Dr. Surya Suryadi, Tembang Sunda dan Berkah K.H.R.  Muhammad Nuh bin Idris

WhatsApp Image 2026 02 05 at 16.17.18 1
Dr. Surya Suryadi, (Foto: Nunu A. Hamijaya).

Oleh Nunu A. Hamijaya

NAMA Dr. Surya Suryadi tentu lebih  terkenal di kalangan  akademisi,  peneliti,  filolog, khususnya yang pernah berhubungan dengan Universitas Leiden. Namun, terakhir ia  juga  viral setelah  ikut memberikan informasi terkait   kasus ijazah Joko Widodo.  Menurutnya,  “Setelah memeriksa arsip resmi, yang ada di Fakultas Kehutanan UGM hanya Bagian Teknologi Kehutanan, bukan Teknologi Kayu,” ujar Dr. Surya Suryadi dalam penjelasannya yang dipublikasikan pada 24 April 2025. Dengan  demikian,  jika Jokowi benar-benar kuliah di Fakultas  Kehutanan UGM, pada saat ia masuk fakultas  itu di tahun 1980, di sana ada empat bagian  atau jurusan yang dapat dimasuki. Jurusan itu  adalah: 1) Bagian Ekonomi Perusahaan Hutan; 2) Bagian Silvikultur; 3) Bagian Teknologi Kehutanan, dan bagian yang baru: 4) Bagian Konservasi Sumber Daya Hutan.

Disebutkan  pula bahwa  perihal Kasmudjo. di  halaman 12 buku  (Sumber: Moh. Sambas Sabarnurdin, Jejak Langkah Fakultas Kehutanan UGM Mencerdaskan Bangsa. Yogyakarta: [Fakultas Kehutanan UGM], 1996:12)  tercatat nama: “Kasmudjo, B.Sc. (1976)”, yang berarti: Kasmudjo, dengan gelar “B.Sc.” diterima menjadi  dosen  di Fakultas Kehutanan UGM pada tahun  1976  (kursif: Suryadi). Ia adalah satu dari 31 orang dosen Fakultas Kehutanan UGM yang diterima dalam periode 1971-1980..

Hadiah  Buku  K.H.R. Muhammad Nuh bin Idris

Kang  Rachmat  Taufiq   Hidayat (RTH),  pakar ensiklopedi   Sunda  (Pusat  Studi Sunda) saat ke  Universitas Leiden (2025) berkenan membawa buku tentang Kiprah K.H.R. Muhammad Nuh bin Idris  karya penulis (Nunu A. Hamijaya). Awal pertemuannya dengan Dr. Suryadi, ternyata menjadi kenangan manis dan mengharukan, karena saat Kang RTH  untuk pertama pertama kali ke Leiden  ditolong beliau.   Maka, dalam riset ke Universitas Leiden untuk kali ketiga,  Kang RTH membawa serta buku tersebut dan menyerahkannya sebagai hadiah kepada Dr. Suryadi.

Sosok  KHR  Muhammad Nuh bin Idris  (1879-1966)

Karena informasi yang tidak lengkap, nama ‘Nuh’ ini disematkan secara keliru, sehingga sering  membingungkan. Ketiga nama ulama jumhur itu, adalah Mama Abdullah bin Nuh (ABN); Aang Nuh Gentur (ANG) dan terakhir paling senior dari usia keduanya dan jarang diketahui publik yaitu KHR Muhammad Nuh bin Idris (MNI) .

Beliau adalah salah  satu murid Syeikh  R.H. Muhammad   Mukhtar bin Atharid al-Bughuri di Mekah.  Beliau  juga memiliki karya astronomi ilmu falak berjudul  ‘Risalah al-Qiblah’ dan  Al-Ajwibatus Syafiyah li Dzawil ‘Uqulis Salimah tentang fatwa fiqiyyah. Bahkan, salah satu kitabnya, menjadi subyek penelitian disertasi Dr. Budi Utomo, M.Pd. di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Selasa (30/12/2025). Disertasinya berjudul  “Pemikiran K.H.R. Muhammad Nuh bin Idris terhadap Ideologi Wahhabi dalam Kitab Al-Ajwibatus Syafiyah li Dzawil ’Uqulis Salimah dan Kontribusinya pada Pendidikan Moderasi Beragama” dengan predikat  yang diraihnya ‘cumlaude’.

Sepulangnya ke Cianjur, beliau dan R.H. Tolhah bin R.H. Zin bin al-Cholidi  (Kalipah  Cianjur) mendirikan Madrasah al  I’anah, pada17 September 1912. Nama madrasah  itu terinspirasi atas usulan K.H.  Ahmad  Dahlan, sebagai  murid langsung  penulis Kitab  Hasyiyah I’anah ath-Thalibin  (syarah dari Fathul Mu’in)  Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi (Sayyid Bakri Syatha), seorang ulama besar Mazhab Syafi’i.

Selain itu, beliau beserta tokoh ulama di Tatar Sunda seperti   K.H. Utsman Dhomiri, K.H. Badruzzaman Biru (Garut), K.H. Abbas dan K.H. Anas Buntet (Cirebon), tercatat  pernah  belajar kepada Syaikh ‘Alî al-Thayyib al-Madanî dan sebagian mereka menjadi wakil Tarekat Tijaniyyah atas diri beliau. Tercatat pula, bahwa saat menjadi tholibin di Mekkah   sezaman dan mengenal dekat K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah),  K.H. Ahmad Sanusi (PUI). Sedangkan saat kembali ke Cianjur,  beliau bersahabat dengan dua tokoh SI se-zamannya:   H.O.S.  Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis (Sarekat Islam) di tahun 1915-1918.

Dalam literatur terbitan Kementerian Agama RI tidak tercatat namanya. Juga, di Cianjur tidak ada nama jalan kecil apalagi jalan kabupaten yang mengabadikan namanya. Sejarawan muslim dosen UIN SGD Bandung, Dr. Moeflich Hasbullah, M.A. menulisnya sebagai Historical Rage dalam Pengantar buku K.H.R. Muhammad Nuh bin Idris, karya Nunu A. Hamijaya (Pusbangter, 2024).

Dalam diri K.H.R. Muhammad Nuh bin Idris, terbentuk  empat kualitas pribadi seorang ULAMA-warosatul anbiya, sehingga sudah ‘masagi’: sebagai ahli falak/astronomi, pendidik dan menjalani torekat at Tijaniyyah, serta politisi negarawan dua organisasi pergerakan politik Islam pelopor yaitu SAREKAT ISLAM dan MASYUMI. Beliau juga ulama  yang turut aktif dalam pergerakan politik dunia Islam lewat komite khilafah di Cianjur (1925). Sedangkan kiprahnya sebagai politisi Islam lewat Masyumi, sebagai anggota Konstituante (No. 247) yang berkomitmen menjadikan ISLAM sebagai dasar negara melalui Piagam Jakarta.

Dari  “Syair Lampung Karam”  ke Rekaman Musik Minang

Dr. Surya  Suryadi, putra asli Nagari Sunur, Padang Pariaman, salah satu pakar filologi paling  disegani di kancah internasional. Lahir pada 15 Februari 1965, perjalanan Suryadi adalah pengejawantahan sejati dari filosofi merantau Minangkabau. Keputusannya bertolak ke Belanda pada akhir 1998 bukanlah tanpa alasan. Setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai asisten dosen di Universitas Andalas dan Universitas Indonesia tanpa kepastian status, ia memilih  mempraktikkan petuah: “Jikok nasib alun baubah, labiah elok rantau dipajauah.”

Keberanian itu membuahkan hasil. Bermula sebagai dosen tamu, kecemerlangan intelektualnya membuat Universitas Leiden—salah satu pusat studi tertua dan terbaik di Eropa—mengukuhkannya sebagai dosen tetap.

Untuk  menghidupkan suara dari masa lalu, menurutnya,  “Meneliti masa lalu bukan sekadar membaca kertas usang, melainkan cara terbaik untuk mencintai tanah kelahiran dan memahami jati diri bangsa.”

Salah satu kontribusi terbesarnya bagi literatur dunia adalah kajian mendalam terhadap  Syair Lampung Karam. Melalui teks langka ini, Suryadi berhasil mengungkap perspektif pribumi mengenai kedahsyatan letusan Gunung Krakatau tahun 1883, memberikan suara bagi para saksi mata Nusantara yang selama ini tertutup narasi kolonial.

Disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Recording Industry And ‘Regional’ Culture In Indonesia: The Case Of Minangkabau”. Disertasi  ini terdiri dari 7 bab ditambah bab terakhir.  Bab pertama melukiskan pengalaman paling awal  masyarakat Hindia Belanda dengan fonograf atau gramofon. Bagian kedua dan ketiga disertasi ini menyorot lebih dekat elemen-elemen lain yang mendukung eksistensi industri rekaman Sumatera Barat untuk memahami seberapa jauh budaya lokal dan masyarakat Indonesia telah bersenggayut dengan teknologi rekaman. Bab 4 membahas elemen-elemen yang terlibat dalam industri rekaman Sumatera Barat. Bab 5 menjelaskan karakteristik pop Minang dan makna sosiokulturalnya dalam masyarakat  Minangkabau. Bab 6 mengulas mediasi historis genre seni lisan tradisional Minangkabau. Bab 7 melacak kemunculan musik pop anak Minangkabau serta hubungannya dengan industri musik nasional dan global. Bab terakhir membahas distribusi dan resepsi konvensional kaset dan VCD komersial Minangkabau

Tembang Sunda: Pelopor Genre Industri Rekaman (1892)

Dalam disertasinya itu menyangkut kajian atas tiga fokus  utama. Pertama, sejarah  rekaman di Indonesia. Rekaman repertoar Indonesia dilakukan tidak lama setelah fonograf pertama kali diperkenalkan di Jawa, dipelopori oleh eksperimen rekaman tembang Sunda oleh peraga  fonograf, G. Tesséro pada bulan Agustus 1892, yang tercatat sebagai repertoar lokal Indonesia pertama yang dimediasi oleh teknologi rekaman. Belakangan, rekaman lalu diluaskan ke genre-genre hiburan daerah urban seperti stambul dan kroncong serta  genre-genre daerah dari pulau-pulau lain, termasuk yang berasal dari Minangkabau.

G. Tesséro adalah seorang profesor dan peraga fonograf (alat perekam suara) yang berperan penting dalam memperkenalkan teknologi rekaman di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada akhir abad ke-19. Tesséro tercatat mempelopori eksperimen rekaman tembang Sunda pada bulan Agustus 1892. Dia sering disebut dalam literatur sejarah rekaman sebagai “Profesor G. Tesséro”.

Sejarah dan perkembangan rekaman  musik dan lagu Sunda dapat diikuti dari berbagai hasil penelitian. Antara lain, bisa disebutkan, makalah “The Sundanese Traditional Music in Radio Broadcasting, 1930s-1950s” (2001) oleh Shota Fukuoka; “The Relevance of Snouck Hughronje’s recordings of Sundanese Music (1905-1906)” (2011), dan “Some notes on the pantun storytelling of the Baduy minority group: Its written and audiovisual documentation” (2016) oleh Wim van Zanten; Music and media in the Dutch East Indies: Gramophone records and radio in the late colonial era, 1903-1942 (2013) oleh Philip B. Yampolsky; dan The recording industry and ‘regional’ culture in Indonesia: the case of Minangkabau (2016) oleh Suryadi.

Dikutip dari laman Ayo Bandung bahwa tembang  Sunda merupakan musik pertama di Indonesia yang direkam pada mesin bicara  (fonograf). Ini dilakukan G. Tesséro pada 1892. Mengenai hal ini Suryadi  (2016) membuktikannya melalui pemberitaan Selompret Melajoe edisi 27 September 1892. Ahli musik Benjamin Ives Gilman merekam pada piringan fonograf musik gamelan dari Parakan Salak yang ditampilkan pada The World’s Columbian Exposition di Chicago (1893). Rekamannya kini ada di Library of Congress, Amerika Serikat.

Kemudian pada 1905, Snouck Hurgronje merekam rajah pantun Sunda dengan menggunakan piringan lilin (wax cylinder). Hasil rekamannya pada Cylinder I-10, yang disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, berjudul “Djampe njawer. Lagoe Galoeh” (Van Zanten, 2016). Dalam Pantjaran Warta edisi 17 Agustus 1911 ada iklan penjualan 36 piringan Odeon 26201-26236, yang berisi musik Islam dan tembang Sunda serta gambang rancag. Pada Juli 1913, perusahaan asal Jerman, Lyrophon, mengiklankan “Repertoir in allen Kultursprachen” yang di antaranya berupa rekaman musik Sunda. Selanjutnya pada 1930-an, ahli musik Jaap Kunst membuat rekaman musik gamelan dan tembang Sunda pada 78 piringan hitam.

Sejak 1930-an, musik dan teater Sunda dalam bentuk tampilan langsung maupun piringan hitam mulai mengudara dari stasiun radio yang ada di Bandung dan Jakarta. Hal ini seiring dengan didirikannya stasiun radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Matschappij) pada 1934 dan VORL (Vereeniging Oosterse Radio Luisteraars) pada 1935 (Fukuoka, 2001). Tidak heran, bila pesinden dan juru tembang seperti Nji Moersih, Nji Iti Narem, Nji Resna, Nji Mas Djoedjoe, Nji Ito, Nji Anah, Nji Djoelaeha, Nji Mene, Njimas Soehari dan lain-lain sering tampil di corong radio. Demikian pula “bobodoran” atau Ogel Menir Moeda, wayang golek dengan Dalang R.O. Partasoewanda, dan lain-lain.

Fokus kedua, kemunculan dan pertumbuhan industri rekaman Sumatera Barat. Pop Minang sebagai kategori utama produk industri rekaman Sumatera Barat, kini berfungsi sebagai bahasa musikal untuk kebersamaan bagi orang Minangkabau di mana pun.  Fokus ketiga adalah tentang bagaimana industri rekaman Sumatera Barat diasosiasikan dengan kesukuan Minangkabau.

Demikian, tentang berkah  K.H.R. Muhammad Nuh bin Idris, yang  biografi ringkasnya penulis  susun sebagai buku  sederhana dan dihadirkan kepada Dr. Suryadi melalui kebaikan Kang RTH. ***

Madrasah al I’anah-PSS, 2/2/2026

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda/Sejarawan Publik.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *