Catatan Pensiunan 33: Berjuang untuk Sehat

istockphoto 1526554844 170667a
Ilustrasi "Catatan Pensiunan 33: Berjuang untuk Sehat", (Foto: Istockphoto).

Oleh Suheryana Bae

MASA tua adalah babak baru yang seharusnya dijalani dengan bijaksana. Setelah puluhan tahun berjuang membangun karier, menabung, dan mengejar ambisi, tiba saatnya mengalihkan energi ke hal yang benar-benar berharga yaitu “kesehatan fisik-mental dan kenyamanan hidup”.

Usia senja adalah waktu untuk memelihara apa yang dimiliki, bukan lagi ingin menambah yang justru bisa mempercepat kehilangan.

Tubuh di usia 60 tahun tidak lagi sama dengan saat berusia 30 atau 40 tahun. Metabolisme melambat, tulang rapuh, otot menyusut, dan daya tahan tubuh menurun. Di sinilah prioritas harus bergeser secara drastis. Mengejar jabatan, membangun bisnis, atau membeli properti hanya akan menambah stres berat yang mempercepat penuaan dan memicu penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, hipertensi, hingga demensia.

Dulu berpikir pensiun adalah kesempatan membangun karier kedua atau pekerjaan kedua. Tetapi seringkali yang terjadi adalah kegagagalan dan baru sadar bahwa yang tersisa hanya penyesalan karena tidak pernah punya waktu untuk keluarga.

Cerita serupa terdengar di mana-mana. Banyak orang tua yang masih terjebak dalam pola pikir “harus terus produktif secara finansial”, padahal tubuh sudah layak istirahat. Kita lupa bahwa harta yang dikumpulkan di usia senja sangat jarang bisa dinikmati yang tersisa hanya lelah dan sakit.

Sebaliknya, ketika kita memilih berjuang untuk kesehatan dan kenyamanan, hidup menjadi jauh lebih bermakna. Bangun pagi untuk jalan kaki 45 menit, makan sayur-buah yang cukup, tidur 7–8 jam, periksa kesehatan rutin, latihan otot dan keseimbangan — semua ini adalah “investasi” terbaik di usia tua. Kita bisa bercengkrama dengan keluarga, traveling ringan, dan menikmati hari-hari dengan tenang.

Kenyamanan bukan berarti kemewahan. Cukuplah rumah yang bersih dan teratur, keuangan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari plus sedikit cadangan darurat, hubungan keluarga yang hangat, dan lingkaran pertemanan yang saling menyemangati. Banyak lansia yang hidup sederhana tapi bahagia karena mereka punya waktu untuk bertemu teman tiap sore, ikut senam lansia, atau sekadar duduk di teras sambil minum teh menikmati matahari sore.

Seorang nenek berusia 82 tahun yang saya kenal pernah berkata, “Saya dulu punya tiga rumah kontrakan, tapi sekarang sudah saya jual satu per satu. Uangnya saya pakai untuk hidup nyaman, jalan-jalan sama anak-cucu, dan sedekah. Sekarang saya tidur nyenyak, tidak was-was memikirkan cicilan atau penyewa yang macet. Ternyata hidup itu simpel saja: sehat, cukup, dan dicintai.”

Usia senja adalah bonus dari Tuhan. Jangan sia-siakan dengan mengejar hal-hal yang sudah seharusnya kita lepaskan. Lepaskan ego “masih bisa produktif”, lepaskan ambisi menjadi kaya raya, lepaskan ketakutan “kalau tidak bekerja nanti miskin”. Sehat dan nyaman adalah kekayaan sejati di masa tua. Ketika kita sehat dan nyaman, kita bisa menikmati setiap detik kehidupan yang tersisa dengan penuh syukur dan kebahagiaan.

Dimulai hari ini. Jangan tunggu sampai sakit baru menyesal. Usia senja bukan waktu untuk membuktikan apa-apa lagi kepada dunia. Ini waktu untuk membahagiakan diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Sehat adalah harta, nyaman adalah kemewahan. Itu saja. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *