Catatan Pensiunan 35: Rem Hasrat Duniawi

unsplash image FoZ7lsbwCFk
Ilustrasi “Catatan Pensiunan 35: Rem Hasrat Duniawi”, (Foto: Istimewa).

Oleh Suheryana Bae

CUKUP sudah. Perjuangan tanpa henti, mengejar karier, menabung, dan menambah aset .

Hari ini, saatnya beristirahat. Bukan saatnya lagi terjebak dalam lingkaran kapitalisme-duniawi yang menguras jiwa. Sekarang adalah waktunya untuk menyempurnakan diri, mengejar kebahagiaan, menikmati hobi, dan berjuang demi kesehatan. Sebuah langkah menuju hidup yang lebih bermakna.

Dimulai dengan langkah-langkah menyempurnakan diri. Mengenal dan memahami diri. Refleksi tentang nilai yang benar-benar penting. Bodo amat  yang dikatakan orang-orang,  yang penting nyaman. Menemukan passion tanpa harus bergantung pada gaji pensiunan.

Bahwa, kebahagiaan bukan barang mewah yang dibeli, tapi pilihan sehari-hari. Lupakan target KPI kantor, menghargai momen kecil yang bikin senyum. Berjalan-jalan di taman, ngobrol dengan teman lama, atau sekadar menonton matahari terbenam. Kapitalisme sering menipu kita dengan janji “nanti bahagia setelah sukses”. Mengapa mesti menunggu. Sekarang saja memenuhi daftar “kesenangan harian”: seperti makan jajanan favorit atau mendengarkan lagu lama. Realitasnya, kebahagiaan ada di sekitar, gratis, dan dapat dijangkau.

Penting juga menikmati hobi sebagai obat untuk jiwa yang lelah. Dulu, mungkin suka membaca, adventure, menikmati alam, berolah raga, atau menonton, tetapi terlupakan karena deadline kerja. Kini, saatnya meluangkan  waktu khusus untuk hobi. Tidak lagi dikejar-kejar apapun Betapa menyenangkan seharian mendengarkan musik diselingi membaca dan menulis blog pribadi. Segar dan produktif. Bukan menyia-nyiakan waktu, tapi investasi untuk keseimbangan hidup.

Terakhir, kesehatan adalah pondasi segalanya. Tanpa tubuh sehat, hidup terasa sia-sia dan menyiksa. Olahraga ringan yang pas untuk usia senja. Jalan kaki 30 menit, makan makanan bergizi, dan tidur cukup. Menghindari tidur larut atau kerja keras.

Akhirnya, hari ini adalah panggilan untuk berubah. Meninggalkan jebakan materialisme; dan memeluk kehidupan yang penuh makna. Dengan menyempurnakan diri, mengejar kebahagiaan, menikmati hobi, dan menjaga kesehatan, Bukan hanya bertahan hidup tetapi benar-benar hidup. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *