ZONALITERASI.ID – Pagi di Jalan Braga, Kota Bandung. Bangku-bangku antik. Trotoar yang lebar ditata apik. Jalanan dengan design khusus. Seorang anak jalanan meringkuk di kursi. Beberapa tukang parkir. Dan gadis semampai bersama rekan sedang berfoto.
Menengok sebelah kiri, toko-toko kue, toko swalaya moderen, bekas toko buku yang lapuk. Toko-toko kecil yang pintunya masih tertutup. Kanan jalan, hotel, beberapa tempat kuliner. Menengok ke atas. Taman gantung, atap yang lapuk, cat yang kusam, buangan air.
Braga saat ini seperti perempuan tua yang seksi berbedak tebal. Gurat-gurat kecantikan masa lalu masih tampak TETAPI berada di tempat yang kontras glamournya gadis semampai berkulit putih dengan rok mini. Braga tidak lagi mempesona. Tidak seksi. Perempuan tua yang mencoba menebar pesona sambil menunggu kedatangan malakal maut.
Jadilah problem antropologis. Apakah mau mempertahankan keaslian leluhur tetapi tidak terpelihara atau mau reinkarnasi menjadi moderen dengan sentuhan kecerdasan penata kota. Apakah mau dibiarkan berkembang alamiah atau kompromi dengan orang berduit di-revitalisasi.
Sayangnya, seringkali pengelolaan kemampuan anggaran pemerintah selalu terbatas. Sayangnya, orang berduit hanyak berpikir keuntungan dan kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan-sejarah. Sayangnya, perkembangan alamiah tidak didukung oleh duit yang cukup. Sementara zaman melesat bagai kilat.
Jadilah Braga sebagai kenangan yang mengesankan. Ketika di pertengahan tahun delapan puluhan sering dilewati dengan berjalan kaki. Sebagian besar bangunannya sama dengan tahun delapan puluhan. Pameran lukisannya sama dengan pertengahan tahun delapan puluhan. Tetapi Braga Stone—Sang Tunanetra yang jago main piano dan alat musik—tidak lagi ditemukan. Bangunan-bangunan sekitarnya, sudah banyak yang lebih megah dan mewah.
Lengkaplah sudah, Braga sebagai kenangan indah untuk dikenang. Hanya masa lalu. (sba)***