PENSIUN sering dianggap sebagai fase emas dalam kehidupan, waktu untuk menikmati hasil jerih payah setelah puluhan tahun bekerja. Namun, kenyataannya, banyak pensiunan menghadapi berbagai tantangan yang dapat mengurangi kebahagiaan di masa tua. Masalah kesehatan, finansial, hingga bagaimana mengisi waktu. Usia senja kerap diwarnai oleh pergulatan internal batiniah dan eksternal. Pertanyaannya, apakah di usia senja kita harus terus terlilit dan terjebak dalam masalah, atau justru saat ini adalah waktu untuk melepaskan beban dan menikmati hidup dengan penuh kebahagiaan.
Seiring bertambahnya usia, tubuh secara alami mengalami penurunan fungsi. Namun, pertanyaan penting muncul, apakah penurunan fungsi tubuh harus selalu berujung pada penderitaan atau cukup menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi saat ini. Banyak pensiunan menghadapi masalah kesehatan, mulai dari gangguan fisik hingga penyakit kronis. Namun, dengan pola hidup sehat, seperti olahraga ringan, pola makan seimbang, dan pemeriksaan kesehatan rutin, kualitas hidup dapat tetap terjaga. Yang terpenting adalah menerima kondisi tubuh saat ini dan memanfaatkannya sebaik mungkin, bukan menjadikannya beban.
Bagi pensiunan, khususnya mantan pegawai negeri, masalah finansial sering menjadi tantangan besar. Pendapatan setelah pensiun biasanya menurun drastis, dengan gaji pokok yang hanya sekitar tujuh puluh lima persen daripada sebelumnya, ditambah hilangnya berbagai tunjangan seperti tunjangan jabatan dan kinerja. Hal ini memaksa pensiunan untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak, mencari sumber pendapatan tambahan, atau menyesuaikan gaya hidup. Perencanaan keuangan sebelum memasuki masa pensiun menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini.
Setelah puluhan tahun hidup dengan rutinitas kerja, banyak pensiunan merasa kehilangan arah saat dihadapkan pada waktu luang melimpah. Bagaimana mengisi hari-hari agar tetap bermakna. Kegiatan seperti berkebun, menulis, volunteering, atau mengembangkan hobi baru dapat menjadi cara untuk menjaga semangat dan produktivitas. Namun, yang lebih penting adalah menemukan makna dalam setiap aktivitas, sehingga rutinitas tidak lagi terasa membosankan.
Bahwa masalah adalah bagian universal dari kehidupan manusia, dari bayi hingga lansia. Bayi menangis karena lapar, remaja galau karena patah hati, dan orang dewasa bergulat dengan karier atau relasi. Di usia senja, masalah mungkin berubah bentuk, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Namun, apakah kita harus terus terjebak dalam masalah. Jawabannya adalah tidak. Usia senja adalah waktu untuk mengubah cara pandang terhadap masalah, melepaskan beban yang tidak relevan, dan fokus pada kebahagiaan.
Di usia senja, saatnya untuk melepaskan berbagai hal yang membebani pikiran dan hati. Kesalahan di masa lalu sering kali menghantui, tetapi menyimpan rasa bersalah hanya akan merusak kebahagiaan. Memaafkan diri sendiri dan orang lain adalah langkah penting menuju kedamaian batin. Ambisi untuk dihormati, populer, atau menduduki jabatan tertentu mungkin relevan di masa muda, tetapi di usia senja kehilangan maknanya. Mengosongkan pikiran dari keinginan-keinginan ini membuka ruang untuk menikmati hidup apa adanya. Kematian adalah misteri yang bisa datang kapan saja, baik di usia enam puluh, tujuh puluh atau bahkan seratus tahun. Karena itu, penting untuk menjalani setiap hari dengan rasa syukur, melakukan perbuatan baik, dan menikmati momen yang membawa kebahagiaan.
Setiap orang memiliki keyakinan masing-masing tentang kehidupan setelah kematian. Di usia senja, memperkuat keyakinan spiritual dapat memberikan ketenangan dan tujuan hidup. Bukan tentang mengejar kesempurnaan, tetapi tentang mempersiapkan diri untuk menghadapi akhir perjalanan dengan damai, sesuai dengan nilai dan kepercayaan yang diyakini.
Setiap manusia berhak untuk hidup bahagia, baik di dunia maupun di alam keabadian. Usia senja bukanlah waktu untuk terjebak dalam masalah, tetapi kesempatan untuk menikmati kehidupan dengan sukacita. Dengan mengelola kesehatan, keuangan, dan waktu dengan bijak, serta melepaskan beban emosional, pensiunan dapat menjalani hidup yang lebih ringan dan penuh kebahagiaan.
Akhirnya, usia senja adalah fase untuk menikmati hidup, bukan untuk terlilit masalah. Dengan melepaskan beban masa lalu, menerima keterbatasan, dan mengisi hari dengan aktivitas bermakna, pensiunan dapat menjalani hari-hari dengan penuh makna. Sekarang waktunya untuk hidup bahagia, menikmati setiap momen, dan mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya dengan keyakinan dan kedamaian. ***
Suheryana Bae, pemerhati sosial, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





