CAFÉ Coffe, Risalah dan Revolusi

WhatsApp Image 2026 01 28 at 05.34.24
Ilustrasi “CAFÉ Coffe, Risalah dan Revolusi”, (Foto: Nunu A. Hamijaya).

Oleh Nunu A. Hamijaya

JUMAT SORE  menjelang magrib, diiringi  musik ilahi  ‘hujan deras’ dan lampu-lampu di sebuah café  bernama Risalah. Pembahasan tentang apa dan bagaimana Zelfbestuur 1916 sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan dihadiri mahasiswa,  anak-anak muda pribumi muslim tidak kurang dari  tujuh puluh lebih.

CAFÉ  coffee memiliki sejarah yang berkaitan dengan sebuah revolusi di Eropa dan Amerika. Ketika ‘coffe’ menjadi konsumsi publik mengalahkan popularitas ‘bir’ yang haram menurut Syariah Islam. Ternyata mampu memberikan kecemerlangan  daya ingat para intelegensia  pendobrak aristokrat dan feodalisme raja-raja yang menindas.  Jejak  dakwah  ini berawal di Café Risalah, dan membahas sebuah embrio  Revolusi Islam, yakni  ‘kehendak  berpemerintahan sendiri’ pribumi muslim di Hindia Belanda.

Dipandu oleh moderator  muda, sang narsum penulis tetralogy Islam bernegara, membahas  buku Titik Nol: Zelfbeztuur (Kehendak Berpemerintahan Sendiri, 1916) itu, membuka ingatan kolektif yang hampir-hampir dipinggirkan dan dilupakan dengan sengaja. Beruntung sosok Walikota Bandung, Allohuyarham,  Oded  M. Danial, telah meletakkan fondasi itu dengan menorehkan tinta sejarah  NATICO I (National Congress) Central Sarekat Islam dalam perjalanan terbentuknya pemerintahan kota di  Museum Kota Bandung yang diresmikannya.

Sementara itu,  penamaan café  Coffe  Risalah, mengingatkan penulis terhadap sebuah tabloid atau lebih tepat disebut ‘lembaran’ Ar  Risalah (1984-85) yang dipublikasikan oleh anak muda bernama Irfan  Suharyadi Awwas (Majelis Mujahidin, Yogyakarta) yang membawa dirinya dipenjara di  Nusakambangan sebagai subversif  merongrong  ideologi  negara sebagai  asas tunggal. Makna  Risalah berkaitan  dengan tugas  Sang  Rosul yang  membawa dan mendakwakannya yaitu  Ajaran Islam. Sungguh betapa dahsyatnya, Risalah Islam, sehingga mampu mengubah dunia ini.

Sang  penanya dalam forum dialog Zelfbestuur  itu meminta kejelasan tentang apa dan bagaimana sistem berpemerintahan Islam model yang diserukan oleh  Oemar Said  Tjokrominoto pada pidatonya di Alun-alun Bandung,  disaksikan lebih  dari 1001 pribumi itu?  Tentunya,  tidak diperolehnya dalam pidato tersebut.

Mengingat bahwa sebuah  film Tjokroaminoto: Sang  Guru  Bangsa (2015) memberikan ilustrasi tentang  kaitannya dengan sosok Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830), sebuah  perang yang melibatkan kekuatan negara adidaya muslim, yaitu  Kekhilafahan  Ustmani-Turki, yang turut membantu melawan   Kerajaan Protestan  Belanda. Demikianlah, sanad perjuangan Zelfbestuur tersambungkan.

Dilansir National Geographic, pada Perang Jawa, laskar Diponegero memakai nama dengan  organisasi ala Turki  Ustamani, yakni Bulkiya, Barjumuah, Turkiya, Harkiya, Larban, asseran, Pinilih, Surapadah. Sipuding, Jagir, Suratandang, Jayengan, Suryagama, dan Wanang Prang. Hierarki merupakan kepangkatan beraksen Turki. Alibasah setara dengan Komandan Divisi, basah setara komandan brigade, dulah setara komandan batalion, dan seh setara komandan kompi.

Coffe Shop : Gaya Hidup Manusia  Revolusioner (Manrev)

Dunia perkopian  atau yang biasa disebut dengan coffee shop di kalangan generasi muda sedang berkembang pesat di Indonesia. Fenomena “ngopi” telah menjadi gaya hidup bagi generasi muda, termasuk para remaja. Coffee shop kini tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati kopi, tetapi juga menjadi rumah kedua bagi mereka. Maraknya coffee shop ini disambut positif oleh masyarakat, terutama remaja karena dapat memenuhi kebutuhan mereka. Saat ini, Remaja lebih memilih untuk mengunjungi coffee shop daripada pergi ke mal, karena suasana coffee shop yang lebih nyaman dan dekorasi interior yang menarik.

Kopi terkenal berpasangan dengan warung-warung. Di Indonesia populer disebut WARKOP. Singkatan  ini dipakai pertama kali sebagai nama grup lawak, WARKOP – Prambos. Namun, Warung kopi tertua di Hindia Belanda didirikan  oleh LIAUW TEK SOEN (1878) di  Kawasan Hayam Wuruk (Moolenvliet Oost), Batavia. Mendirikan pabrik dan tokonya bernama Toko Tek Soen (1927). Saat ini, merk kopinya dikenal dengan nama BAKOEL KOFFIE. Tapi  lebih tua lagi  Merk-nya Cap KACAMATA produksi  BAH SIPIT (1925) di kampung  Empang  Arab.

Adapun Kedai Kopi Pertama di Dunia yang tercatat diketahui muncul pada 1475. Kedai kopi ini bernama KIVA HAN dan berada di Kota Konstantinopel (sekarang Istanbul) Turki.

Kedai kopi ini diketahui menjadi coffee shop pertama yang buka dan melayani pengunjungnya dengan kopi khas Turki. Pada masa itu, kopi adalah unsur penting dalam kebudayaan Turki. Sangkin pentingnya bahkan ada hukum yang mengatakan jika seorang suami tidak memberikan pasokan kopi yang cukup untuk istrinya, maka istrinya berhak menceraikan sang suami. Kopi di Turki ini disajikan kuat, hitam dan tanpa filter. Orang-orang Turki gemar menikmati kopi mereka dengan memasaknya dengan ibrik (pot ala Turki). Budaya minum kopi seperti ini masih diterapkan di Turki hingga sekarang.

FRANZ  GEORGE  KOLSCHITZKY (Wina)  yang  membuka sebuah kedai kopi pertama di Eropa (1529).  Kopi-kopinya berasal dari  TENTARA TURKI saat terjadi  pertempuran.  Kedai kopi pertama di Inggris dibuka pada 1652. Sebuah kedai kopi bernama “The Turk’s Head” lahir di Inggris. Pada tahun 1690-an seorang warga Italia bernama FRANCESCO PROCOPIO, dia bekerja di warung kopi pertama yang ada di Perancis.

FREDERICK AGUNG (Jerman) sangat menentang kopi sehingga ia berusaha untuk melarang minuman tersebut dan mendukung bir pada tanggal 13 September 1777. Khawatir  bahwa impor kopi akan merugikan bisnis kerajaannya. Pasqua Rosée membuka kedai kopi pertama di London pada tahun 1652, memicu revolusi  dalam masyarakat London. “Budaya Inggris sangat hierarkis dan terstruktur. Gagasan bahwa Anda bisa pergi dan duduk di samping seseorang secara setara adalah hal yang radikal,” kata Markman Ellis, penulis The Coffee House: A Cultural History . Ciri khas kedai kopi Inggris adalah meja-meja komunal yang dipenuhi koran dan pamflet tempat para tamu berkumpul untuk menikmati, berdiskusi, dan bahkan menulis berita. “Kedai kopi adalah motor industri berita di London abad ke-18,” jelas Elli

Café-café di Eropa muncul bagaikan jamur, hampir mengalahkan konsumsi minuman wine dan bir. Di Café itulah terjadi diskusi dan percakapan politik. Selama masa Pencerahan, Voltaire, Rousseau, Dan Isaac Newton semuanya berbicara tentang filsafat sambil minum kopi. Kafe-kafe di Paris melindungi kaum revolusioner yang merencanakan penyerbuan Bastille dan kemudian menjadi tempat penulis seperti Simone De Beauvoir dan Jean-Paul Sartre Merencanakan Buku-Buku Terbaru Mereka. Café De Foy di Paris menjadi tuan rumah seruan senjata untuk penyerbuan Bastille .

Di New York, Merchant’s Coffee House terkenal dengan tempat berkumpulnya para patriot yang ingin melepaskan diri dari George III . Pada tahun 1780-an, tempat ini menjadi tempat para pedagang berorganisasi untuk mendirikan Bank of New York dan mengatur ulang Kamar Dagang New York.

Tradisi Ngopi:  Pesantren dan Tasawuf

Ada satu kitab yang dikenal  di dunia pesantren berjudul   Irsyadu Al-Ikhwan Fi Bayani Al-Hukm Al-Qahwah Wa Al-Dhukhan yang ditulis oleh Syaikh Ihsan Jampes. Kitab tersebut populer dikenal sebagai Kitab Kopi dan Rokok. Sebagaimana tersirat dari judulnya, kitab ini membahas soal status hukum  kopi dan rokok.

Kopi tak bisa  dilepaskan dari kehidupan para santri. Kopi   juga menjadi pemersatu sesama santri. Satu gelas kopi meruntuhkan perbedaan dan menciptakan persatuan nyangkruk bareng di tengah lorong-lorong kamar. Apalagi kopi yang telah diminum oleh kiai usai ngaji, menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk diperebutkan. Karena para santri meyakini terdapat berkah di dalamnya,

Entah siapa yang memulai, akan tetapi kopi dan dunia pesantren mempunyai hubungan yang sangat lekat. Bahkan, kopi memberikan kontribusinya kepada kelestarian para  penghafal al-Qur’an.

Kopi yang dapat membentuk miniatur sosial tidak hanya ditemukan di dalam kedai kopi rural dan urban, melainkan juga di dalam tembok pesantren. Nyaris masyarakat di Indonesia sebenarnya akrab dengan kopi, terlepas kopi itu buruk atau baik . Di pranata sosial di masyarakat kita pun akrab dengan kopi. Di pesantren pun nyaris tiada hari tanpa kopi.

KOPI   ternyata bermula dari kebutuhan praktek Tasawuf/Sufi As Syadziliyyah, dikenalkan  oleh salah seorang pengikutnya yang bernama Syeikh Ali Bin Umar As-Syadzili Al-Yamani di  Hindia Belanda (Indonesia) dikenal sebagai Syeikh Abul Hasan As-Syadzili.

Habib Abdurrahman Alaydrus (1070 H-1113 H) dalam kitabnya ‘Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qohwah’ mengatakan, biji kopi baru ditemukan akhir abad ke-8 Hijriyah di Yaman oleh  Imam Abul Hasan   Ali Asy-Syadzili  pengikut Tarikat Asy-Syadzili. Tarekat   SYADZILIYAH , yang didirikan   Syekh  Ahmad  as-Syadzili (w. 1258 M/658 H).

Di beberapa wilayah negeri Syam, saat itu kopi identik dengan tarikat Syadziliyah. Dalam tradisi ngopi mereka, cangkir kopi pertama ditumpahkan ke tanah. Itulah ‘jatah’ pendiri Tarikat Syadziliyyah. Jadi, para sufi itulah yang mengajari dunia ‘ngopi’.

Demikianlah, coffe café  semakin menjamur di musin hujan.  Menjelang Ramadhan tahun ini. ***

Al I’anah, 27.1.2026

Nunu A. Hamijaya, Sejarawan Publik Pusat Studi Sunda.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *