HIDUP adalah perjalanan panjang, sebuah pencarian yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan abadi. Mengapa kita hidup? Untuk apa kita hidup? Apa yang sebenarnya harus kita lakukan? Ke mana tujuan akhir? Apa yang menanti setelah kematian? Dan, persiapan apa yang perlu kita lakukan untuk menghadapi keabadian?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar renungan sesaat, melainkan pertanyaan mendalam yang mengiringi setiap langkah. Jawabannya tak pernah sederhana, sering kali membingungkan, namun justru di situlah letak keindahan pencarian itu.
Di tengah pertanyaan-pertanyaan klasik ini, aku menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang memberi makna.
Pertama, kesehatan fisik adalah anugerah tidak ternilai. Tubuh yang sehat memungkinkan menjalani hari tanpa derita kesakitan, tidak mengeluarkan biaya pengobatan, dan tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Dengan tubuh yang kuat, kita bisa menikmati aktivitas, dari yang biasa hingga yang ekstrem, dengan penuh semangat dan penghayatan.
Kedua, kesehatan mental adalah harta teramat penting. Jiwa yang tenang, bebas dari ketakutan, tanpa rasa bersalah berlebihan, stres, atau depresi, memberi keleluasaan untuk hidup dengan nyaman. Tidak lagi merasa dikejar target atau jadwal yang menyesakkan adalah kebebasan sebebas-bebasnya. Ketenangan batin memungkinkan melihat dunia dengan jernih, menikmati momen kecil tanpa beban.
Ketiga, kecukupan material dan finansial memberikan rasa aman. Bukan berarti mengejar kekayaan berlimpah, tetapi memiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa kekhawatiran. Kecukupan ini memberi ruang untuk fokus pada hal-hal yang lebih esensial, seperti hubungan dengan orang-orang terkasih atau mengejar tujuan pribadi, tanpa terbelenggu oleh kekurangan. Kecukupan dalam kesederhanaan dan gaya hidup minimalis.
Keempat, kebebasan dari ekspektasi orang lain sejatinya adalah bentuk kemerdekaan. Hidup tanpa mengharapkan pujian, penghargaan, atau pengakuan dari orang lain membawa ketenangan. Ketika kita tak lagi peduli pada cemoohan, pengabaian, atau hinaan, kita menemukan kekuatan untuk menjadi diri sendiri. Kebebasan ini memungkinkan hidup autentik, menjalani hari sesuai nilai dan keyakinan pribadi, bukan untuk memenuhi harapan orang lain.
Terakhir, keyakinan akan adanya Mahapelindung sebagai pegangan yang kokoh. Kita sadar bahwa kemampuan dan kekuatan terbatas, bahwa keberhasilan bukan semata hasil usaha sendiri. Ada kekuatan lebih besar yang menolong di saat sulit, mendampingi dalam kesusahan, dan menjadi tempat bersyukur dalam sukacita. Keyakinan ini memberi makna mendalam, menjadikan hidup bukan sekadar perjalanan, tetapi sebuah petualangan yang dipandu oleh tujuan yang lebih besar.
Dalam pencarian ini, mungkin kita tak akan pernah menemukan jawaban pasti untuk setiap pertanyaan. Namun, dengan kesehatan, ketenangan batin, kecukupan, kebebasan, dan keyakinan, kita bisa menjalani hidup penuh makna, menikmati setiap langkah, dan bersiap untuk apa pun yang menanti di ujung perjalanan. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





