HIDUP sederhana bukan sekadar pilihan, melainkan keniscayaan bagi seorang pensiunan. Gaya hidup wah yang mungkin pernah melekat saat masih aktif sebagai pejabat atau pegawai negeri sipil (PNS) mesti ditinggalkan. Realitas ini mungkin terasa berat, tetapi menjadi bagian dari perjalanan baru yang menuntut kebijaksanaan dan penerimaan. Bagi sebagian besar pensiunan, pendapatan yang terbatas menuntut penyesuaian pola hidup, kecuali bagi mereka yang memiliki tabungan cukup, memiliki perusahaan, atau hidup di pedesaan dengan lahan pertanian atau peternakan.
Saat masih aktif bekerja, fasilitas mobil dinas dengan biaya perawatan dan bensin yang ditanggung negara menjadi bagian dari keseharian. Namun, ketika memasuki masa pensiun, realitas berubah drastis. Gaji pensiun yang terbatas sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan dan keperluan sehari-hari. Tidak lagi cukup untuk biaya keseharian menggunakan kendaraan roda empat. Tanpa perencanaan keuangan yang matang, hidup gaya bukan lagi opsi yang realistis. Oleh karena itu, pensiunan harus belajar untuk hidup hemat, bijak dalam mengelola keuangan, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.
Salah satu kunci untuk menjalani hidup sederhana adalah dengan mengadopsi sikap “bodo amat.” Bukan berarti mengabaikan segala hal, melainkan kemampuan untuk tidak terlalu mempedulikan omongan, pandangan, atau penilaian orang lain. Cemoohan atau hinaan yang mungkin muncul karena perubahan gaya hidup tidak juga perlu dihiraukan. Seorang pensiunan harus memprioritaskan kebahagiaan dan kesejahteraan diri sendiri serta keluarga, tanpa terbebani oleh ekspektasi sosial yang tidak realistis. Sebuah sikap yang memungkinkan hidup lebih tenang dan bebas dari tekanan eksternal.
Hidup sederhana juga berarti kembali ke esensi kehidupan. Fokus pada kebutuhan dasar kesehatan, hubungan baik dengan keluarga, dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada pujian orang atau status sosial. Menikmati waktu bersama cucu, merawat kebun kecil di halaman, atau sekadar menikmati secangkir teh tawar panas di pagi hari bisa menjadi sumber kebahagiaan yang sederhana namun nyata. Pensiunan juga bisa memanfaatkan waktu luang untuk mengejar hobi atau kegiatan yang selama ini terabaikan. Membaca, menulis, atau berkontribusi pada komunitas lokal.
Bagi pensiunan yang tinggal di pedesaan, memiliki lahan pertanian atau peternakan menjadi anugerah luar biasa. Selain dapat memenuhi kebutuhan pangan, aktivitas ini juga memberikan kemandirian dan kepuasan. Namun, bagi pensiunan di perkotaan, hidup sederhana bisa diwujudkan dengan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, seperti makan di luar atau membeli barang-barang yang tidak esensial. Mengelola keuangan dengan cermat, dengan membuat anggaran bulanan atau memanfaatkan diskon, juga menjadi langkah penting.
Pada akhirnya, hidup sederhana sebagai pensiunan adalah tentang menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil dan belajar melepaskan apa yang tidak lagi relevan. Dengan sikap penerimaan dan ketangguhan mental, pensiunan dapat menjalani masa pensiun dengan nyaman dan bermakna. Hidup bukan tentang apa yang orang lain pikirkan, tetapi tentang bagaimana kita menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam diri sendiri. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





