Oleh Suheryana Bae
KENANGAN masa lalu sering kali menjadi beban yang memengaruhi langkah kita. Kenangan dapat menjadi tumpukan sampah yang dibiarkan mengendap. Semakin lama dibiarkan, semakin menghambat kejernihan pikiran dan menganggu emosi. Kesalahan, kekecewaan, kegagalan, bahkan kenangan indah yang dulu terasa membanggakan—semuanya dapat berubah menjadi jangkar yang menahan gerak maju. Kita sering memeluknya terlalu erat, seolah masa lalu adalah satu-satunya bukti bahwa kita pernah hidup. Padahal hidup terus berlangsung dan ruang dalam diri kita perlu dibersihkan untuk menyambut hari baru.
Terkadang kita tidak sadar bahwa kenangan indah pun dapat menjadi beban. Keberhasilan masa lalu dapat membuat kita terjebak dalam perbandingan tanpa akhir. Apakah kita masih sama hebatnya. Apakah masa depan akan juga meraih keberhasilan.
Pikiran seperti ini perlahan menciptakan ketakutan dan tekanan. Sama halnya dengan kenangan buruk yang menimbulkan luka. Sehingga akhirnya membentuk pola pikir yang membatasi diri sendiri, memenuhi ruang batin membuatnya sesak hingga sulit melihat masa kini dengan jernih dan masa depan dengan harapan.
Itulah sebabnya, kita perlu belajar mengurangi kenangan masa lalu. Tidak semua hal layak disimpan. Foto, ada baiknya kita pilih hanya yang benar-benar berarti, pelajaran yang menguatkan, hikmah yang membawa kedewasaan, dan nilai-nilai yang membentuk karakter. Sisanya—penyesalan berkepanjangan, pikiran negatif, rasa bersalah yang tidak lagi memberi manfaat, atau kebanggaan yang berubah menjadi belenggu—perlu dilepaskan dengan sadar. Melepas bukan berarti melupakan. Melepas berarti memberi izin untuk tidak lagi dikendalikan oleh sesuatu yang sudah selesai.
Membebaskan diri dari masa lalu membutuhkan keberanian. Membutuhkan kejujuran untuk mengakui luka, kebijaksanaan untuk memetik pelajaran, dan ketegasan untuk mengatakan bahwa hidup kita tidak berhenti pada satu bab saja. Masa lalu adalah guru, bukan rumah. Kita boleh belajar darinya, tetapi tidak wajib tinggal di dalamnya. Dengan meletakkan beban yang tak lagi relevan, kita menciptakan ruang baru untuk kedamaian, kreativitas, dan kebebasan melangkah.
Hidup hari ini adalah kesempatan untuk memperbarui diri. Untuk melihat dengan mata yang lebih jernih, merasa dengan hati yang lebih lapang, dan bergerak dengan langkah yang lebih ringan. Ketika kita tidak lagi terjebak pada sesuatu yang telah berlalu, kita memberi tempat bagi apa yang mungkin. Dan di situlah, masa depan mulai terbentuk. ***
Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.





