Oleh Suheryana Bae
PENSIUN bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari petualangan baru di lautan kehidupan yang maha luas. Masa ini adalah saat ketika kita bebas memilih peran baru—menjadi cendekiawan, petani, ulama, petualang, traveler, penulis atau apa pun yang kita impikan. Dengan keluasan waktu yang tersedia, pensiun menawarkan peluang untuk mengejar hasrat, memperdalam makna hidup, dan menikmati setiap langkah dalam prosesnya. Namun, keberhasilan di masa pensiun tidak datang seketika melainkan sebuah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dedikasi, dan semangat untuk terus belajar.
Menyelami Dunia Pengetahuan
Pensiun membuka pintu untuk menjadi cendekiawan sejati. Dengan waktu luang yang melimpah, kita bisa menyelami buku-buku yang selama ini hanya tersimpan di rak (atau membaca buku digital di epusnas), mempelajari topik baru, atau mendalami bidang yang selalu menggugah rasa ingin tahu. Membaca tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menjaga ketajaman pikiran. Kita bisa bergabung dengan komunitas diskusi, menulis esai, atau bahkan berbagi pengetahuan melalui blog atau seminar. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah menuju kebijaksanaan, dan proses ini adalah anugerah yang patut dinikmati.
Menjadi Petani atau Peternak
Bagi mereka yang merindukan kedekatan dengan alam, pensiun adalah waktu yang tepat untuk menjadi petani atau peternak. Meski tenaga mungkin tidak sekuat dulu, waktu luang memungkinkan kita untuk merawat kebun kecil, menanam sayur-sayuran, atau memelihara ternak. Proses ini tidak hanya memberikan kepuasan fisik, tetapi juga ketenangan batin. Menyaksikan benih tumbuh menjadi tanaman atau merawat hewan adalah pengingat bahwa kehidupan adalah siklus yang penuh makna. Dengan kesabaran, hasil panen—baik berupa buah maupun pengalaman—akan menjadi hadiah yang berharga. Dan yang terpenting adalah dapat mengisi waktu secara positif serta mendapat ilmu dari praktek kehidupan.
Memperdalam Spiritualitas
Pensiun juga membuka kesempatan untuk mendalami ilmu agama dan mempraktikkannya dengan penuh kesadaran. Waktu yang tersedia dapat digunakan untuk mempelajari kitab suci, menghadiri pengajian, atau terlibat dalam kegiatan keagamaan di komunitas. Menjadi ulama atau agamawan tidak selalu berarti menjadi pemimpin formal, tetapi juga tentang memperkaya jiwa dan berbagi kebaikan dengan orang lain. Media modern seperti platform daring memudahkan akses ke ceramah atau belajar agama, menjadikan proses ini lebih kaya dan terjangkau. Setiap doa dan tindakan baik adalah langkah menuju kedamaian batin.
Menikmati Proses adalah Kunci Keberhasilan
Apa pun peran yang dipilih, pensiun mengajarkan bahwa keberhasilan adalah hasil dari proses yang dinikmati. Tidak ada yang instan. Bahwa setiap langkah—entah itu membaca buku, merawat tanaman, atau mendalami agama—membutuhkan waktu dan ketekunan. Proses bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk menemukan makna baru dalam hidup. Dengan semangat dan pikiran yang terbuka, pensiun menjadi kanvas luas untuk melukis impian, menjelajahi potensi, dan meninggalkan warisan yang bermakna.
Pada akhirnya, pensiun adalah undangan untuk hidup dengan penuh gairah. Dan kita dapat memilih peran yang sesuai dengan jiwa, menikmati setiap momen, dan biarkan waktu membawa menuju keberhasilan sejati. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.





