Catatan Pensiunan 36: dengan Kereta

DSC 0075
Ilustrasi "Catatan Pensiunan 36: dengan Kereta", (Foto: Kip.kereta-api.co.id).

Oleh Suheryana Bae

DALAM jarak pandang yang memanjang dari jendela kereta yang melaju, alam selalu punya cara untuk membuatku terdiam dan merenung sejenak. Hamparan hijau dedaunan, bukit dan gunung yang berlapis, pesawahan yang membentang serta lalu lalang dinamis kehidupan —semuanya menyatu menjadi lukisan hidup yang menenangkan. Dari atas rel perjalanan itu, aku diingatkan bahwa hidup bukan tujuan akhir, melainkan rangkaian proses yang sarat makna.

Perjalanan bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi juga tentang berpindah cara pandang. Ia mengajarkan kita untuk melihat keindahan dalam kesederhanaan dan menemukan pelajaran dari hal-hal yang kerap dianggap biasa.

7-8 Januari 2026

Salah satu pelajaran besar justru datang dari aktivitas yang sering diremehkan semisal mengasuh anak. Banyak yang mengira bukanlah pekerjaan, padahal ia adalah tugas sangat berat. Menguras waktu, tenaga, emosi, dan pikiran. Tentu saja membutuhkan ilmu, kesabaran, dan kesadaran penuh. Sejatinya mengasuh anak adalah investasi peradaban—upaya mengantarkan generasi agar memahami hidup dan mampu memberi makna bagi kehidupan orang lain.

Dedikasi juga tampak nyata pada hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Di tengah hujan deras, petugas taman Hotel Merdeka tetap membersihkan kolam ikan dari dedaunan dan rumput liar. Tidak mengeluh, tidak menunda-nunda. Hanya kerja yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Sebuah pemandangan sederhana, namun sarat pelajaran tentang profesionalisme dan integritas. Andai semangat seperti ini tumbuh subur di setiap ruang kerja, betapa berbeda wajah pelayanan sekitar kita.

9-10 Januari 2026

Pengalaman lain yang tak kalah mengesankan terjadi di Stasiun Kediri. Dalam hujan lebat, seorang petugas membantu menurunkan barang dari mobil dengan sigap. Ketika hendak diberi tip, ia menolak dengan tegas. Di sana, di KAI, terlihat jelas keberhasilan menanamkan mental melayani. Aku pun bertanya dalam hati: masih adakah instansi lain yang menjaga nilai-nilai seperti ini dengan konsisten.

Perjalanan kereta juga menyuguhkan keindahan yang berbeda—keindahan manusia. Seorang pramugari kereta dengan wajah cantik dalam balutan batik menawan, menawarkan makanan dan minuman kepada penumpang. Bukan hanya paras atau penampilannya yang mengesankan, tetapi sikap dan keramahannya. Dan ketika dini hari tiba di Stasiun Ciamis, ia bersama dua rekannya berdiri berjejer mengucapkan terima kasih kepada para penumpang yang turun.

10 Januari 2026 – 03.00

Kereta pun bergerak perlahan. Dari balik jendela, lambaian tangan menjadi bahasa yang menggugah. Sebuah pesan yang menghujam untuk menumbuhkan semangat dan gigih berjuang untuk kehidupan berkualitas selagi masih hidup.

Pagi menyambut dengan bunga-bunga bermekaran. Matahari naik perlahan, mengantar ke hari penuh harapan dan optimisme. Dan aku pun sadar, bahwa inspirasi tidak selalu datang dari hal besar. Terkadang hadir lewat perjalanan, hujan, kerja sunyi, pelayanan tulus, dan manusia-manusia mempesona yang bekerja dengan hati. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *