Anggota Komisi IV DPRD Pangandaran Setuju Jam Masuk Sekolah Pukul 06.30 WIB, Ini Alasannya

pngtree anak sma berangkat sekolah png image 8532130
Ilustrasi siswa SMA. (Foto: Istimewa)

ZONALITERASI.ID – Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pangandaran, Iwan Mohamad Ridwan, mengungkapkan, dirinya setuju dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat tentang jam masuk sekolah lebih pagi.

“Kalau bertujuan untuk lebih berdisiplin tentu sepakat. Karena, manfaatnya itu sangat banyak,” ujar Iwan, Minggu, 8 Juni 2025.

Sebagai informasi, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 58/PK.03/Disdik yang menyebutkan bahwa jam masuk sekolah mulai pukul 06.30 WIB. Surat Edaran itu ditandatangani Gubernur Jabar pada 28 Mei 2025.

Iwan mengatakan, paling tidak, jika masuk sekolah mulai pukul 06.30 WIB, minimal anak-anak sekolah bisa bangun pada jam 05.00 WIB.

“Bangun pagi itu sangat banyak keuntungan bagi si anak. Di antaranya, bagi muslim salat subuh tidak akan terlambat. Terus, di jam-jam itu kan udara masih segar, otak dan tubuh masih bugar. Tentu itu sangat bagus untuk si anak,” kata Iwan.

Selain itu, lanjut anggota DPRD Kabupaten Pangandaran dari Fraksi PDI Perjuangan itu, masuk sekolah lebih pagi ini akan berefek terhadap penerapan jam malam. Diharapkan, anak-anak sekolah tidak ada lagi keluyuran di atas jam 21.00 WIB.

“Mereka akan lebih tertib untuk istirahat dan tidak lagi berkeliaran. Karena, jika melebihi jam 9 malam mereka akan takut bangun kesiangan,” ujarnya.

“Perjuangan Pak Gubernur seperti itu sebenarnya. Bagaimana anak-anak sekolah mulai dari tingkat PAUD sampai SMA sederajat itu bisa disiplin. Disiplin mulai dari bangun pagi dan mulai tidur malam. Tujuan pendidikan itu mendidik ke arah yang lebih baik,” ucapnya.

Belajar Disiplin Sejak di Rumah

Selanjutnya Iwan mengatakan, pendidikan bukan hanya menerima materi mata pelajaran yang diberikan guru melainkan belajar disiplin sejak ada di rumah.

“Itu yang saya analisa dan dikaji dari tujuan yang diinginkan oleh Pak Gubernur. Manfaatnya sangat banyak. Salah satunya menerapkan disiplin pada anak sejak dini,” tutur Iwan.

Ia menambahkan, dalam penerapan kebijakan itu pasti ada pro dan kontra. Namun, jika semua sadar dan mendukung program itu tentu Jawa Barat akan menjadi pionir.

“Minimal, anak-anak yang lulus di tingkat SMA sederajat bisa memiliki karakter berbeda daripada di provinsi lain,” pungkasnya. ***