Kurikulum S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Integrasikan Kajian Agama dan Budaya Lokal

4b14cf25 c9af 4952 bfc9 7e78eae0f209
Program Studi Magister (S2) Studi Agama-Agama, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menggelar Workshop Kurikulum bertajuk “Memahami Agama dan Budaya Lokal melalui Kasepuhan Adat Gelaralam”, di Aula Lantai 4 (Cinema), Kamis, 18 September 2025, (Foto: Humas UIN Bandung).

ZONALITERASI.ID – Program Studi Magister (S2) Studi Agama-Agama, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menggelar Workshop Kurikulum bertajuk “Memahami Agama dan Budaya Lokal melalui Kasepuhan Adat Gelaralam”, di Aula Lantai 4 (Cinema), Kamis, 18 September 2025.

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mengembangkan kurikulum yang mampu mengintegrasikan kajian agama dengan khazanah kearifan lokal, sehingga kajian akademik tidak terlepas dari konteks sosial-budaya masyarakat Indonesia.

Dengan menghadirkan dua narasumber utama, yakni perwakilan Jembatan Kasepuhan Gelaralam Sukabumi, Yoyo Yogasmana dan dosen Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Bandung, Dr. Ahmad Gibson Al Busthomi, M.Ag..

Workshop diawali dengan sambutan Ketua Prodi S2 Studi Agama-Agama, Prof. M. Taufiq Rahman, yang menyampaikan apresiasi kepada para narasumber, panitia, dan peserta. Dalam prakatanya, Prof. Taufiq menekankan pentingnya mengintegrasikan studi agama dengan realitas lokal agar kajian keilmuan tidak tercerabut dari akar masyarakatnya.

Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Direktur I Pascasarjana UIN Bandung, Prof. Ajid Thohir, yang menegaskan soal penguatan dimensi lokal dalam kajian agama merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan kebudayaan di era global.

Dalam pemaparannya, perwakilan Jembatan Kasepuhan Gelaralam Sukabumi, Yoyo Yogasmana, menjelaskan kasepuhan adat Gelaralam tidak sekadar melestarikan tradisi, tetapi berusaha mengembangkan kemandirian dan inovasi. Sejak tahun 1987, masyarakat kasepuhan memanfaatkan kincir air untuk pembangkit listrik, lalu berlanjut ke pemanfaatan turbin modern, hingga kini mampu mengelola jaringan radio, televisi, dan internet secara mandiri.

Kang Yoyo, sapaan akrabnya, menekankan filosofi kasepuhan, “ngigelan jaman tapi ulah kabawa ku jaman”, mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri tradisi.

“Tradisi pertanian padi yang tidak diperjualbelikan di kasepuhan menjadi simbol kearifan menjaga titipan leluhur dan kesinambungan ekologi,” jelasnya.

Dosen Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Bandung, Ahmad Gibson Al Busthomi, menyoroti kosmologi Sunda sebagai kerangka penting dalam memahami hubungan antara agama dan budaya.

Baba Icon, sapaan akrabnya, menjelaskan adanya tiga lapisan kosmos dalam pandangan Sunda: jatiniskala (entitas ketuhanan), niskala/madyapada (ruang spiritual), dan sakala/marcapada (dunia nyata). Dalam konteks ini, hubungan manusia dengan Tuhan diwujudkan melalui penghormatan terhadap karuhun (leluhur).

“Agama dan budaya selalu berkelindan, namun modernitas membuat banyak masyarakat kehilangan makna budaya karena tidak lagi memahami akarnya. Dengan demikian, studi agama tidak dapat dilepaskan dari dimensi budaya, sebab keduanya saling menopang dalam membentuk identitas masyarakat,” ujarnya.

Diskusi interaktif berlangsung hangat dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satu isu yang mengemuka tentang peran kasepuhan dalam menjaga generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya. Menanggapi hal tersebut, Kang Yoyo menegaskan bahwa Islam di kasepuhan dipahami bukan hanya sebagai agama, melainkan sebagai komitmen etis untuk menjaga manusia dan alam. Sejak usia delapan tahun, anak-anak sudah dilatih tanggung jawab melalui pekerjaan sebagai penggembala, yang membentuk disiplin, manajemen emosi, dan kepedulian ekologis.

Workshop yang dipandu oleh Rosihan Fahmi, seniman sekaligus penggiat budaya, ini meneguhkan relevansi integrasi agama dan budaya lokal dalam pengembangan kurikulum studi agama-agama.

Dengan pendekatan semacam ini, Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Bandung berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya mumpuni dalam analisis akademik, tetapi memiliki kepekaan budaya serta kemampuan menjembatani nilai-nilai agama dengan konteks masyarakat Indonesia. (des)***