Catatan Pensiunen 28: Dimulai dari Pikiran Sehat

96215979 3456695321012202 8743976368619913216 n
Suheryana Bae, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Suheryana Bae

AND the time goes by. Waktupun mengalir seperti air selokan di kampung yang dikelilingi hutan nan rimbun. Tak pernah berhenti. Ada saatnya ketika hari-hari dipenuhi rutinitas, bangun pagi, menyiapkan diri untuk bekerja, menghadapi tantangan di kantor, lalu pulang untuk istirahat. Dan kini, sebagai pensiunan, dunia terasa berbeda—lebih sunyi, tapi juga lebih luas. Ada ruang untuk berhenti; menoleh ke belakang, dan bertanya, apa yang telah kulewati, dan ke mana langkahku selanjutnya.

Refleksi diri ini bukan sekadar nostalgia, melainkan jalan untuk memahami makna hidup yang telah dijalani dan yang akan dijalani. Lebih dari itu, refleksi membawa kesadaran bahwa hidup sehat dimulai dari pikiran yang sehat, sesuatu yang kini terasa semakin penting.

Pikiran sehat itu seperti taman yang tetap hijau meski musim berganti. Bukan berarti selalu penuh bunga atau bebas dari gulma, tetapi tentang kemampuan untuk merawatnya dengan penuh kesadaran. Aku belajar bahwa pikiran sehat bukan tentang selalu bahagia atau bebas dari kekhawatiran. Pikiran sehat adalah ketika bisa menerima emosi yang datang, entah itu kegembiraan atau keresahan, tanpa membiarkannya menguasai diri.

Menoleh ke belakang, aku melihat perjalanan penuh warna. Ada momen keberhasilan yang membanggakan -pekerjaan kantor mencapai target, inovasi di lingkungan kerja, anak-anak yang tumbuh dan berkembang, atau kepercayaan dari rekan kerja. Tapi, ada juga penyesalan. Keputusan yang keliru, waktu yang terlewat untuk keluarga, membersamai anak bertumbuh, atau hubungan yang tak terjaga. Refleksi ini mengajarkan untuk memaafkan diri sendiri. Tidak semua bisa sempurna, dan itu manusiawi. Bahwa keberhasilan bukan hanya soal pencapaian besar, tetapi juga tentang keteguhan menjalani hari-hari sulit dengan penuh tanggung jawab. Pikiran sehat membantu  melihat ini dengan lebih jernih, tanpa terjebak dalam penyesalan.

Pikiran sehat juga tentang fleksibilitas. Dulu, terbiasa dengan jadwal ketat, tapi kini hidup tak lagi ada struktur. Awalnya, terasa aneh, bahkan menakutkan. Tapi, aku belajar untuk menerima perubahan, seperti bambu yang lentur namun kuat. Menikmati hal-hal kecil yang dulu terabaikan, bermain dengan cucu, obrolan ringan keluarga, atau secangkir teh di malam hari. Aku juga belajar mengelola stres dengan cara sederhana. Berjalan menyusuri kampung, mendengarkan musik, atau sekadar duduk diam sambil membaca buku.

Evaluasi diri membawa pada pertanyaan yang lebih dalam: apa yang benar-benar penting. Keluarga, kesehatan, atau mungkin keyakinan yang memberi pegangan? Aku menyadari bahwa di masa bekerja, sering terlalu sibuk mengejar target hingga lupa hadir di sebuah momen keseharian sepenuhnya. Kini, ingin lebih memperhatikan momen-momen kecil yang memberi makna. Belajar untuk bersyukur—bukan hanya atas hal besar, tetapi juga atas hal sederhana seperti kesehatan yang masih memungkinkan berjalan setiap pagi atau senyum tetangga saat bertemu di jalan.

Masa pensiun memberi ruang untuk melihat ke depan. Meski usia tak lagi muda, hidup belum berhenti. Aku bertanya pada diri sendiri, apa yang masih ingin  dipelajari dan apa yang bisa dikontribusikan kepada orang lain.

Mungkin ini saatnya mencoba hobi yang dulu sempat tertunda. Apapun itu. Atau mungkin inilah waktu untuk berbagi pengalaman melalui tulisan atau obrolan sambil menunggu adzan di surau kampung.  Pikiran sehat mendorong untuk tetap terbuka pada kemungkinan baru, tanpa takut gagal atau merasa terlambat.

Tentu, ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah atau pikiran dirundung kekhawatiran tentang masa depan. Di saat seperti itu, aku belajar untuk menerima keterbatasan dengan lapang dada. Salat, berdoa, atau mengobrol dengan sesama makhluk membantu untuk menemukan ketenangan. Menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitar juga ternyata seperti “vitamin” untuk pikiran. Sekadar ngobrol di teras dengan tetangga atau menghubungi teman lama bisa menghidupkan kembali semangat.

Refleksi diri dan pikiran sehat adalah dua sisi dari koin yang sama. Dengan merenung artinya belajar mensyukuri apa yang telah ada, menerima apa yang tak bisa diubah, dan membuka hati untuk hari esok. Sebagai pensiunan, aku masih punya cerita untuk ditulis, kasih untuk dibagi, dan mimpi untuk dikejar.

Hidup sehat dimulai dari pikiran yang sehat, dan pikiran sehat lahir dari kesediaan untuk terus belajar tentang diri sendiri. Ke mana pun langkah ini membawa, aku ingin menjalaninya dengan penuh makna. Satu hari pada satu waktu. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *