ZONALITERASI.ID – Betran Yunior, anak penjual es teh yang berasal dari Kelurahan Duku, Kecamatan Ilir Timur Tiga, Palembang, jatuh bangun untuk kuliah. Namun perjuangannya tak sia-sia, dia diganjar jadi wisudawan dengan IPK tertinggi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 3,98 dari 4,00.
Saat wisuda UNY periode Desember, yang berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) UNY, pada Selasa, 23 Desember 2025, mata Betran terlihat berkaca-kaca. Ini seakan mewakili kata hatinya, yang begitu bangga karena dengan latar belakang sederhana tak menghalangi langkahnya meraih prestasi gemilang.
Bagi Betran, wisuda bukan sekadar seremoni. Momen itu menjadi simbol perjuangannya sekaligus menandai dirinya sebagai sarjana pertama di keluarganya.
“Wisuda ini sangat berharga bagi saya dan keluarga. Ini membuktikan bahwa dengan niat dan tekad yang kuat, pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang mustahil,” ujarnya, dilansir dari laman UNY, Minggu, 4 Januari 2026.
Perjalanan Betran untuk menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, bermula saat dia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Palembang, tempat orang tuanya setiap hari berjualan es teh. Dari situ, dia menapaki setiap langkah dengan kerja keras dan tekad, hingga akhirnya berhasil mencapai mimpinya.
Ya, Betran berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya, Zulkarnain dan Wanida, tak menempuh pendidikan tinggi dan setiap hari berjualan es teh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski hidup sederhana, kedua orang tua Betran selalu menanamkan satu nilai penting, bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah hidup.
“Tugasmu cuma belajar, biar pintar, tidak usah pikirin yang lain,” pesan sang ayah, yang selalu diingat Betran.
Strategi dan Ketekunan Menjadi Kunci
Betran menempuh pendidikan S1 di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY. Dia menyadari bahwa kesungguhan adalah modal utama dalam menempuh studi.
Masa awal kuliah menjadi momen tersulit bagi Betran. Datang ke Yogyakarta sendirian, tanpa keluarga maupun teman, membuatnya sempat merasa asing dan kesepian. Namun perlahan, dukungan teman-teman seperjuangan menjadi penopang semangatnya hingga akhir masa studi.
Betran bekerja keras mulai dari mengerjakan tugas maksimal, menyimak penjelasan dosen, hingga memanfaatkan setiap kesempatan diskusi.
“Keaktifan di kelas itu sangat membantu. Kalau kita sudah paham di kelas, waktu belajar di luar jadi lebih efisien,” tuturnya.
Strategi ini membuatnya mampu menjaga prestasi akademik sekaligus tetap aktif dalam kegiatan non-akademik. Tantangan terbesar datang dari mata kuliah Metodologi Penelitian. Alih-alih menyerah, Betran rajin bertanya, berdiskusi, dan memanfaatkan berbagai sumber belajar digital.
Perjalanan akademiknya juga terbantu oleh beasiswa. Sejak SMA, ia mendapatkan pendidikan berbasis afirmasi di salah satu SMA terbaik di Sumatera Selatan tanpa biaya. Saat kuliah di UNY, ia kembali menerima Beasiswa KIP-Kuliah, yang meringankan biaya kuliah dan memberi kesempatan baginya untuk belajar tanpa membebani orang tuanya.
Ke depan, Betran bercita-cita berkarier di industri kreatif. Untuk merealisasikan cita-citanya ini, selain berusaha maksimal menjalani kuliah, dia membekali diri lewat magang dan kegiatan sukarelawan.
“Saya berharap ilmu yang didapat tidak hanya mengubah hidup, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Duduk di bangku kuliah adalah sebuah privilese. Nikmati prosesnya, perbanyak teman, dan eksplor sebanyak mungkin pengalaman,” pesannya. (des)***





