Catatan Pensiunan 21: Belajar Ilmu Ternak

WhatsApp Image 2025 07 14 at 18.45.17 1
Ilustrasi “Catatan Pensiunan 21: Belajar Ilmu Ternak’, (Foto: Dok. Suheryana Bae).

DI masa pensiun, banyak orang mencari cara untuk mengisi hari-hari dengan kegiatan yang bermakna. Salah satu pilihan yang aku tekuni selama setahun terakhir adalah beternak ayam kampung.

Awalnya,  melihat beternak sebagai cara untuk tetap aktif dan produktif. Namun, setelah menjalaninya, aku menyadari bahwa beternak ayam bukan hanya tentang keuntungan finansial, tetapi juga tentang ilmu, kesehatan jasmani dan rohani, serta kepuasan pribadi.

Satu tahun belajar beternak ayam memberi banyak pelajaran berharga. Dari sisi finansial, memang belum terlihat hasil yang signifikan. Biaya pakan, kandang, dan perawatan seringkali lebih besar dari pendapatan yang diperoleh. Namun, ada manfaat lain yang tak ternilai harganya. Ketika keluarga membutuhkan daging, tinggal mengambil ayam kampung dari kandang. Selain hemat, ayam kampung memiliki nilai lebih karena kualitasnya lebih alami dan sehat dibandingkan ayam potong komersial.

Media sosial sering kali menggoda kita dengan narasi bahwa setiap aktivitas harus menghasilkan uang. Awalnya, aku pun terjebak dalam pola pikir bahwa beternak harus menguntungkan secara finansial. Namun, lambat laun, menyadari bahwa tujuan utama beternak, setidaknya bagi pensiunan, bukanlah semata-mata keuntungan materi. Beternak adalah proses belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan praktis. Learning by doing. Aku belajar tentang siklus hidup, pola makan yang sehat, pengelolaan kandang yang bersih, hingga cara mencegah penyakit. Ilmu yang tidak hanya bermanfaat untuk beternak, tetapi juga melatih kesabaran, kedisiplinan, dan perhatian terhadap detail.

Lebih dari itu, beternak ayam memberikan manfaat kesehatan jasmani dan rohani. Merawat ayam membuat kita tetap aktif bergerak, mulai dari memberi pakan, membersihkan kandang, hingga memantau kesehatan ternak. Aktivitas fisik ini membantu menjaga kebugaran tubuh di usia pensiun. Dari sisi rohani, beternak memberikan ketenangan batin. Melihat ayam-ayam tumbuh sehat dan berkembang memberikan rasa puas dan bahagia. Interaksi dengan alam juga menjadi semacam terapi yang menjauhkan diri dari stres.

Keuntungan finansial, meskipun bukan tujuan utama, tetap menjadi bonus yang menyenangkan. Telur atau daging ayam yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan keluarga atau bahkan dijual untuk menambah pendapatan. Namun, yang lebih penting adalah semangat dan motivasi yang muncul dari proses ini. Beternak mengajarkan untuk tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga menikmati setiap proses dan langkah dalam perjalanan.

Bagi siapa pun yang ingin mencoba beternak ayam, baiknya tidak  terpaku pada keuntungan finansial semata. Ilmu yang didapat, kesehatan yang terjaga, dan kepuasan batin adalah reward utama dari beternak. Keuntungan materi hanyalah produk sampingan, by produktif,  yang akan mengikuti seiring waktu. Dengan pendekatan ini, beternak ayam bukan hanya aktivitas pengisi waktu, tetapi juga perjalanan hidup yang memperkaya keberadaan kita. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.