Refleksi Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H., Menghitung Sisa Usia: Antara Obsesi Khatam dan Transformasi Takwa

WhatsApp Image 2026 01 14 at 19.06.15
Nurholis, M.Ud., (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Nurholis, M.Ud.

SESUAI penanggalan Masehi atau Hijriyah, bulan suci Ramadhan 1447 H. akan jatuh pada 18 Februari 2026. Di bulan itu, segenap umat Islam akan kembali memasuki bulan yang penuh berkah, hikmah, dan pahala yang berlipat ganda. Namun, sebelum kita larut dalam euforia kesibukan ritual yang biasa terjadi di bulan itu, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk berhitung.

Mari kita mulai simulasi ini dengan menghitung usia akil baligh bagi seorang muslim laki-laki atau perempuan. Dengan ini penulis ingin memastikan kapan beban tanggung jawab syar’i mulai diletakkan di pundak, dan kapan setiap perbuatan mulai dihisab secara mandiri di hadapan Tuhan.

Untuk mempermudah, mari kita gunakan patokan kedewasaan yang ada dalam kitab wajib para santri, Safinatun Najah, karya ulama besar kebanggaan Nusantara, Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani. Beliau menetapkan bagi laki-laki ukuran dewasa ditandai dengan mimpi basah, atau di usia sekitar 12 tahun, dan di perempuan adalah mengalami haid atau sekitar usia sembilan tahun. Usia itulah dalam simulasi seperti disebutkan di atas akan menjadi ukuran awal seseorang menjadi mukallaf (orang yang memikul tanggung jawab agama secara mandiri).

Matematika Ketaqwaan

Mari kita hitung secara sederhana: jika saat ini kita berusia 60 tahun, maka secara hitungan dewasa, kita telah menjalani latihan puasa sebanyak 48 bulan (60 – 12 = 48). Siapa pun bisa menghitungnya sendiri sesuai usia masing-masing dengan rumus yang sama, hingga hasilnya adalah durasi waktu yang telah kita habiskan untuk menjalani puasa di bulan Ramadhan sebagai jalan untuk menjadi orang bertaqwa.

Bayangkan, 48 bulan masa pelatihan atau sama dengan 4 tahun. Dalam dunia profesional, waktu empat dekade sudah lebih dari cukup untuk menjadikan seseorang seorang ahli atau expert. Namun pertanyaannya: Sudahkah kita benar-benar mencapai derajat taqwa sebagaimana dimaksudkan Gusti Allah dalam QS. Al-Baqarah: 183?

Atau, sudah sesuaikah kualitas diri kita saat ini dengan lama latihan yang sudah kita jalani? Jujur saja, ada rasa malu yang muncul saat mencoba menjawab pertanyaan ini. Malu karena jangan-jangan, puluhan tahun waktu yang diberikan hanya habis untuk menggugurkan kewajiban.

Jebakan Angka dan Obsesi Khatam

Mengapa harus malu? Mari kita telusuri ciri orang bertaqwa dalam Al-Qur’an. Dalam QS. Al-Baqarah: 2, ditegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi mereka. Namun, sudahkah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas hidup, atau baru sebatas kompetisi bacaan?

Pada kenyataannya, seringkali kita lebih suka mengejar target khatam berkali-kali di bulan Ramadhan demi mengejar pahala statistik, namun abai dalam mengungkap makna. Kita lebih suka lisan yang sibuk bertadarus ketimbang hati yang berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai Al-Furqan—penjelas dan pembeda antara yang haq dan yang bathil (QS. Al-Baqarah: 185). Kondisi tersebut mengingatkan kita pada kritik tajam dari pemikir besar Sir Muhammad Iqbal:
Jika kau tak mampu membaca Al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu saat itu juga, maka ia hanyalah sekadar tumpukan kertas dan tinta.”

Menakar Kurikulum Takwa

Jika menengok Q.S. Ali Imran 133-135, Allah SWT memberikan indikator yang sangat gamblang terkait orang bertaqwa. Q.S. tersebut setidaknya menyebut orang bertaqwa adalah mereka yang:

1. Gemar berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit,

2. Senantiasa merasa kurang dalam beribadah sehingga hatinya selalu basah dengan permohonan maaf (istighfar),

3. Sukses menahan amarah dan kehadirannya memberikan manfaat nyata bagi sesama.

Imam Al-Ghazali pun memberikan sentilan yang sangat provokatif bagi kita yang terjebak pada ritualitas semata:
Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus.”

Sebuah Muhasabah Bersama

Sampai di sini, mari kita melakukan muhasabah. Sudah berapa banyak Ramadhan yang lewat hanya sebagai rutinitas tahunan? Apakah tadarus kita masih untuk pahala yang konon berlipat, atau sudah menjadi transformasi perilaku seperti yang dicontohkan Rasululloh Muhammad SAW yang disebut berakhlak Quran?

Sudahkah kita terbiasa memberi di tengah kesempitan? Sudahkah hidup kita memberi manfaat untuk orang lain, dan kebaikan apa yang sudah kita lakukan hingga kita merasa layak mengetuk pintu Rahman dan Rahim-Nya Gusti Allah?

Pada akhirnya, jawaban “ya” atau “tidak” atas pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah rahasia antara kita dengan Sang Pencipta. Namun, di usia yang terus bertambah, pilihan kita hanya satu: benar-benar bertaqwa atau selamanya hanya menjadi “anak magang” yang mengulang-ulang ritual kosong tanpa makna. ***

Nurholis, M.Ud., Pengurus DKM Al-Huda Permai Cipadung, Kota Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *