Oleh Suheryana Bae
SERINGKALI ketika kita sedang menyantap nasi goreng favorit di warung pinggir jalan. Aroma rempahnya menggoda, panasnya masih mengepul. Tapi pikiran sudah melayang ke email kerja yang menumpuk, atau serial Netflix yang belum tamat. Seolah-olah makanan di depan kita merampas waktu berharga kita. Atau katakanlah kita sedang di masjid, sedang salat, tiba-tiba merasa sangat ingin segera keluar masjid. Karena ada podcast tokoh terkenal atau ingin melihat youtube petualangan, atau sekadar ingin minum kopi. Kenapa ya, hidup kita sering seperti ini. Tergesa-gesa. Seakan dunia akan runtuh kalau tidak segera menyelesaikan aktivitas saat ini.
Fenomena ini bukan hal baru. Di era digital, notifikasi ponsel seperti alarm darurat yang tak pernah mati. Kita merasa ada “pekerjaan mahapenting” di depan—meeting zoom, deadline tulisan, atau bahkan sekadar scroll feed Instagram. Saat salat di masjid, pikiran melayang ke siaran langsung pertandingan bola. Saat membaca buku, ingat cucian yang menumpuk. Hasilnya? Kita melewatkan keindahan proses. Hidup menjadi serba cepat, efisien, tapi hambar. Tanpa kesadaran dan penghayatan.
Padahal, apa sih yang sebenarnya menunggu. Tidak ada atasan yang marah-marah lagi di usia senja ini. Tidak ada monster yang akan menelan kalau kita lambat sedikit. Seperti kata filsuf Stoa, Epictetus, “Bukan hal-hal itu sendiri yang mengganggu kita, tapi pandangan kita terhadapnya.” Kita sendiri yang menciptakan rasa urgensi palsu itu. Dampaknya adalah stres kronis dan kehilangan momen berharga. Ingat, waktu tak bisa diputar ulang. Kalau hari ini tidak menikmati makan malam bersama keluarga, besok mungkin mereka tak ada lagi.
Lalu, bagaimana caranya beralih ke mode santai? Mulai dari kesadaran penuh. Kita harus mencoba menjalani praktik hidup sederhana: Saat makan, fokus pada rasa, tekstur, dan aroma. Matikan ponsel, biarkan dunia luar diam sejenak. Saat beribadah, hayati setiap gerakan, mencoba memahami bacaan, seperti meditasi bergerak. Saat kerja di kebun, pecah tugas jadi potongan kecil, dan rayakan setiap pencapaian dengan secangkir kopi hangat.
Hidup seperti perjalanan kereta api, bukan balap mobil F1. Di kereta, kita bisa menikmati pemandangan sawah hijau, gunung menjulang, atau obrolan ringan dengan penumpang sebelah. Bukan buru-buru sampai tujuan, tapi menikmati rute. Seorang petani di desa kecil bangun di pagi hari, menyirami sawah sambil mendengar kicau burung. Tidak ada deadline, tapi menjalani hidup sepenuhnya. Hasil panen melimpah, dan hatinya tenang. Bandingkan dengan pejabat dan pengusaha di kota yang kaya raya tapi selalu gelisah.
Maka mulai hari ini, ada baiknya mencoba tantangan. Pilih satu aktivitas harian dan jalani dengan penuh hati. Rasakan bedanya. Kita akan menemukan, kebahagiaan bukan di akhir garis finis, tapi di setiap langkah. Santai bukan berarti malas, tapi cerdas. Memberi ruang untuk bernapas, tertawa, dan mencintai hidup. Karena waktu adalah satu-satunya aset tak tergantikan. Maka layak dinikmati sekarang, sebelum terlambat!
Inilah yang sedang aku upayakan saat ini. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.





