Oleh Suheryana Bae
DESA Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis sangat strategis. Persis berada di “tengah-tengah” segala arah. Mau ke Ciamis lewat Sukadana, atau ke Bandung lewat Kawali, dan ke Cirebon lewat Panawangan. Yang bikin hati bergetar adalah semangat warganya yang ingin desa ini tidak hanya “dilalui”, tapi jadi tujuan.
Saat ini, kantor kecamatan dan koramil sudah berdiri gagah di jantung desa. Pertanda desa Cileungsir sebagai pusat pemerintahan kecamatan.
Yang lebih membanggakan adalah mimpi besar warganya. Tidak mau Cileungsir hanya jadi “kota transit”. Tetapi ingin desa ini punya banyak wajah sekaligus:
Pertama, kota pendidikan. Di sini sudah ada SMP negeri, Madrasah Tsanawiyah, dan SMK negeri maupun swasta yang terus berkembang. Anak-anak dari daerah lain kini tidak perlu jauh-jauh ke kota kabupaten kalau mau sekolah berkualitas.
Kedua, kota agamis yang ramah. Dusun Sukamaju punya pesantren besar yang memadukan tradisi salafi dan pendidikan formal modern. Santri datang dari berbagai daerah, membawa berkah ekonomi sekaligus menebar ilmu dan akhlak. Bisa jadi pusat dakwah yang hangat, yang mengundang orang-orang untuk belajar agama sambil menikmati alam desa.
Ketiga, pusat ekonomi kerakyatan. Para perantau yang sukses mulai pulang kampung membawa modal dan ide. Toko-toko, bengkel, salon, studio foto dan dan pusat jajanan. Mereka tidak hanya membuka lapangan kerja, tapi juga mengajari warga lokal: “Kita bisa mandiri, bisa maju tanpa harus jadi pegawai kantor!”
Keempat, surga agribisnis dan peternakan. Lahan subur, air tercukupi, ditambah Balai Penyuluh Pertanian di Pangrumasan, membuat Desa Cileungsir sangat potensial menjadi pusat pertanian dan peternakan. Bayangkan ke depan akan ada agrowisata kebun kopi dan sayur organik.
Kelima, destinasi wisata desa yang instagramable. Kedai Kopi Ki Oyo dan Kafe Cibebelik di Cileungsir, “Ngopi di Kebon” di Sukamaju, sampai villa sederhana di Sukajadi, villa Jati di Cibueuk.
Cileungsir sedang menulis cerita baru: dari desa yang “hanya dilalui” menjadi desa yang “dicari orang”. Semua ini tidak datang tiba-tiba. Ada perantau peduli kampung, ada pemuda yang berani buka usaha, ada santri yang berdakwah lewat tindakan nyata, ada petani yang mau belajar teknologi baru. Mereka semua adalah bukti bahwa desa bisa bermimpi besar — dan mewujudkannya.
Cileungsir, bukan akhir perjalanan — tapi awal yang indah. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.





