ZONALITERASI.ID – Kendati sosoknya kerap dinilai kontroversial, namun sosok Adjat Sudrajat terus tersimpan di memori Bobotoh. Adjat dipuja sebagai pahlawan yang memuaskan dahaga Bobotoh setelah 26 tahun Persib tak pernah memboyong gelar juara. Persib terakhir meraih trofi juara Perserikatan pada 1961.
Ya, nikmatnya menjadi juara kembali dirasakan Persib membungkam Perseman Manokwari, pada final Divisi Utama Perserikatan 1986, dengan skor 1-0. Sukses ini membayar kegagalan pada dua musim sebelumnya, di mana Persib hanya bertengger di peringkat dua pada kompetisi 1983 dan 1985 setelah kalah menghadapi lawan yang sama, PSMS Medan pada laga puncak.
Persib menutup era 1980-an dengan meraih trofi juara pada musim 1989-1990 usai mengalahkan Persebaya 2-0 di Stadion Gelora Bung Karno, 11 Maret 1990.
Tak hanya di level nasional, pada periode ini, nama besar Persib harus di pentas internasional. Klub berjuluk Pangeran Biru ini memboyong gelar pada turnamen Pesta Sukan Brunei Darussalam 1986. Di partai final yang dihelat di Stadion Sultan Hassanal Bolkiah Bandar Seri Begawan, Brunai Darussalam, pada 27 Juli 1986, Persib membungkam tim nasional Malaysia 1-0.
Adjat memang datang pada saat yang tepat. Keberhasilan Persib pada ajang bergengsi itu, salah satunya berkat penampilan gemilang Ajat. Dia dikenal sebagai pemain enerjik, cerdas, sekaligus haus gol.
Penampilan Adjat pun dianggap mewakili karakter khas Persib, yakni mengandalkan permainan dari kaki ke kaki yang cepat untuk memerdayai lawan.
Tak heran, berkat sumbangsih Adjat untuk kebangkitan Persib, pendirian Monumen Sepakbola berbentuk patung pemain pada 1990 di Jalan Tamblong, Bandung, kerap dikaitkan dengan pemain yang satu ini. Monumen itu jadi bukti pengakuan dan kecintaan masyarakat Bandung terhadap Adjat.
Asli Bandung
Adjat adalah produk binaan klub amatir Bandung, Jawa Barat. Pemain kelahiran Bandung 5 Juli 1962 ini mengawali kariernya dengan bergabung pada klub amatir, Propelat pada 1977.
Tiga tahun mengasah kemampuan di Propelat, Adjat mulai mencuri perhatian publik setelah membawa klubnya meraih gelar pada sebuah turnamen di Jawa Barat sekaligus menjadi pemain terbaik.
Meski posturnya terbilang pendek untuk ukuran striker, Adjat kerap mencetak gol lewat sundulan. Tak ayal, kelebihan itu membuat bobotoh menyamakan aksinya dengan legenda sepakbola Argentina dan Napoli, Diego Maradona.
Adjat mengawali kiprahnya bersama Persib Bandung pada kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1983-1984. Pada musim itu, Adjat menjadi buah bibir ketika mencetak gol penentu kemenangan Persib atas tuan rumah PSP Padang pada putaran pertama penyisihan Grup Barat di Stadion Imam Bonjol.
Kemenangan itu sangat vital untuk mengangkat kepercayaan diri tim setelah pada tiga partai terdahulu, Persib gagal menang. Masing-masing kalah 0-1 dari PSMS Medan serta dua kali imbang menghadapi Persiraja Aceh 2-2 dan Persija Jakarta 0-0.
Terbukti pada putaran kedua di Stadion Siliwangi, Bandung, Persib menyapu bersih setiap laga dengan kemenangan. Termasuk melibas PSP Padang 5-0 yang diwarnai hattrick perdana Adjat di level Divisi Utama.
Sukses Adjat bersama Persib berlanjut pada babak 4 Besar di Stadion Gelora Bung Karno dengan menjadi juara grup. Sayang, Adjat gagal menuntaskan kiprah cemerlang pada debutnya itu. Persib gagal meraih juara setelah kalah 0-1 dari PSMS pada laga final.
Setelah itu, aksi Adjat di lapangan hijau selalu jadi trademark Persib. Bersama Persib, Adjat meraih dua gelar Perserikatan pada 1986 dan 1990 plus juara Pesta Sukan Brunei 1986.
Penampilannya bersama Persib mengantar Adjat masuk skuat tim nasional. Namun, kariernya di tim nasional tak secemerlang kala membela Persib. Pengalaman pahit Adjat di timnas dirasakan saat Indonesia dibantai Thailand 0-7 pada semifinal Sea Games 1985 di Stadion Supachalasai, Bangkok.
Sosok Kontroversial
Dikutip dari bola.com, di balik aksi ciamiknya, ada sisi lain yang menandai Adjat saat berkiprah di lapangan hijau. Polah Adjat kerap dinilai kotroversial oleh sebagian penyuka sepak bola.
Adjat sempat menjadi ‘musuh bersama’ suporter Arema Malang di Grup B Piala Utama yang berlangsung di Stadion Siliwangi, November 1990. Ajang ini mempertemukan empat jagoan tim Perserikatan dan Galatama.
Pada laga itu, penampilan pemain Arema yang keras menjurus kasar diredam oleh gol Ajat yang memanfaatkan tendangan bebas Djadjang Nurdjaman. Saat berselebrasi, Adjat mengacungkan jari tengahnya ke pemain Arema.
Sebagai catatan, di grup ini, Persib memborong seluruh partai dengan kemenangan. Dua laga lainnya, masing-masing mengalahkan Persija Jakarta 4-0 dan Krama Yudha Tiga Berlian 1-0.
Di ajang ini, langkah Persib dihentikan oleh Pelita Jaya di semifinal yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, 25 November 1990. Pada laga yang dibumbui kericuhan, Persib kalah 2-3.
Masih pada tahun 1990, Ajat memutuskan tak lagi memperkuat Persib, klub yang membesarkan namanya. Adjat terlibat konflik dengan pengurus Persib terkait bonus juara Piala Perserikatan 1990. Ia pun hengkang ke Bandung Raya, klub Galatama yang bermarkas di Bandung.
Di sisi lain, ada catatan lain terkait dengan kebersamaan Adjat bersama Persib. Di saat legenda lain seperti Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, Djajang Nurdjaman, dan Sutiono Lamso mengakhiri kiprahnya dengan menjadikan Persib sebagai klub terakhir mereka meraih trofi juara, Adjat malah berbeda.
Adjat meraih gelar di pengujung kariernya sebagai pemain dengan membawa Mastrans Bandung Raya mengalahkan PSM Makassar 2-0 di final Liga Indonesia 1995-1996. (des)***