Pengembangan Potensi Siswa tak Bisa Diukur Hanya dari Nilai Akademik

ratusan guru dan pakar komitmen kembangkan potensi siswa ini tantangannya fkt
Pengembangan potensi peserta didik tidak dapat diukur semata-mata dari capaian numerasi dan nilai akademik, (Ilustrasi: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Pengembangan potensi peserta didik tidak dapat diukur semata-mata dari capaian numerasi dan nilai akademik. Anak-anak Indonesia memiliki keragaman bakat dan minat yang perlu difasilitasi secara seimbang sejak dini.

Pernyataan itu disampaikan Pembina Tim Kerja Peserta Didik Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Minhajul Ngabidin, saat pelepasan pemenang nasional lomba gambar Creative Family Award Faber-Castell periode 2024/2025 di Jakarta, Selasa 20 Januari 2026.

“Persiapan generasi muda menjadi agenda penting menjelang Indonesia Emas 2045. Anak-anak kita inilah yang nanti akan berada di posisi menggantikan kita, sehingga perlu kita persiapkan sejak sekarang,” ujar Minhajul.

Menurutnya, keberhasilan anak tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik seperti matematika atau IPA.

“Tidak semata-mata nilai matematika 7, 8, 9, atau 10 yang menentukan, karena kemampuan anak-anak kita itu bermacam-macam,” tuturnya.

Kata Minhajul, ketika anak belum menunjukkan capaian maksimal secara akademik, orang tua dan pendidik tidak perlu khawatir berlebihan. Sebab, mereka punya potensi lain yang bisa kita kembangkan, seperti bakat, minat, keberanian, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama.

“Event-event pengembangan bakat dan penyaluran hobi anak itu tidak kalah penting dalam membangun karakter dan kepercayaan diri mereka,” katanya.

Minhajul juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kecerdasan akademik, nilai keagamaan, serta pembentukan karakter.

Pendidikan yang hanya menekankan satu aspek, lanjutnya, berisiko mengabaikan potensi besar anak. Mengacu pada sejumlah pendekatan pendidikan, ia menyebut kemampuan akademik hanya berkontribusi sebagian kecil terhadap kesuksesan seseorang.

“Kemampuan akademik itu kontribusinya sekitar 20 persen, sementara 80 persennya ditentukan oleh karakter, keberanian, dan kemampuan bekerja sama,” ucapnya.

Minhajul menilai, lomba gambar Creative Family Award sejalan dengan upaya menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara karakter. (haf)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *