Oleh Ipah Latipah, M.Pd.
“Bagi sebagian siswa, ruang BK masih terasa seperti ruang sidang kecil: datang saat ada masalah, pulang dengan rasa takut atau malu.”
Citra inilah yang hingga hari ini masih melekat pada layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di banyak sekolah. Padahal, di tengah tekanan akademik, krisis identitas, dan tantangan kesehatan mental generasi muda, BK justru seharusnya menjadi ruang aman, tempat siswa didampingi untuk mengenal diri, menguatkan hati, dan menata arah hidupnya.
Di era yang serba cepat dan penuh tuntutan, pendidikan tidak cukup hanya mengejar capaian akademik. Sekolah dituntut melahirkan generasi yang tangguh secara mental, mampu mengelola emosi, serta memiliki makna dan tujuan hidup. Dalam konteks inilah, peran BK menjadi semakin strategis dan perlu dimaknai ulang: bukan sekadar ruang penyelesaian masalah, tetapi ruang pertumbuhan manusia seutuhnya.
Setiap anak hadir dengan latar belakang, potensi, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pendekatan seragam dalam layanan BK tidak lagi relevan. BK perlu bergerak menuju pendekatan yang inklusif, kolaboratif, dan humanis- pendekatan yang memandang setiap siswa sebagai individu yang layak didengar, dipahami, dan dikuatkan.
Nilai-nilai pendidikan semacam ini sejatinya telah lama hadir dalam khazanah Islam. Salah satunya dapat kita temukan dalam kisah Luqmanul Hakim. Dalam Al-Qur’an, Luqman digambarkan sebagai sosok bijaksana yang mendidik anaknya dengan kelembutan dan kasih sayang. Nasihatnya tidak disampaikan dengan paksaan, tetapi melalui relasi yang hangat dan penuh makna.
Q.S. Luqman ayat 12–19 memperlihatkan bahwa pendidikan sejati tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Luqman menanamkan tauhid sebagai fondasi moral, membimbing adab sosial, melatih kesabaran, serta mengajak anaknya bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Sapaan “Wahai anakku…” menjadi simbol pendidikan yang berangkat dari kedekatan emosional.
Spirit inilah yang relevan untuk dihadirkan dalam layanan BK di sekolah. Konselor tidak hanya berperan sebagai pemecah masalah, tetapi sebagai pendamping perjalanan tumbuh kembang siswa- mendengar tanpa menghakimi, membimbing tanpa memaksa, dan menguatkan tanpa melabeli.
Dalam konteks pendidikan masa kini, pendekatan deep learning menjadi jembatan penting untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut. Deep learning bukan tentang kecerdasan buatan, melainkan tentang proses belajar yang mendalam dan bermakna. Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.
Siswa diajak menyadari emosi dan pikirannya, mengaitkan pengalaman belajar dengan tujuan hidup, serta merasakan proses belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan dan memberdayakan. Pembelajaran yang bermakna membantu siswa membangun ketahanan diri, mengelola stres, dan tetap bertumbuh di tengah tekanan.
Namun, pembelajaran yang bermakna tidak akan berjalan tanpa BK yang inklusif. BK inklusif berarti memahami bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan cara bertumbuh yang berbeda. Bukan menyamaratakan perlakuan, melainkan memberikan layanan yang adil dan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Di sinilah kolaborasi memegang peran penting. Konselor tidak bisa berjalan sendiri. Guru, orang tua, dan komunitas perlu bersinergi menciptakan ekosistem pendidikan yang aman dan mendukung. Ketika semua pihak terlibat, siswa merasa tidak sendirian menghadapi persoalan hidupnya.
Sudah saatnya ruang BK dimaknai ulang. Bukan sebagai ruang yang menegangkan, tetapi sebagai ruang refleksi. Bukan tempat untuk menghakimi, tetapi tempat untuk bertumbuh. Ruang di mana siswa berani jujur pada dirinya sendiri dan mulai menata masa depannya.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah BK dibutuhkan, tetapi bagaimana kita menghadirkannya. Apakah ruang BK di sekolah kita sudah cukup aman untuk mendengar? Sudah cukup hangat untuk menumbuhkan? Sudah cukup bermakna untuk menguatkan?
Mungkin perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Bisa jadi, ia berawal dari satu ruang kecil yang kita rawat dengan empati, dari satu percakapan yang kita dengarkan dengan sungguh-sungguh. Dari situlah, pendidikan yang memanusiakan manusia benar-benar hidup. ***
Ipah Latipah, M.Pd., Guru BK SMPN 1 Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.





