BAHWA Republik bukan hanya milik birokrat kota, atau cendekiawan di kampus. Bukan hak eksklusif pembicara di youtube dan televisi. Bukan juga semata milik pahlawan yang namanya diabadikan di monumen. Republik ini milik semua. Rakyat yang menghidupinya bahkan milik semua makhluk yang ada di dalamnya.
Menjelang peringatan hari kemerdekaan, kita disadarkan bahwa nasionalisme lahir bukan semata dari pidato-pidato agung, tapi juga dari kampung yang sepi. Nasionalisme kampung yang begitu menarik. Sebuah semangat merdeka autentik, tapi sering terlupakan. Pertanyaannya adalah apakah ini bentuk patriotisme paling murni, atau justru rahasia kekuatan bangsa yang tersembunyi.
Pada momen peringatan kemerdekaan ke-80 tanggal 17 Agustus 2025, suasana di kampung luar biasa mempesona dengan energi tak terduga. Warga biasa, dari petani hingga ibu rumah tangga, bergotong royong membangun gapura dari bambu dan kayu sederhana. Membersihkan jalan dan lingkungan hingga tertata apik, memasang umbul-umbul merah-putih yang berkibar sepanjang hari. Spanduk-menghiasi jalan, sementara mural di beberapa kampung menguatkan ingatan kepada para pahlawan.
Di malam hari, gemerlap lampu kelap-kelip di beberapa rumah, masjid, perkantoran bahkan pos ronda. Kampung yang biasanya sepi, saat ini semarak dengan ornamen hiasan bendera mini, kreativitas daur ulang sampah, hiasan dari berbagai bahan lokal dan kertas warna-warni. Semuanya seperti pesta rakyat yang tak terencana, tapi penuh gairah.
Tak berhenti di sini, kemeriahan meluas ke berbagai aktivitas masyarakat. Pertandingan olahraga voli antarkampung, lomba paduan suara, hingga kompetisi kebersihan lingkungan yang membuat kampung tampak resik, serta lomba menghias pos ronda. Puncaknya, nanti di hari Minggu yaitu karnaval tujuh belasan menuju lapangan upacara, dengan tema perjuangan. Semua ini bukan sekadar acara tahunan tetapi ritual yang menyatukan masyarakat. Dan yang lebih mengagumkan, biaya sepenuhnya mandiri. Tidak ada dana dari APBDes, tidak ada subsidi dari pemerintah daerah atau pusat. Warga berkontribusi sesuai kemampuan dan keikhlasan; mungkin dana, tenaga, pikiran atau sekadar kehadiran. Bukan soal uang, bukan soal materi, bukan pamer tapi tentang rasa memiliki. Bahwa kemerdekaan adalah milik semua dan sepantasnya dirayakan bersama.
Fenomena ini adalah budaya yang mengakar kuat, lahir dari ingatan kolektif tanpa perlu seminar, rencana strategis, atau resensi filosofis.
Ada baiknya jangan pernah berpikir untuk mengintervensi, memperbaiki, atau mengembangkannya. Walaupun bisa saja mengintervensi dengan menyuntik dana besar, mengatur format acara, atau menambahkan elemen modern. Tapi hasilnya, keaslian hilang digantikan oleh sesuatu yang artifisial. Intervensi berpotensi merusak keindahan budaya kampung. Jadi, biarkan saja semua berjalan alami, dan kalau mau, ikut mengalir di dalamnya tanpa harus menjadi merasa pintar, berpengalaman, moderen dan berwawasan. Hanya warga biasa.
Nasionalisme kampung mengajak kita bertanya lebih dalam; apakah patriotisme sejatinya datang dari atas, atau justru dari bawah. Orang kampung memberi pelajaran berharga tentang kemandirian dan kebersamaan. Sekarang saatnya kembali ke akar, mengamati bagaimana semangat merdeka tumbuh tanpa paksaan. Siapa tahu, di balik gapura bambu, tersimpan rahasia bagaimana bangsa ini bertahan selama 80 tahun.
Pulanglah barang sejenak. Jelajahi nasionalisme versi kampung sendiri. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





