PENSIUN, sebuah fase yang sering diimpikan sebagai waktu istirahat setelah puluhan tahun bekerja keras, ternyata tidak selalu seindah bayangan. Bagi banyak pensiunan pegawai pelayan masyarakat, masa ini justru membawa tantangan serius yang menguji ketahanan fisik, mental, dan finansial. Realitas ini mengajarkan kita bahwa persiapan menuju hari tua bukanlah sekadar menabung atau menanti gaji pensiun, melainkan membangun fondasi hidup yang kokoh sejak dini.
Kesehatan menjadi tantangan utama yang tidak terelakkan. Seiring bertambahnya usia, tubuh mulai kehilangan kebugarannya. Penyakit seperti diabetes, jantung koroner, hipertensi, hingga stroke kerap menghampiri, menggerogoti kualitas hidup. Ironisnya, banyak dari masalah ini bukan semata karena usia, tetapi akibat kelalaian di masa muda. Gaya hidup yang memforsir tubuh demi pengabdian kerja, kurangnya olahraga, atau pola makan sembarangan menjadi bom waktu yang meledak di masa pensiun. Pelajaran pahit ini mengingatkan kita bahwa kesehatan bukan sesuatu yang bisa ditunda. Menjaga atau memeliha fisik harus menjadi kebiasaan seumur hidup, dari kanak-kanak hingga lansia. Sayangnya, banyak orang baru berolahraga setelah jatuh sakit atau memilih makanan sehat setelah didiagnosis penyakit serius. Mengapa harus menunggu badai datang untuk membangun benteng?
Selain kesehatan, masalah ekonomi juga dihadapi para pensiunan. Pendapatan menurun drastis. Tunjangan, honor, dan penghasilan tambahan yang dulu mengalir kini terhenti. Di saat yang sama, kebutuhan biaya pemeliharan kesehatan meningkat dan sering kali tidak sepenuhnya ditanggung asuransi. Transportasi ke rumah sakit, kebutuhan pendamping, atau bahkan sekadar menjaga pola makan sehat menjadi beban tambahan yang sulit dipenuhi. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya ketergantungan pada gaji pensiun atau jaminan hari tua tanpa perencanaan matang.
Bagi generasi muda, cerita ini adalah peringatan untuk mengambil langkah strategis dalam bertindak. Jangan terjebak pada pekerjaan yang menawarkan zona nyaman dengan gaji standar berdasarkan masa kerja, tanpa pertimbangan kreativitas atau prestasi. Carilah peluang yang memungkinkan pertumbuhan, baik secara finansial maupun pribadi. Berjuang maksimal selagi tidak ada beban. Mulailah berinvestasi, bukan hanya dalam bentuk uang, tetapi juga waktu dan energi untuk kesehatan dan keterampilan. Tabungan bukan hanya soal rupiah di bank, tetapi juga tubuh yang bugar, pikiran yang tajam, dan jiwa yang tangguh.
Sebagai bahan renungan, pensiun bukan akhir, melainkan babak baru. Dengan persiapan yang tepat, masa pensiun bisa menjadi waktu untuk menikmati hidup, bukan sekadar bertahan. Mulailah sekarang—satu langkah kecil seperti rutin berjalan kaki atau memanage pendapatan dengan hati-hati untuk menjalani hari tua yang lebih bermakna. Karena hidup yang baik di masa pensiun bukanlah keberuntungan, melainkan hasil dari pilihan bijak sepanjang hayat. ***
Suheryana Bae, pemerhati sosial, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





