Catatan dari Kampung 1: Tiga Pilar Pembangungan Desa

WhatsApp Image 2024 12 01 at 09.20.05
Suheryana Bae, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Suheryana Bae

TENTANG tiga pilar pembangunan desa, kita belajar dari tiga negara maju dan mengagumkan di Asia.

Tiga pilar saling menguatkan, seperti orkestra harmonis yang menciptakan simfoni kemajuan.

Pilar pertama, pemerintahan desa sebagai dirigen.

Pemerintah desa mensinergikan semua sumber daya untuk harmoni pembangunan. Contohnya Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew. Dari negara miskin tanpa sumber daya alam pada 1960-an, di bawah kepemimpinan kuat dan visioner Lee mengubahnya menjadi pusat keuangan dunia. Visi yang jelas, disiplin, pendidikan berkualitas, dan anti-korupsi yang ketat Singapura menjadi negara sangat maju bahkan di dunia.

Pilar kedua, warga masyarakat dengan semangat adaptasi.

Seperti peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Siapa pun warga desa, baik yang lahir di desa, desa tetangga atau kota, wajib bahu-membahu membangun. Seperti Korea Selatan, dari puing perang, dengan kreativitas warganya—didukung Samsung sebagai simbol inovasi—menciptakan “Keajaiban”. Kini, Korea adalah raksasa teknologi global berkat semangat adaptif dan kerja keras rakyatnya.

Pilar ketiga, para perantau sebagai pembawa angin segar.

Mereka membawa pengalaman luas dari dunia luar. Cina adalah contoh gemilang. Sejak reformasi Deng Xiaoping, ribuan mahasiswa dikirim belajar ke luar negeri dan sempat bekerja di luar negeri. Saat kembali, mereka menjadi motor pembangunan modern—mendirikan perusahaan raksasa seperti Alibaba dan Huawei, mengubah Cina jadi superpower ekonomi.

Desa kita pun bisa seperti itu. Dengan pemerintahan visioner, warga adaptif dan partisipatif, serta perantau inspiratif yang memiliki semangat mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Pertanyaannya adalah, apakah pemerintahan desa memiliki visi memajukan desa atau puas dengan sekadar mengerjakan tugas administratif. Apakah warga masyarakat berkeinginan untuk meraih kemajuan bersama atau hanya sibuk mengejar kemakmuran sendiri. Apakah para perantau memiliki rasa cinta kepada tanah kelahiran atau asyik sendiri dengan dunia barunya. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *