HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh cerita dan kenangan. Dan bersyukur adalah kunci untuk menikmati setiap detiknya. Ketika aku merenung, mampu berada di posisi saat ini—melampaui usia 60 tahun—adalah anugerah luar biasa. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjalani waktu lewat setengah abad.
Beberapa kenangan melintas.
Masa kecil yang penuh tawa. Hari-hari ketika bermain adalah segalanya, tanpa beban, tanpa masalah berat. Berlarian di lapangan atau di surau, main di lapangan, main petak umpet, gatrik atau sekadar menikmati buah dukuh di kebun. Begitu sederhana, namun sangat menyenangkan. Masa kecil mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil, dan kenangan itu menjadi fondasi untuk selalu bersyukur atas kegembiraan yang pernah kita miliki.
Lalu datang masa remaja. Masa pubertas, saat hati berbunga-bunga di bangku SMP. Cinta pertama itu, yang begitu murni dan tulus, hadir tanpa menuntut. Tanpa syarat. Mencintai sepenuh hati, tanpa memikirkan masa depan atau beban hidup. Hanya ada keindahan dan keceriaan, surat cinta yang ditulis diam-diam, dan senyum malu-malu saat berpapasan. Saling menatap yang menggetarkan namun gugup ketika berdekatan. Sebuah masa ketika dunia terasa penuh warna, dan cinta mengajarkan untuk merasakan kehidupan dengan penuh semangat. Bersyukur, aku pernah merasakan keindahan itu.
Saat melangkah ke bangku kuliah di Bandung, dunia baru terbuka. Kota yang sejuk, teman-teman baru, dan petualangan intelektual yang membawa menjelajahi ide-ide besar. Kuliah bukan hanya tentang belajar di kelas, tetapi juga tentang menemukan jati diri, bermimpi besar, dan menikmati kebebasan . Bandung, dengan pesonanya, menjadi saksi perjalanan untuk menuju kedewasaan.
Setamat kuliah, datang petualangan lebih menantang. Bekerja di Timor Leste, naik pesawat melintasi pulau-pulau, menghadapi situasi ekstrem yang menguji nyali dan ketahanan mental. Provinsi yang ketika itu penuh gejolak, sebelum akhirnya referendum dan memutuskan untuk menjadi negara sendiri.
Bagiku setiap tantangan adalah pelajaran, setiap keberhasilan adalah kenangan yang membanggakan. Pengalaman di Timor Leste mengajarkan tentang ketangguhan, keberanian, dan tidak menyerah pada ketakutan.
Kini, setelah purnatugas dari dunia pegawai negeri, hidup memasuki babak baru. Tidak lagi dikejar tenggat waktu atau tanggung jawab besar, saatnya menikmati ketenangan. Bersyukur atas setiap napas yang masih diberikan, atas kesehatan, keluarga, dan kenangan yang telah terukir. Masa lalu tidak perlu disesali, juga tidak perlu ingin kembali. Yang ada hanyalah hari ini—hadiah dari Allah yang harus disyukuri dan dijalani sebaik-baiknya.
Entah sampai kapan Maha Pencipta akan memanggil, yang terpenting adalah menjalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Tidak ada penyesalan atas apa yang telah terjadi, karena setiap momen—suka maupun duka—adalah bagian dari perjalanan. Hidup adalah anugerah, dan bersyukur membuat kita melihat keindahan di balik setiap langkah. Aku menjalani hari ini dengan penuh harapan dan ingin menikmati setiap detiknya, serta mempersiapkan diri untuk bertemu Sang Pencipta. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.





