Catatan Pensiunan 23: Waktunya Belajar dan Menjadi Fully Functioning Person

patient centred therapy
Ilustrasi “Catatan Pensiunan 23: Waktunya Belajar dan Menjadi Fully Functioning Person”, (Foto: queenofconnection.com).

AKU dulu memandang usia senja sebagai waktu untuk bersantai, menikmati hasil jerih payah masa muda, atau menjalani hari dengan ritme yang tenang dan sederhana. Namun, kini aku menyadari bahwa usia senja adalah masa keemasan untuk berkembang menjadi pribadi yang utuh, hidup dengan penuh makna, dan memberi dampak positif bagi kehidupan sekitar. Purnatugas bukan akhir, melainkan awal dari babak baru yang penuh potensi.

Bagiku yang telah memasuki usia di atas enam puluh tahun dan menjalani masa purnatugas, waktu luang menjadi anugerah besar. Bebas dari tekanan pekerjaan dan rutinitas yang mengikat. Aku memiliki kesempatan emas untuk mengejar hal-hal yang selama ini terabaikan, mengeksplorasi minat baru, dan memperdalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, serta Mahapencipta.

Ada catatan penting tentang hal yang dapat dilakukan

Pertama, waktu untuk membaca dan memperluas wawasan.

Di masa muda, kesibukan sering kali membuatku hanya bisa melirik buku-buku yang tersusun rapi di rak perpustakaan keluarga. Kini, dengan waktu luang yang melimpah, aku bisa menyelami dunia pengetahuan kapan saja—pagi, siang, atau malam. Aku bebas memilih bacaan sesuai minat, mulai dari novel ringan untuk hiburan, buku filsafat, psikologi, sejarah, agama, hingga peradaban manusia. Membaca bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang dunia dan kehidupan. Dengan keseriusan, bahkan bisa mengantarkan seseorang menjadi cendekiawan.

Kedua, kebebasan untuk menulis dan berbagi cerita.

Usia senja memberiku kesempatan untuk menuangkan pengalaman hidup ke dalam tulisan. Aku bisa menulis tentang perjuangan membangun karier, kegagalan yang mengajarkan hikmah, petualangan masa muda yang penuh tantangan, atau renungan tentang makna kebahagiaan dan kehidupan. Tanpa tekanan atasan atau tenggat waktu pekerjaan, aku bebas menuangkan pikiran di buku catatan, blog pribadi, atau bahkan media sosial.

Menulis membuatku merasa bahwa perjalanan hidupku berharga, dan berharap cerita-cerita ini menggugah orang untuk melihat dunia dengan lebih bijak dan penuh syukur.

Ketiga, menemukan kebahagiaan dalam hobi baru.

Di usia ini, aku mulai mengeksplorasi hal-hal yang selama ini terabaikan, seperti berkebun dan beternak. Aku belajar menanam sayuran dan bunga di kebun kecil yang dulu terbengkalai, serta mencoba beternak ayam dengan pendekatan berbasis pengetahuan. Aku mencari informasi dari buku, internet, dan pengalaman orang lain untuk memahami teknik yang tepat. Aktivitas sederhana ini memberikan kepuasan batin yang berbeda dari pencapaian di dunia kerja. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat tanaman tumbuh subur atau memperhatikan keributan ayam di pagi hari. Hobi baru ini bukan hanya menyegarkan jiwa, tetapi juga mengajarkanku untuk menghargai proses dan kesederhanaan.

Keempat, mengenal diri sendiri melalui perenungan.

Dengan waktu yang lebih longgar, aku mulai merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar,  apa yang benar-benar membuatku bahagia, warisan apa yang ingin kutinggalkan di dunia ini,  ke mana arah akhir perjalanan hidupku, apa yang harus kulakukan untuk hidup bermakna.  Refleksi ini membantuku menemukan kedamaian batin dan kenyamanan dalam menjadi diri sendiri. Aku belajar untuk lebih empati, peka terhadap kebutuhan orang lain, dan berani menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kuyakini. Proses ini menjadikanku pribadi yang lebih utuh, yang tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang-orang sekitar.

Kelima, kesempatan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah.

Usia senja adalah waktu yang tepat untuk memperdalam hubungan dengan Mahapencipta. Dengan waktu luang yang lebih banyak, aku bisa meningkatkan kuantitas ibadah. Lebih rajin melaksanakan shalat, membaca Alquran, atau menghadiri majelis taklim. Lebih dari itu, aku juga fokus pada kualitas ibadah—berusaha menjalankannya dengan penuh kesadaran, kekhusyukan, dan keikhlasan. Aku belajar memahami makna di balik setiap ibadah, merenungkan ayat-ayat suci, dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Mahapencipta, sekaligus memberikan ketenangan jiwa dan arah yang jelas dalam menjalani sisa hidup.

Usia senja bukanlah akhir dari petualangan hidup, melainkan awal dari babak baru yang penuh kemungkinan. Aku memilih untuk menjalaninya dengan semangat dan gairah—membaca buku baru, menulis cerita yang menginspirasi, menekuni hobi yang menyehatkan, merenung untuk mengenal diri, dan memperdalam ibadah untuk mendekatkan diri pada Mahapencipta. Dengan begitu, aku tidak hanya menjadi pribadi yang utuh, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.