BUKU setebal 438 halaman ( cvi +331) adalah biografi tokoh Tamsil Linrung dengan 34 speak-up endorsement, dua di antaranya sambutan atas nama institusi yaitu Kementerian Kebudayaan RI dan Sekretariat Jenderal DPD RI ditulis dalam waktu November 2025 – Januari 2026. Pemilihan judul WARISAN HIKMAH, memberikan makna bahwa ‘isi pemikiran dan kiprah sang tokoh’ diharapkan menjadi warisan hikmah yang berlaku sepanjang zaman. Buku ini terdiri dari 9 Bab dan beberapa subjudul.
Menurut penulis buku, Nunu A. Hamijaya, penulisan biografi tokoh ini, terinspirasi oleh pernyataan H . Tamsil Linrung bahwa “Kita menjalani hidup dengan apa yang kita MILIKI. Kita membentuk kehidupan dengan apa yang kita BERIKAN”.
Kesediaan sang tokoh dituliskan menjadi biografi sebagai ‘warisan hikmah’ setelah bertemu langsung dalam momentum 22 Juni 2025 di Kantor DPP Partai Masyumi (Jakarta). Itulah pertemuan pertama hingga selesainya buku ini diterbitkan. Penulis melakukan komunikasi melalui chating-an di WA.
Buku tentang tafsir penulis terhadap pemikiran, peran dan kiprah Tamsil Linrung dengan latar belakang kehidupannya, yang dikonstruksi dalam tema Islam untuk Kemanusiaan, Keadaban, dan Kenegaraan. Buku ini didesain untuk menjadi peta dan road map bagi siapa saja yang memiliki peran Islam di lingkungan masing-masing.
Penulis buku, Nunu A. Hamijaya, menjelaskan, penulisan buku ini tidak ada maksud untuk membangun kultus individu tetapi justru membuka ruang dialog dan kritik agar Tamsil Linrung bertumbuh kembang hingga mencapai derajat Insan Kamil dan khusnul khotimah sebagai hamba Allah dan Kholifah fil ardhi yang taat dan diridhoi Allah SWT.
Dalam Kata Pengantar-nya, H. Tamsil Linrung menulis,
Sejatinya, buku ini bukan tentang saya, tetapi lebih mewakili kemampuan penulis menggali nilai-nilai transendental di balik keputusan, sikap, dan tindakan saya. Maka jika ada hal yang dipandang baik, datangnya dari Allah melalui kedalaman intelektual penulis, bukan dari saya pribadi.
Kemahiran penulis menjahit dimensi memoir dengan tafsir kontekstual terasa kuat menggiring pembaca merenungi fakta absolut. Bahwa Islam adalah energi penggerak, penjuru batin yang memurnikan motivasi. Ajaran ini bukan kumpulan ritus yang mengekang kreativitas.
Tetapi kekayaan buku ini bukan hanya dimensi spiritualitasnya . Di bagian lain, penulis juga mengeksplorasi identitas kultural yang membentuk karakter khas manusia Bugis-Makassar. Terutama terkait peran tradisi dan petuah Bugis-Makasar yang ikut memberi andil ketika saya harus berdialog dengan dunia di negeri rantau. H.Tamsil Linrung
Kata Nunu, awal mula mengenal nama Tamsil Linrung saat penulis menyelesaikan buku MAJELIS MUJAHIDIN: Menuju Indonesia Bersyariah. Buku ini ditulis bersama Ust. Irfan S Awwas, sebagai bagian dari kado Kongres VI Majelis Mujahidin, 19-20 Agustus 2023. Nama H. Tamsil Linrung tersebut sebagai ‘peng-endorsement’ buku tersebut.
Itulah sebabnya, penulis buku meminta Ustad Irfan S. Awwas memberikan SPEKA-UP tentang buku biografi ini.
Warisan Hikmah Islam, yang menjadi highlight buku ini, sejatinya adalah tentang bagaimana kita dapat mengimplementasikan ajaran Islam untuk membangun kemanusiaan yang adil dan beradab, negara yang maju dan berdaulat, adil dan sejahtera. Negara tanpa Islam akan kehilangan orientasi bernegara dan dari keadilan Ilahiy.
Tamsil Linrung, yang saya kenal sejak 1990-an, adalah pribadi yang luwes dalam pergaulan, murah hati, dan pandai menjaga silaturrahim dalam pertemanan. Ia juga seorang yang ulet dalam meniti karier politik, sejak dari aktivis mahasiswa muslim hingga menjadi pimpinan DPD RI.
Sekretaris Amir Majelis Mujahidin
Irfan S. Awwas
Inilah penutup buku biografi ini
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika generasi muda membaca kisah ini, mereka akan berkata dengan bangga:”Pernah ada seorang anak lorong bernama Tamsil Linrung, yang mengajarkan bahwa menjadi pemimpin berarti menjaga hikmah dan menyalakan harapan.” Makassar, 06 November 2025
Dalam penutup, penulis buku, Nunu A. Hamijaya, juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada editor Nunung K Rukmana, layouting Mas Aji, prof reader Indri Putri, dan semua pihak : 34 tokoh SPEAK – UP dan mereka yang tidak mau dan tidak disebut dalam ucapan terima kasih ini. Semoga menjadiknnya amal jariah. (Haifa Fauziyyah)***





