UDARA segar membelai wajah saat melangkah menyusuri jalan setapak, ditemani embun yang masih menempel di ujung rumput dan sinar matahari keemasan. Dalam keheningan pagi, sebuah pertanyaan melintas, seperti apa catatan Mahapencipta tentang kehidupan. Aku tidak tahu jawabannya, dan mungkin tidak ada yang benar-benar tahu. Tapi justru karena ketidaktahuan itu, kita harus berbuat yang terbaik. Menjalani setiap hari dengan ikhtiar, menjalani langkah sebagai bagian dari sebuah cerita besar yang telah dituliskan.
Dan dalam kesunyian malam aku termenung. Kata-kata sederhana pagi tadi bergema kembali, mengguncang hati dan pikiran. Hidup adalah menjalani catatan Mahapencipta, sebuah perjalanan penuh misteri yang tidak pernah sepenuhnya kita pahami. Teringat kisah Adam, yang sering disalahkan karena memakan buah terlarang hingga manusia terusir dari surga. Tapi, benarkah itu kesalahannya? Bukankah itu bagian dari ketentuan Mahapencipta? Buah itu hanyalah jalan, bukan inti cerita. Setiap kejadian, sekecil apa pun, adalah bagian dari rencana Mahapencipta yang jauh di atas pemahaman manusia.
Pikiran melayang pada malaikat, makhluk yang begitu taat. Dalam ketaatannya, bahkan rela menggoda Adam, mengorbankan diri demi menjalankan perintah Mahapencipta. Ada pelajaran mendalam di baliknya, bahwa ketaatan sejati adalah menerima peran dalam cerita Ilahi, meski itu berarti pengorbanan. Hidup adalah rangkaian langkah dalam catatan Mahapencipta. Kita tidak pernah tahu seperti apa perjalanan yang telah dituliskan—apakah penuh tawa atau air mata, hari-hari cerah atau malam yang kelam.
Sering kali, kita merasa punya kendali atas hidup ini. Di masa remaja, kita bermimpi kuliah di universitas ternama, meniti karier sebagai dokter, seniman terkenal, atau pengusaha. Kita menyusun rencana dengan penuh semangat, membayangkan langkah-langkah menuju kesuksesan. Tapi realitas sering berkata lain. Karier yang kita jalani tidak selalu sesuai dengan mimpi yang pernah mengisi di masa muda. Bahkan mungkin akhirnya kita bekerja di bidang yang tidak pernah terpikirkan, atau jalan hidup membawa ke arah yang sama sekali berbeda.
Begitu pula saat memasuki usia senja. Kita merancang kehidupan di masa pensiun dengan harapan hidup nyaman dengan tabungan yang aman, beribadah, bertaubat atas kesalahan masa lalu, dan menikmati sisa waktu dengan damai. Tapi, hidup tidak selalu mengikuti skenario. Tiba-tiba penyakit datang mengganggu, atau masalah besar muncul menuntut solusi. Masyarakat di sekitar kita berubah, keadaan tidak lagi sama, dan rencana yang telah disusun rapi tinggal bayang-bayang. Realitas yang dijalani jauh dari rencana dan imajinasi, dan kita harus menerimanya—suka atau tidak.
Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan untuk menerima bahwa rencana hanyalah setitik kecil dalam catatan Mahapencipta. Kita boleh bermimpi, merancang, dan berusaha, tapi pada akhirnya, Dia-lah yang menentukan arah. Yang bisa kita lakukan hanyalah berpasrah, menjalani setiap momen dengan keikhlasan, dan berharap hati ini cukup kuat untuk menerima apa pun yang ada di perjalanan. Entah itu kebahagiaan atau tantangan, entah itu sesuai harapan atau jauh dari bayangan, aku berdoa agar aku mampu menjalani catatan Mahapencipta dengan ketabahan, kepasrahan, kenyamanan, dan kebahagiaan. Ke mana pun taqdir-Nya membawaku. ***
Suheryana Bae, pemerhati sosial, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





