Cerita Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi, Mahasiswa Indonesia yang Terpilih sebagai Imam Masjid di London

mahasiswa magister dual degree universitas islam internasional indonesia uiii dan soas university of london muhammad fahmi rek 1767350083432 169
Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi, mahasiswa magister dual degree Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan SOAS University of London, terpilih sebagai Imam Masjid di Indonesian Islamic Centre London, (Foto: Kemenag).

ZONALITERASI.ID – Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi, mahasiswa magister dual degree Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan SOAS University of London, terpilih sebagai Imam Masjid di Indonesian Islamic Centre London.

Saat pemilihan Imam Masjid, Fahmi bersaing dengan 31 kandidat lainnya. Setelah melalui beberapa tahapan seleksi, hanya empat orang yang masuk ke tahap wawancara dan pemaparan grand design.

“Ketika keputusan akhir diumumkan, saya benar-benar terkejut. Ada banyak kandidat lain yang mempunyai hafalan Al Quran lebih kuat dan penguasaan khazanah keislaman yang lebih mendalam,” ujar Fahmi, dikutip dari laman Kementerian Agama (Kemenag) RI, Sabtu, 3 Januari 2026.

Bagi Fahmi, kesempatan menjadi Imam Masjid di London bukanlah sebuah jabatan, tetapi kelanjutan perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang. Sebelumnya, Fahmi menimba ilmu di pesantren selama 13 tahun.

Meski begitu, lanjut Fahmi, ilmu yang ia dapatkan sejauh ini masih belum cukup untuk sepenuhnya menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman.

“Namun, alhamdulillah, setidaknya itu menjadi titik awal yang kuat, sebuah pondasi untuk berpijak,” ucapnya.

Berada di tengah aktivitas Indonesian Islamic Centre London membuat Fahmi berada di persimpangan antara identitas, tradisi, dan keberagaman. Masjid tersebut menjadi rumah spiritual untuk masyarakat Indonesia yang ada di Inggris, sekaligus ruang ibadah untuk jamaah dari berbagai latar budaya dan kebangsaan.

Kata Fahmi, tanggung jawab ganda tersebut penuh makna dan menantang. Di satu sisi ada kewajiban untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi keagamaan Indonesia dan melayani jamaah Indonesia. Namun, di sisi lain ia juga dituntut responsif terhadap komunitas muslim yang lebih luas dan sangat beragam.

“Perbedaan kerap muncul, bahkan dalam praktik ibadah sehari-hari. Kendati demikian, ini sebagai peluang. Dalam konteks ini, perbedaan tidak memisahkan. Justru menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan, belajar satu sama lain, dan menguatkan pemahaman,” ujarnya.

Hidup sebagai muslim minoritas di London, juga mengubah cara pandang Fahmi. Tinimbang memperdebatkan siapa yang paling benar, fokusnya kemudian bergeser pada upaya menghadirkan ruang ibadah yang damai dan inklusif, tempat ibadah yang tenang dan bermartabat.

Fahmi pun membayangkan mahasiswa lain dari program dual degree UIII-SOAS bisa melangkah ke peran serupa, melanjutkan yang ia istilahkan sebagai estafet dakwah, yaitu rantai pengabdian dan komitmen.

“Kebutuhan akan terus bertambah. Dan pelayanan terbaik harus senantiasa diupayakan bagi jamaah dan masyarakat luas. Mimbar di London bukanlah titik akhir, tetapi bagian dari perjalanan panjang di mana keilmuan bertemu dengan pengabdian, serta proses belajar menemukan makna yang paling utuh dalam tanggung jawab,” pungkas Fahmi. (des)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *