ZONALITERASI.ID – Anak menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami pelecehan seksual.
Berdasarkan data yang dilansir Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebanyak 2.031 kasus pelanggaran hak anak terjadi selama tahun 2025. Adapun jumlah korban sebanyak 2.063 anak.
Dalam data KPAI tersebut, kekerasan fisik, salah satunya berupa kekerasan seksual mendominasi kasus pelanggaran hak anak.
Lalu, bagaimana caranya menanamkan pendidikan seks pada anak?
Psikolog keluarga, Nuzulia Rahma Tristinarum, mengatakan, sex education sebaiknya dilakukan sejak kecil. Jika sudah remaja dan belum memahami, tahapannya tetap sama.
Dikutip dari Republika, Sabtu, 24 Januari 2026, berikut tahapan untuk melakukan pendidikan seks kepada anak.
Tahapan Pendidikan Seks kepada Anak
1. Pengenalan aurat
Menurut Nuzulia, pendidikan seks kepada anak dimulai dari pengenalan aurat. Lalu diajarkan untuk memahami batasan-batasan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain, siapa yang boleh atau tidak boleh melihat atau menyentuh.
2. Batasan aurat
Setelah anak paham mengenai aurat dan batasan yang boleh dilihat, Lia menyarankan, untuk memberi pemahaman sesama laki-laki atau sesama perempuan pun ada batasan aurat yang perlu dijaga.
“Misalnya tidak tidur bersama dalam satu selimut, tidak masuk kamar mandi bersama walaupun sesama jenis,” ucap Lia.
3. Pengenalan perilaku seksual
Setelah itu, lanjut perempuan yang juga berprofesi sebagai konselor, trainer, dan penulis ini, remaja perlu diberi pemahaman mengenai apa itu perilaku seksual dan apa konsekuensinya.
4. Diskusi
Lia menyarankan agar orang tua mengajak anak diskusi jika menghadapi situasi yang bahaya terkait pelecehan seksual. Ajak anak berpikir untuk melakukan tindakan apa saja yang bisa dilakukan.
5. Pemahaman sisi agama
Selain itu, Lia mengatakan, orang tua sebaiknya memberi pemahaman dari sisi aturan agama.
“Pemahaman agama perlu diberikan di awal dan di akhir tahapan edukasi,” ujarnya.
Lia menambahkan, pada remaja perlu diberi pemahaman sesuai dengan tahapan yang telah disebutkan di atas. Untuk memberi pemahaman pada remaja, sebaiknya jangan memberi banyak nasehat tetapi perlu lebih banyak diskusi.
“Ajak mereka berpikir, beri kesempatan remaja untuk mengemukakan perasaan dan pikirannya. Beri remaja kesempatan mengemukakan solusi solusi dari pikiran mereka sendiri. Diskusikan, lalu tutup dengan kesimpulan dan kesepakatan bersama,” imbuhnya. (haf)***





