Kemampuan Guru Beradaptasi dengan Kebijakan Baru

WhatsApp Image 2026 01 07 at 13.18.29
Dadang A. Sapardan, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Dadang A. Sapardan

SATU waktu mendapat kunjungan kepala sekolah dan guru dari salah satu sekolah di Cikalongwetan. Dalam pertemuan itu sempat ngobrol ringan tentang fenomena perubahan dalam kebijakan pendidikan di Indonesia yang harus diimplementasikan oleh setiap satuan pendidikan. Obrolan berkenaan dengan perubahan kebijakan mendasar yang didasari dengan perubahan kepemimpinan pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam obrolan tersebut terungkap bahwa salah satu perubahan kebijakan yang harus dilakukan dan diimplementasikan oleh satuan pendidikan adalah penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Penerapan kebijakan tersebut melahirkan kegalauan karena tidak sedikit dari kepala sekolah dan guru yang minim pengetahuan dan informasi tentang pendekatan baru tersebut. Sekalipun demikian, perubahan kebijakan tersebut menjadi stimulant bagi kepala sekolah dan guru untuk mendalami pendekatan pembelajaran mendalam yang diamanatkan Kementerian.

Membangun dan mengembangkan pendidikan harus dilakukan pada upaya pengembangan masyarakat secara utuh, sehingga keberlangsungan proses pendidikan memiliki relevasi dengan perkembangan sosial, budaya, serta tantangan zaman yang akan dihadapi oleh para murid. Dengan demikian, berbagai perubahan selalu mewarnai sektor pendidikan dalam upaya menyesuaikan dengan kebutuhan kontekstual masa kini dan masa mendatang. Pengelolaan pendidikan tidaklah berada pada posisi statis tetapi harus bernuansa dinamis.

Pendidikan menjadi satu momentum yang berpandangan jauh ke depan dalam upaya menyiapkan generasi penerus bangsa sehingga ranah ini menjadi tool untuk mengarahkan pada upaya membangun masyarakat ideal yang memiliki nilai-nilai universal seperti kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai itulah yang dilekatkan melalui proses pendidikan sehingga menjadi bagian integral setiap murid melalui proses pengalaman belajarnya di bawah bimbingan para guru. Nilai-nilai itulah yang menjadi bekal para murid untuk mengarungi kehidupan masa depannya. Dengan demikian, pendidikan harus dimaknai sebagai instrument transformasi sosial yang memungkinkan murid menjadi manusia yang mampu berkembang seiring dengan perubahan zaman.

Satuan pendidikan yang menjadi ujung tombak kebijakan pendidikan. Setiap satuan pendidikan dengan guru di bawah arahan kepala sekolah sebagai salah satu unsur ekosistem di dalamnya harus dapat menerjemahkan setiap kebijakan aktual pendidikan. Kemampuan ini dibutuhkan agar mampu mengimplementasikan kebijakan baru pendidikan tersebut dalam tataran teknis.

Sebagai salah satu ekosistem dalam satuan pendidikan, guru terposisikan pada tempat sangat strategis. Sosok guru berada di garis depan proses transformasi setiap muridnya. Mereka menjadi sosok yang berhadapan langsung dengan murid dalam upaya melahirkan sumber daya manusia unggul dan berkompeten. Lahirnya sosok sumber daya manusia demikian diharapkan mampu menghadapi kehidupan masa depan yang semakin kompleks.

Guru menjadi unsur sentral yang dapat mendukung keberlangsungan pembelajaran. Guru menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan pendidikan, bahkan menjadi faktor pengungkit pemajuan pendidikan dengan core peningkatan kualitas, output dan outcomes dari setiap muridnya. Peran guru dalam pendidikan, paling utama berada dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Mulai dari penyusunan perencanaan sampai dengan pelaksanaan proses pembelajaran, sosok guru berperan sangat strategis. Bagaimana proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik, memiliki ketergantungan terhadap upaya yang dilakukan setiap guru dalam menstimulasi murid untuk mengikuti pembelajaran.

Dengan demikian, penyiapan guru yang mampu menafsirkan kebijakan pendidikan sehingga dapat menerapkan dalam pelaksanaan pembelajaran merupakan langkah mutlak dan harus terus-menerus dilakukan oleh para pemangku kebijakan pendidikan. Upaya tersebut didasari tujuan agar setiap guru memiliki kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran dengan efektif dan efisien. Dalam konteks saat ini, seorang guru harus mampu mengimplementasikan kurikulum Merdeka dengan menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

Untuk menyiapkan guru yang dapat menyikapi perubahan tersebut bukanlah perkara mudah, apalagi perubahan yang diberlakukan secara parsial, dalam perbedaan rentang waktu. Guru harus memiliki kemampuan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka yang sudah tersusun sebelumnya dengan menggunakan pendekatan pembelajaran mendalam yang menjadi kebijakan susulan. Untuk menyikapinya, berbagai langkah sitematis, terstruktur, dan masiv harus dilakukan, di antaranya melalui pemberian penguatan kapasitas guru terkait dengan penerapan pendekatan pembelajaran mendalam dalam konteks kurikulum merdeka.

Dengan tampilan guru yang mampu melakukan perubahan terus menerus melalui proses adaptasi dengan kebijakan yang diberlakukan, tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam visi pendidikan Indonesia diharapkan dapat tercapai. Stimulasi untuk melakukan perubahan setiap saat harus datang dari sisi internal dan eksternal. Guru harus memiliki keinginan kuat untuk terus berubah dalam menerapkan pola pembelajaran yang dilakukannya. Demikian pula dengan para pemangku kebijakan, mereka harus dapat men-support secara penuh dalam upaya menguatkan kompetensi guru.

Salah satu kebijakan baru yang harus mampu diimplementasikan oleh setiap guru adalah penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini merupakan langkah yang dilakukan oleh Kemendikdasmen untuk menjawab krisis pembelajaran serta menjadi kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Melalui penerapan pendekatan ini, murid diharapkan memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi, mampu menerapkan pengetahuan dalam konteks dunia nyata, serta dapat mengikuti pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Pendekatan ini mendorong setiap murid untuk belajar secara sadar dan penuh perhatian, menikmati proses pembelajaran dengan antusias dan semangat serta menemukan makna dan relevansi dari apa yang dipelajari terhadap kehidupan mereka. Hal ini memungkinkan murid untuk terlibat aktif, menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, dan membangun pemahaman yang berdampak jangka panjang.

Dengan pembelajaran berkesadaran, murid diajak untuk hadir secara penuh dalam proses pembelajaran yang diikutinya sehingga mereka memahami bahwa belajar adalah proses refleksi mendalam yang melibatkan penerimaan keragaman perspektif dan komitmen untuk terus berkembang. Pembelajaran bermakna menekankan bahwa materi yang diajarkan memiliki relevansi dengan kehidupan nyata murid, sehingga pendidikan harus dikaitkan dengan konteks sosial, budaya, serta tantangan kehidupan keseharaian yang dihadapi setiap murid. Akan halnya dengan pembelajaran berkesadaran berkenaan dengan pengondisian terhadap murid untuk terlibat secara menyeluruh, meningkatkan kesadaran berpikir, perasaan, dan lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, dapat disintesikan bahwa core utama pendekatan pembelajaran mendalam adalah pembelajaran berkesadaran, pembelajaran bermakna, serta pembelajaran menggembirakan. Pada ketiganya, setiap guru harus berkonsentrasi saat melaksanakan proses pembelajar.

Pemahaman tentang pendekatan mendalam yang menjadi kebijakan baru dalam sistem pendidikan harus terus dikuatkan oleh setiap pemangku kepentingan. Bagi guru penerapan pendekatan baru bukanlah pekerjaan berat karena selama ini mereka terbiasa dengan kebijakan baru. Kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan kebijakan baru yang harus diterapkannya sudah sering harus dilakukan. Berkenaan dengan keharusan menerapkan pendekatan mendalam pada kurikulum merdeka, mereka tinggal mensintesiskan berbagai pengetahuan yang telah dimilikinya dengan kebijakan penerapan pendekatan pembelajaran mendalam.

Tidak bisa dipungkiri bahwa guru merupakan sosok yang harus mengikuti perkembangan kehidupan masa kini tetapi harus dapat menyiapkan setiap murid agar dapat survive dalam kehidupan masa depan. Guru merupakan sosok yang hidup pada masa sekarang tetapi harus memiliki wawasan jauh ke depan sehingga mampu memprediksi fenomena kehidupan masa depan yang akan dihadapi setiap muridnya. Guru harus menjadi sosok futuristik, sosok dengan pandangan yang jauh ke depan. Di tengah ekspektasi demikian, mereka harus mampu pula beradaptasi dengan berbagai kebijakan baru yang dilahirkan para pemangku kebijakan pendidikan. ***

Dadang A. Sapardan, Pemerhati Pendidikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *