ZONALITERASI.ID – Menjalin komunikasi yang baik dengan anak merupakan aspek penting dalam membentuk kepribadian mereka. Percakapan yang hangat dan terbuka akan membantu mereka merasa aman secara emosional, serta memperkuat hubungan dengan orang tua.
Namun, tanpa disadari, beberapa jenis pertanyaan yang kita lontarkan justru bisa membuat anak enggan bicara, merasa terpojok, atau bahkan merusak rasa percaya diri mereka. Anda harus tahu seni berbicara dengan anak tidak sama ketika berbicara dengan orang dewasa.
5 Pertanyaan yang Harus Dihindari Saat Berbicara dengan Anak
Tidak semua pertanyaan membantu anak berkembang. Beberapa bentuk pertanyaan justru bisa membuat anak merasa tidak nyaman, terpojok, bahkan merusak rasa aman mereka.
Dikutip dari albata.id, Minggu, 29 Juni 2025, berikut 5 pertanyaan yang harus dihindari saat berbicara dengan anak.
1. Pertanyaan tentang Kehidupan Pribadi
Anda yang masih sering bertanya pada anak dan membandingkan antara ayah dan bunda pada anak coba stop cara tersebut. Hal ini bisa membuat anak memiliki persepsi bahwa memang orang tuanya suka marah-marah. Jawaban anak bisa menyebabkan rasa tidak nyaman pada anak.
Misalnya, bertanya dengan pilihan yang membingungkan anak “Siapa yang suka marah-marah di rumah, papa atau mama?”
Pertanyaan ini secara tidak langsung membuat anak tidak nyaman dengan pertanyaan lugas seperti itu. Anda harus ingat bahwa prinsip dan nilai keluarga yang ditanyakan orang lain bisa membuat anak memiliki prinsip negatif pada keluarganya.
2. Fisik
Ketika berbicara pada anak hindari untuk memberikan pertanyaan yang bisa membuat anak tidak nyaman terutama perihal sama fisik. Orang dewasa, bisa lebih mengerti dan menjaga perasaan anak terutama yang berkaitan dengan kondisi dirinya.
Contohnya, jangan tanyakan pada anak pertanyaan seperti “kenapa badannya gendut, kamu jarang olahraga ya?” dan pertanyaan serupa lainnya.
Penilaian negatif dari orang lain bisa membuat anak mengembangkan citra bahwa dirinya memang tidak menarik, jelek, dan buruk. Hal ini bisa membuat anak memiliki perasaan negatif terhadap dirinya sendiri.
3. Finansial
Jangan sekali-kali membicarakan finansial dengan anak. Meski terkesan hanya bercanda, hal ini bisa benar-benar menyakiti perasaan anak.
Misalnya, Anda bertanya kepada anak “Mana yang punya uang lebih banyak, papa atau mama?”
Pertanyaan ini bisa membuat anak membandingkan kondisi keuangan kedua orang tuanya. Nantinya hal ini bisa memicu anak untuk muncul perasaan tidak puas, rendah diri sampai tinggi hati. Anak kecil memahami bahwa kondisi finansial keluarga yang berbeda.
4. Membahas Perilaku Anak
Temukan bahasa yang lebih cocok dan nyaman untuk Anda dan anak. Jangan sampai pertanyaan orang dewasa lain bisa membuat anak tidak nyaman karena membahas tentang sikap anak.
Misalnya, pertanyaan seperti, “Sayang adik enggak? Suka pelit sama adik enggak?”
Pertanyaan ini membuat anak merasa bahwa ada sikap standar yang harus dipenuhi sebagai anak baik. Secara tidak sadar ada label atau judging yang membuat anak tidak nyaman. Anak juga merasa tertuduh atas sikap yang bisa saja tidak disadari dampaknya.
5. Pertanyaan Hal Sensitif pada Anak
Ayah dan Bunda, jangan sampai anak merasa tidak nyaman karena pertanyaan kedua orang tuanya yang sensitif. Anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pertanyaan yang membingungkan dirinya.
Misalnya, Anda bertanya pada anak “Pengen punya adik enggak? Kalau pingin coba minta sama mama papa.”
Orang dewasa harus sadar bahwa hal ini tidak bisa ditanyakan pada anak dan membuatnya tidak nyaman. Karena pikirannya saat ini belum sempurna dalam mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan usianya.
Ya, berbicara dengan anak bukan hanya soal mengajukan pertanyaan, tapi juga soal menghadirkan rasa aman dan dihargai. Pilihan kata dan nada bicara kita sangat memengaruhi perasaan anak dan membentuk cara pandangnya terhadap dunia.
Dengan menghindari lima pertanyaan di atas, kita bisa mulai membangun komunikasi yang lebih sehat dan produktif. Gunakan pertanyaan terbuka, hindari nada menghakimi, dan selalu tunjukkan bahwa anak didengar dan dimengerti.
Komunikasi yang baik hari ini adalah investasi untuk hubungan yang erat dan penuh cinta di masa depan. Mari kita mulai berbicara dengan anak seperti kita ingin didengarkan saat kita masih kecil dulu. (haf)***





