.
Bayangkan seorang petani yang menanam benih di ladang kering. Ia tahu hujan mungkin belum waktunya, namun harapanlah yang membuatnya tetap mencangkul, menyiram, dan menanti. Harapan adalah keyakinan bahwa besok bisa lebih baik, bahwa usaha hari ini akan membuahkan hasil, walau waktu belum memastikan. Harapan adalah jembatan yang menghubungkan hari ini dengan masa depan, menjadikan setiap langkah berarti, setiap tetes keringat bermakna. Dalam harapan, ada keberanian untuk menghadapi ketidakpastian, ada kekuatan untuk bangkit dari kegagalan, dan ada keajaiban yang mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Namun, harapan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Sering kali harus dirawat, dijaga, dan dipupuk di tengah keraguan dan keputusasaan. Ada saat ketika hidup terasa seperti berjalan di lorong gelap tanpa ujung, ketika setiap pintu seolah terkunci rapat. Di saat itulah harapan menjadi lentera. Tidak selalu menghilangkan kegelapan, tetapi cukup memberikan sinar untuk melihat langkah berikutnya. Kisah seorang ibu tunggal yang bekerja siang malam demi anak-anaknya adalah bukti nyata. Harapan akan masa depan yang lebih baik untuk mereka membuatnya bertahan, meski hidupnya diliputi berbagai kesulitan. Harapan adalah bahan bakar yang tak pernah padam, bahkan di tengah badai kehidupan.
Tanpa harapan, seseorang bisa terjebak dalam kehampaan. Tanpa harapan seseorang bukan lagi makhluk hidup sepenuhnya, melainkan bayangan yang berjalan tanpa tujuan. Kehilangan harapan bukanlah kematian fisik, tetapi kematian jiwa—sebuah keadaan di mana tujuan, mimpi, dan semangat lenyap. Bukan berarti harapan menjamin keberhasilan, tetapi harapan memberikan alasan untuk terus mencoba. Terus berusaha. Seorang pelajar yang gagal dalam ujian namun tetap belajar untuk kesempatan berikutnya, seorang tenaga kerja muda yang berkali-kali ditolak namun terus mengirim lamaran. Mereka semua digerakkan oleh harapan.
Harapan juga bersifat menular. Ketika seseorang berbagi harapan, ia menyebar seperti api kecil yang membakar semangat orang lain. Seorang guru yang percaya pada potensi muridnya, seorang teman yang menguatkan di saat sulit membuat harapan menyala kembali di jiwa yang redup.
Karena itulah, bagaimanapun situasinya, menanam dan memelihara harapan adalah sebuah keniscayaan. Harapan adalah ruh yang membuat hidup bernilai. Setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bukti bahwa harapan masih hidup. Dan selama harapan masih ada, tidak ada kegelapan yang tak bisa ditembus, tidak ada mimpi yang tak bisa dikejar. Harapan adalah denyut kehidupan itu sendiri—membuat kita tetap hidup, tetap bermakna, dan tetap melangkah menuju hari esok. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





