Oleh Dinn Wahyudin
KAMI memanggilnya Harun. Nama lengkapnya Harun Arrasyid Nasution. Ia lulusan PPG bidang studi Tehnik Bangunan SPs UPI tahun 2020, mahasiswa program kerjasama BPSDM DI Aceh dengan UPI.
“Seusai lulus PPG, saya bersyukur diterima sebagai guru di SMKN 2 Simpang Kiri Kota Subulusalam, Provinsi Aceh,” demikian penggalan awal tulisan yang ia kirim melalui WhatApps Android beberapa waktu lalu.
“Saya sangat menikmati profesi sebagai guru bidang studi produktif di suatu SMK pada kota Santri Subulussalam. Kota bersih, cantik nan elok di Aceh bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.”
”Saya bangga dan senang menjadi guru, mengabdikan ilmu dan keterampilan kepada siswa SMK. Kami bisa berinteraksi setiap hari dengan para siswa, di kelas ataupun di laboratorium sekolah. Walaupun fasilitas sekolah, masih terbatas, kami bisa membekali para siswa dengan berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan bidang bangunan,” sambung Harun.
Spirit ”Sada Kata” atau satu kata, tampaknya bukan sebatas slogan Kota Subulusalam, Provinsi Aceh. Sada Kata adalah ikon yang melekat dan menjadi prilaku keseharian masyarakat setempat dan Pemerintah Kota Subulussalam. Sada Kata maknanya satu kata sepakat. Yaitu kebulatan tekad untuk menjadikan Kota Subulussalam menuju masyarakat yang agamis, aman, damai, sentosa, dengan ciri kesungguhan untuk senantiasa menjaga syariat Islam.
Dalam bahasa Arab, kata Subulussalam artinya jalan menuju keselamatan. Warga kota kecil ini hidup dalam damai, aman sejahtera dan merupakan kota sejarah para ulama ternama, para dai terkenal dan para pujangga Melayu yang melegenda.
Secara geografis, Kota Subulussalam terletak di bagian selatan Provinsi Aceh, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.
Kota kecil ini juga dikenal bukan hanya karena alamnya yang indah dan kaya sumber hayati seperti damar, rotan, kemenyan, juga wilayah ini terkenal telah melahirkan ulama besar dan sastrawan legendaris.
Kota Pujangga Hamzah Fansury
Salah satu ulama dan pujangga Melayu yang sangat terkenal pada abad 16 adalah Syeh Hamzah Fansury. Ia terkenal sebagai sosok pujangga sufi yang kharismatik. Nama Hamzah Fansury merupakan seorang ulama sufi dan sekaligus pujangga atau sastrawan moyan abad ke 16. Syair karya Sang Pujangga Melayu Hamzah Fansury sangat melegenda. Nama ‘Fansuri’ sendiri berasal dari arabisasi kata Pancur, sebuah kota kecil di pesisir Barat Tapanuli Tengah, dekat kota bersejarah Barus. Dalam zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu (sekarang bernama Kota Subussalam) terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bagian Aceh Selatan.
Teeuw,A (1994) menyebut Hamzah Fansury sebagai penyair tasawuf yang produktif dan inovatif. Penyair abad 16 yang berani berinovasi dengan menggunakan pilihan kata yang kreatif, sufistik, dan tak segan menggunakan kata dalam bahasa Arab atau Persia dalam puisinya. Berikut cuplikan Syair Perahu karya Hamzah Fansury:
Inilah gerangan suatu madah
mengarang syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah…
Itulah penggalan syair karya Hamzah Fansury yang melegenda. Sang Penyair Legendaris Melayu. Syair lainnya antara lain syair Perahu, syair Pedagang, syair Burung Pingai. Walau wafatnya masih misteri, warga Subulussalam meyakini Penyair Hamzah Fansury wafat dan dimakamkan di peristirahatan terakhirnya di suatu bukit rimbun di pinggiran Kota Subulussalam.
The Town of Durian
Kota Subulussalam juga terkenal dengan aneka buah-buahan. Salah satunya durian khas Subulussalam. durian kuning kunyit dengan cita rasa selangit. Durians all season. Durian cita dan aroma yang khas, cocok bagi penggemar durian untuk memanjakan lidahnya. Durian dengan warna kuning kunyit dengan rasa legit dan kepahitan. Ada juga durian lokal Sikelang Subulussalam dengan warna oranye kemerahan dengan rasa manis pahit, kualitas unggul dengan daging tebal, rasa legit manis, aroma kuat, dan tekstur lembut seperti mentega, menjadikan durian lokal ini menjadi incaran para pengunjung lokal, regional dan nasional.
Melalui “Kemah Durian” durian lokal Sikelang terus diburu para durian lovers. Rasakan sensasi durian Sikelang yang legit dan melegenda. Varietas lokal durian dengan cita rasa tinggi yang memanjakan lidah para penikmat durian sejati.
Ayo berkunjung ke kota kecil yang indah Subulussalam. The town of durians – all seasons. Bagi sahabat yang senang melancong, berkunjunglah ke Kota Subulussalam Aceh. Perjalanan 4-5 jam dari kota sekitar Danau Toba. Kota para santri yang indah hijau dengan ciri warga kota yang agamis. Cicipi juga durian khas Subulussalam yang berwarna kuning kunyit yang legit. Nikmati dan rasakan sensasinya. Itulah kota kecil Subulussalam. Kota Sada Kata yang beritikad menuju warga kota yang berbahagia lahir bathin. Bagian dari NKRI yang berdasarkan Pancasila menuju Bangsa Indonesia yang baldatun thayyibattun wa rabbun ghafur.
Allah SWT berfirman dalam Surah Saba ayat 15, Laqad kaana lisaba in fi maskanihim aayah, jannataani ‘ay yaminiw wasyimal, kulu mir riqki rabbikum wa syukurullah, baldatun tayibatuw wa rabbun gafur.
Sungguh bagi kaum Saba ada tanda kebesaran Tuhan, di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, “makanlah olehmu dari rizki yang dianugrahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kepadaNya. Negerimu adalah negeri yang baik nyaman sedang Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. ***
Dinn Wahyudin, Guru Besar Ilmu Pengembangan Kurikulum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wakil Rektor I Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN University).





