Karya Rika Johara
PAGI itu, listrik terasa seperti denyut nadi yang tak stabil. Lampu menyala, lalu redup. Wi-Fi mati seperti janji-janji yang pernah diucapkan dengan mata mantap tapi tak pernah ditepati. Di sudut rumah, seorang anak menatap layar ponsel dengan polos, tak tahu bahwa baterai yang habis bisa menjadi awal dari runtuhnya satu hari.
Aku jurnalis. Setidaknya itu yang tertulis di kartu identitas yang mulai mengelupas. Atau mungkin itu yang aku pikir. Aku menulis setiap hari, mengumpulkan kata seperti memungut remah roti di meja besar bernama tuntutan sosial. Tulisan-tulisan itu terbit, dibagikan, dipuji—namun tak pernah berubah menjadi angka di dompet. Kata-kata tak bisa membeli beras, tak bisa memperbaiki kabel charger yang sudah longgar seperti komitmen para pengambil keputusan.
Ketika konektor tak mau menempel, aku merasa seperti hidupku: harus dimiringkan ke sudut tertentu agar bisa menyala. Sedikit saja bergeser, mati lagi. Waktu bocor, menetes ke lantai seperti air cucian yang lupa ditampung. Padahal daftar kerja menunggu: menulis, mencari uang, membersihkan rumah, mencuci, menjemur, memasak, dan berpura-pura kuat.
Lalu piring itu jatuh. Bunyi pecahnya nyaring, seperti berita utama. Nasi berhamburan di lantai, putih dan tak bersalah. Aku membentak. Anak itu terdiam. Aku tahu ia bukan musuh, tapi dunia sering memilih sasaran yang paling dekat ketika amarah tak punya alamat jelas. Aku membenci diriku sendiri pada detik itu—perempuan yang tahu teori empati, tapi kelelahan membuatnya rapuh.
Siang menjelang, pesan-pesan masuk. Ada undangan liqo, permintaan membimbing, ajakan berkontribusi. Semua berlabel “kebaikan sosial”. Aku mampu, kata mereka.
Aku tahu aku mampu. Tapi kemampuan tak pernah disertai ongkos. Di negeri yang memuja pengabdian, perempuan sering diminta bekerja dengan doa sebagai upah.
Malam sebelumnya, Bapak menangis. Tangis lelaki tua yang suaranya pernah menjadi tembok. “Kamu luar biasa,” katanya, “tapi di kota ini, tak ada perusahaan yang tahu cara membayar keajaiban.”
Aku mengangguk. Di luar sana, ada orang-orang yang memandangku seperti catatan kaki. You are nothing, kata mata mereka. Terlalu biasa. Tak cukup populer. Terlalu perempuan.
Aku pernah ditawari pekerjaan tetap. Oleh seorang wartawan senior yang suaranya berat seperti kolom opini. Tapi ada syarat: training tanpa ongkos, wawancara di ruang rapat yang waktunya molor seperti janji pembangunan, tugas menulis isu di tepi jurang—topik yang ditinggalkan rekan-rekan lelaki karena “berbahaya”.
Aku pergi. Aku menunggu. Aku menulis. Aku mengorbankan jam sekolah anak-anakku, menit-menit yang seharusnya milik mereka. Sebagai orang tua tunggal, aku menukar waktu keluarga dengan harapan profesional.
Ironisnya, setelah penguasa yang kutulis memasang iklan di media itu, namaku menghilang. Tak ada kabar. Tak ada penjelasan. Ketika aku menagih kepastian, jawabannya dingin dan rapi, seperti berita yang disensor: “Kamu perempuan. Punya anak. Nggak bisa kerja begini.”
Kalimat itu bukan hanya penolakan. Ia palu yang memukul sejarah panjang, bahwa rahim dianggap gangguan, bahwa pengasuhan dilihat sebagai cacat profesional. Seolah keberanian dan kecermatan jurnalis ditentukan oleh jenis kelamin, bukan integritas.
Aku pulang ke rumah dengan lantai yang sudah kering. Nasi yang terbuang tak bisa dikembalikan. Tapi aku menulis lagi. Dengan tangan gemetar dan hati yang keras kepala. Aku menyamarkan luka dengan metafora, menyelipkan fakta di antara kalimat, seperti biasa kami lakukan agar tetap selamat.
Aku tak mencari validasi. Aku mencari ruang. Ruang yang lebih adil. Tempat di mana kerja dibayar, waktu dihormati, dan perempuan tak diminta memilih antara kebenaran dan anak-anaknya.
Jika hari ini aku ingin mengumpat, biarlah umpatan itu berubah menjadi cerita. Karena di dunia yang sering menutup telinga, cerita adalah bentuk perlawanan paling sunyi—dan paling bertahan lama. ***
Sumber: Kabar Priangan





