HIDUP sering kali tidak sejalan dengan skenario, dengan perjuangan panjang dan usaha yang telah kita lakukan dengan susah payah selama puluhan tahun. Usaha, impian, dan rencana yang dibangun dengan penuh harap, goyah dan membawa ke tepi jurang kehancuran. Aku menyebutnya fitnah eksternal—badai dari luar yang mengguncang jiwa, menyisakan sesak dada, dan menghadirkan keputusasaan. Di ujung perjalanan, ketika langkah mulai lelah, aku dihadapkan pada pertanyaan, haruskah menyerah dan tenggelam dalam kehidupan pedih dan mengerikan. Tidak. Tentu tidak. Aku memilih untuk berpasrah dan melawan keputusasaan dengan tekad untuk menemukan damai.
Aku memutuskan untuk melepaskan beban kehidupan yang menyiksa hati dan pikiran. Tiga langkah yang akan kutempuh untuk membersihkan diri dari luka yang bukan milikku, untuk hidup dalam nyaman dan membahagiakan.
Pertama, aku memutus tali birokratis yang mengikat pada masa lalu. Dunia itu, dengan segala keberhasilan dan kegagalannya, telah selesai kujalani. Prestasi yang pernah membanggakan, kesalahan yang pernah terjadi, biarlah menjadi debu sejarah. Sama sekali tidak boleh terjadi hanyut dalam kenangan. Masa lalu birokrasi, dengan segala dinamikanya, bukan lagi bagian dari diriku. Aku memilih untuk melangkah maju, meninggalkan beban tanpa perlu menoleh kembali.
Kedua, aku hendak membatasi komunikasi dengan keriuhan dunia luar. Kesibukan dan kehidupan masyarakat yang penuh dinamika bukan lagi panggungku. Aku ingin hidup dalam keberadaanku sendiri, di mana lingkungan hanyalah latar—bukan penentu makna hidup. Tempatku kini adalah di sini, menegakkan jati diri yang tak bergantung pada sorot pandangan dan pendapat orang lain. Berfokus pada diri, pada kenyamanan batin yang lahir dari kesederhanaan.
Ketiga, aku menjauh dari kilau media sosial. Berita yang membingungkan, drama kehidupan selebriti, atau intrik kekuasaan tidak lagi boleh mengusik ketenangan. Sebuah dunia luar yang tidak memahami kebahagiaan atau kesedihanku—mengapa harus kubiarkan ia merusak ketenangan. Aku menutup pintu itu, bukan karena takut, tetapi karena aku ingin hidup dalam kedamaian yang kujaga sendiri. Media sosial, dengan segala keriuhannya, diberi ruang terbatas .
Inilah hidupku, upaya membersihkan diri dari beban yang bukan milikku. Hidup ini, meski penuh luka, masih menyimpan ruang untuk damai. Aku memilih melangkah ringan, meninggalkan apa yang tak lagi memberi makna, dan memasuki kehidupan yang jujur pada diri sendiri. Di tepi jurang, aku tidak jatuh. Aku menemukan pijakan baru—kedamaian yang lahir dari keberanian untuk melepaskan. Kekuatan yang bertumpu pada kepasrahan kepada Mahapencipta.
Dengan langkah ini, aku menata ulang hidupku, bukan untuk orang lain, tetapi untuk diriku yang ingin damai di ujung perjalanan. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





