Catatan Pensiunan 38: Belokan Kehidupan

background desa 2 59cf113ba71d4403667eed92
Ilustrasi “Catatan Pensiunan 38: Belokan Kehidupan, (Foto: Istimewa).

Oleh Suheryana Bae

DULU membayangkan bahwa pensiun adalah babak akhir yang damai, seperti air sungai yang mengalir tenang menuju muara. Puluhan tahun bekerja keras, dan di akhir merencanakan hari-hari pensiun dengan penuh harap. Menikmati kesenggangan,  membaca buku-buku  yang berjejer rapi di rak, memperdalam kesalehan dengan ibadah dan i’tikaf, atau berkantor di rumah saja. Sebuah impian indah tentang memiliki majalah online sendiri – platform sederhana untuk berbagi cerita inspiratif, tentang kehidupan desa atau perjalanan panjang kehidupan. Duduk di kantor yang tertata apik kekinian, mengetik artikel sambil menyeruput teh hangat, mendengarkan Mozart, kendang pencak, Iwan Fals, atau Ebiet G. Ade.

Aku mempersiapkan segalanya dengan cermat.  Ruangan khusus di rumah direnov menjadi kantor. Meja-kursi kayu, komputer, dan koneksi internet yang stabil. Dibantu anak membuat majalah dan belajar platform, meski sering tersendat karena tidak mahir teknologi kekinian.  Berharap majalah itu akan hidup, diisi oleh aku, anakku, anak-anak sekolah, dan beberapa sahabat penulis.  Realitasnya tidak seperti harapan. Pada akhirnya semua bubar jalan. Tidak ada yang konsisten membantu. Tidak populer dan hanya menelan biaya hosting dan domain.  Akhirnya, menyerah dan berhenti dalam perjalanan.

Lalu, beralih ke visi lain, hidup di desa yang sunyi. Kembali ke kehidupan masa kecil. Tempat dilahirkan, bermain, bertumbuh, menikmati pubertas. Keheningan pagi, berjalan di sawah hijau, berbincang dengan tetangga yang hidupnya sederhana. Atau, jika pun tidak berumah di desa, cukup menikmati hidup apa adanya dengan gaji pensiunan. Bersilaturahmi ke saudara, mengasuh cucu yang lucu-lucu, jalan pagi di taman kota, dan menonton podcast atau entertain di kanal youtube. Tidak perlu ambisi besar. Cukup bersyukur atas apa yang ada. Hidup sederhana, tanpa tekanan.

Tapi, hidup tidak pernah lurus seperti penggaris.  Mahapencipta, atau semesta punya ketentuan lain.  Tetiba belokan membalikkan segalanya. Tantangan baru pun datang. Masalah keluarga, kesehatan tubuh digerogoti usia dan gaya hidup salah, masalah finansial, dan beberapa gangguan tidak terduga.

Mengisi waktu pun menjadi tantangan tersendiri. Waktu senggang yang diimpikan malah terasa hampa. Memaksa merenungkan ulang makna hidup. Apa arti pensiun jika bukan kedamaian? Kenapa semesta membelokkan jalanku?

Dalam kontemplasi di saat sendiri dalam keheningan, aku sadar bahwa belokan hidup adalah bagian dari perjalanan. Entah, mungkin untuk menguji ketabahan, atau memberikan pelajaran baru.

Pada akhirnya belajar menerima dan berpasrah. Bukan menyerah, tapi beradaptasi.

Hidup berbelok dari mimpi dan harapan, bukan akhir, tapi kesempatan untuk belajar menerima, berpasrah, dan berjuang meningkatkan kualitas diri. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *